Saya ini pembosan, kawan. Dan tidak sabaran. Maka jangan heran kalau kau temukan saya suka mencoba banyak hal. Meski demikian, di beberapa bagian pilihan saya tetap bersetia. Maksudnya, saya bisa saja betah dan bertahan di satu keadaan atau pilihan jika itu telah membuat saya cukup nyaman.
Perkara gaya rambut, sejak kecil saya sudah mengidamkan untuk gondrong. Beberapa kali percobaan di sekolah berakhir pada dipangkas paksa pada hari Senin setelah upacara bendera. Akhirnya saya kuliah. Di keguruan, yang mana di sana ada aturan harus berkemeja, celana kain dan rambut rapi sopan. Saya mematuhi itu beberapa kali, tapi setelah berteguh di sastra, aturan-aturan itu sudah tak berarti. Di kampus pun saya makin tua. Aturan sudah boleh dilanggar suka-suka.
Dokumentasi saat masih kuliah semester tua
Pada masa kecil saya mengagumi Abiem Ngesti, penyanyi dangdut yang booming dengan lagu "Dahsyat". Saya benar-benar terjebak di sana dan ingin serupa dia. Di mata saya, dia superstar.
Anggap saja mirip
Saya bergonta-ganti gaya rambut. Sangat sering. Beberapa saya nyaman, beberapa hanya bertahan sebentar. Dan saya cukup sadar, bahwa ada beberapa yang berterima, beberapa dipertanyakan. Tapi saya sedang menikmati masa muda yang bebas lepas tanpa banyak aturan pada peri-penampilan.
Terakhir tak gondrong. 2013
pilihan tetap
betah
Kelak saya tidak gondrong lagi. Mengingat kita ini dari kampung dan hidup di antara orang kampung, maka kelak saya juga harus sadar usia diri. Agaknya hanya tersisa bulan bagi saya untuk bersenang-senang dengan berbagai gaya rambut. Setelahnya, semua akan kembali kepada aturan sejati: berambut rapi. Saya ngeri membayangkan ini.