Jika merdeka diartikan sebagai lepas bebas dari segala penghambaan dan penjajahan, sungguh sebagai manusia, meski sudah hebat dan bertahta, kita tidak pernah benar-benar merdeka. Kita hidup dalam berbagai aturan dan berbagai kemestian-kemestian. Coba lihat dirimu dan siapa saja yang kau anggap sudah berhasil. Bangun pagi hari untuk bekerja, itu berarti mereka atau kita sedang dihambakan pekerjaan yang ada. Bekerja berarti dipaksa ikut aturan. Baiklah, kita sendiri yang membuat aturan. Tentu ini juga harus kau tunduki, kau patuhi dan jalankan. Kau diperbudak aturan: meski sendiri aturan itu kau cetuskan.
Perbudakan dan kekangan belum selesai bahkan misal kau sudah menjadi bos atau pemilik di tempatmu beraktivitas. Sadarkah bahwa sebenarnya kau sedang dihambakan oleh karyawan? Lihatlah, kau berpikir untuk sebuah formula agar mendapatkan untung besar demi bisa melanjutkan roda keberhasilan dan membayar gaji karyawan. Membayar gaji karyawan? Ya, kau bekerja untuk mensejahterakan mereka karena tanpa itu mereka tidak akan bekerja untuk mensejahterakanmu. Perbudakan Mutualisme.
Kita bertanya, apakah ada kemerdekaan sejati? Merdeka mutlak tanpa kekangan dan aturan sama sekali?
Waktu mengaji di kampung bertahun silam, saya pernah mendengar sepotong ujar bijak bestari bahwa kemerdekaan sejati ternyata letaknya di hati. Nama lain dari kemerdekaan adalah syukur dan tawakal. Jika kau mendapatkan makna sebenarnya dari dua nama itu, maka telah merdekalah kamu.
Syukur bisa diartikan sebagai rasa berterima kasih atas segenap kelebihan rezeki, posisi, dan sebagainya yang dititipkan oleh Tuhan kepada kita. Orang yang bersyukur senantiasa merasa tenang hidupnya. Syukur juga berarti menerima dengan lapang hati setiap perkara yang telah ditetapkan Rabbana.
Ia akan menganggap pekerjaan sebagai rahmat, maka dikerjakan dengan sukacita. Aturan dianggap sebagai garis pembatas dan pengingat agar ia bisa mendapatkan hasil yang halal dari pekerjaannya. Dan ketika seseorang menerima tugasnya sebagai rahmat, ia tidak lagi merasa terkekang dan tersiksa. Di sanalah letak salah satu kesejatian merdeka.
Yang tak bersyukur tak akan merasa cukup. Diberikan untuknya sekolam madu, dipintanya dua. Diberi dua, dikejar tiga. Begitu seterusnya. Dia benar-benar diperbudak nafsunya. Dipostingnya sebuah karya bagus, mendapatkan voting sedikit segera protes, kecewa. Diberi votingan besar, berharap lebih besar. Membanding-bandingkan pendapatan yang ia dapatkan dengan yang lain. Padahal ada banyak pengkarya lain yang masih merangkak-rangkak di belakangnya mendapatkan hasil kecil tenang saja. Syukur membuatmu tak memaksakan diri mendapatkan segala-gala.
Sementara tawakal berarti menyerahkan segala kebaikan dari setiap pilihan dan hasil usaha ke haribaan Rabbana. Ingat, hasil setelah usaha. Beri yang terbaik demi mendapatkan hasil baik. Kau posting sebuah karya bagus namun mendapatkan sedikit votingan, tetap tenang. Kau mesti percaya itulah rezeki yang dilimpahkan untukmu oleh Dzat Mahadaya.
Kemerdekaan sejati tak lebih dari ketenangan. Sebab sebagai ciptaan yang memiliki Rabb dan atau hidup normal kita tak luput dari aturan yang mengharuskan. Mustahil lunas darinya. Tapi tenang dan bahagia dengan segala yang diberi dan yang dimiliki, kita bisa. Merdekalah kita. Lepas dari segala beban yang mendera sebab tak bersyukur dan tak tawakal pada setiap yang ditentukan semesta raya.