Jika kau menemukan seseorang yang pernah dihina, difitnah, dikatai macam-macam, dijatuhkan, namanya dicemarkan tapi ia masih tetap membalasnya dengan senyum dan kebaikan, maka sungguh ia itu telah berjiwa sultan. Demikian disampaikan padaku oleh bang . Dan aku telah menjadi saksi atas beberapa perlakuan serta pembalasan. Aku telah melihat beberapa orang berjiwa sultan.
Dimusuhi, hendak dihancurkan, dicela dan diperlakukan dengan hina di semesta ini mestinya adalah cerita biasa. Namun kadarnya tidak pernah sama. Mungkin yang berlaku demikian padamu hanyalah dalam kadar kecil, Tuhan tahu hatimu lemah, ia berikan untukmu alakadar. Tapi nun di sana, bagi mereka yang berjiwa digdaya, cobaan demikian datang dalam bentuk air raya. Bah dari laut. Menghantam hancurkan segala sudut.
Pernah kau dengar kisah tentang seorang pemuda yang dibenci kaumnya hanya sebab ia berpikir lebih jauh dan terbuka? Dia ditinggalkan sendirian, dikucilkan, namanya ditulis di setiap sudut jalan sebagai wujud penghinaan, di setiap warung kampung namanya disebut sebagai pengkhianat paling menjijikkan. Saya pernah mendengar kisah tersebut. Pemuda yang ditinggal kaumnya itu harus menyelamatkan diri sendiri dengan kekuatan yang dicukup-cukupi. Tidak punya seorang pun yang bisa diajak kompromi.
Namun waktu kemudian berkata, cukup sudah cobaan untuknya ditumpah. Dia sudah lulus dari ujian. Telah masa Tuhan membuka pintu kemenangan. Pelan-pelan di jalan ia dikaruniai teman berdampingan. Semakin jauh, kian ramai. Dia telah mendapatkan tempat mulia sebagai pejuang kenamaan. Dan bila kau lihat bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang meninggalkannya pada masa buruk lalu, kau akan terkejut. Dia tetap membuka pintu bagi mereka yang tiba padanya sebagai teman bersatu. Dianggapnya bagian pergerakan untuk terus maju.
Lalu datang padaku seorang lelaki lata membawa kabar ia sedang dibenci sehimpun teman. Diserang berbagai cara, ingin ditandaskan namanya dari berbagai kata. Namun, bisa apa orang ramai itu? Semesta menabur anugerah pada lelaki lata, temanku. Dia menang. Namanya tetap berkibar. Dan bagaimana ia perlakukan sehimpun temannya yang pernah bersikap jahannam? Tetap tenang dan menerima duduk sila mereka di atas tilam. Jiwa besar. Sungguh mengagumkan.
Bila masa dan keadaan itu tiba padaku, akan kucari siapa pangkal perkara. Dan akan kubenci sampai si pembuka masalah itu mati atau nyawaku diambil oleh utusan Rabbana. Seperti dulu, ketika seorang menyalakan api kebencian untukku bertahun-tahun dan pada beratus-ratus anak muda yang tiba padanya itu dengan harapan aku hangus di tungku.
Barangkali ia berharap aku tidak berani menyelesaikan perjalanku. Atau mungkin ia bercita aku akan mengambil jalan lain di akhir waktu. Nyatanya tidak. Perjalananku tuntas juga. Perjuangannya selama bertahun-tahun mencemari namaku ternyata sia-sia belaka. Menyedihkan.
Sekarang ia sedang meringis di halaman menyaksikan langit tempat aku berpijar, sebagai bintang terang. Aku yakin, sampai mati pun ia berusaha, tidak akan ia dapatkan tahta seperti yang kudapatkan hari ini. Sombongkah aku? Tentu saja. Sebab sombong kepada orang berhati nista adalah memberinya pelajaran. Dan memberi pelajaran adalah amal. Khusus untuknya, aku tidak akan pernah berjiwa sultan.
Dan suatu ketika kemudian, aku juga pernah mendapat perlakuan jahannam. Seorang yang tak tahu menahu tentangku menyampaikan fitnah buruk. Dia mengingatkan seorang pejalan setia agar berhati-hati berjalan denganku. Katanya aku pembunuh paling tega. Bahkan aku membunuh seorang yang telah berjasa. Cuih, berjasa. Dia tidak tahu saja bagaimana aku menderita. Papma!
Serta sebagian peratap yang menyedihkan pernah mencoba menyerang. Aku terbunuh? Tidak. Nyatanya aku bisa duduk di hadapan mereka di atas singgasana.
Sungguh waktu segera membuka pintu pembalasan. Ingin sekali kubalas mulut busuk dan sikap buruk itu dengan cara paling kejam. Aku punya kesempatan. Di beberapa ruang, aku punya peluang sangat besar. Dan jika aku mau, mudah saja seranganku tak tertepis dan tak terbalaskan.
Di pintu pembalasan, pedangku tajam, lawan tak bersenjata, mestinya kubunuh saja mereka. Tapi tidak. Biarlah waktu kelak membisikkan pada mereka kebenaran. Bahwa yang pernah mereka hina adalah seorang yang sedang belajar mencari jiwa sultan. Tapi tunggu dulu, jika sekali lagi kudengar suara penghinaan itu terngiang, jika pun tak kupisahkan kepala dan badannya dengan pedang, setidaknya ada banyak jengkal tanah yang tak lagi menerima langkah mereka dipijakkan.