Awwalu kalam, ini semata ditulis demi mengingatkan diri saya yang lata dan awam.
Sungguh, salah satu kebaikan yang dicintai semesta tapi terlalu enggan kita lakukan adalah mendoakan teman-teman kita diberikan kelebihan segala-gala. Sementara itu, salah satu kebaikan lainnya yang sulit juga kita laksana adalah bersikap ikhlas melihat teman kita sejahtera. Untuk kedua kebaikan ini dibutuhkan hati yang baik dan pikiran tak picik.
Mengharapkan dengan tulus agar terbuka pintu kebaikan bagi orang lain, bahkan melebihi kita, sungguh bukan perkara sederhana. Mudah diucapkan, namun sulit dilakukan dengan ketulusan. Bahkan untuk teman, belum lagi sampai ke tahap mendoakan musuh agar untuknya dilimpahkan kesejahteraan. Kita ini, saudara-saudara, ternyata tak lebih dari makhluk kecil, serakah dan picik. Selalu mengutamakan diri, bahkan tak mau berbagi pinta untuk teman sendiri.
Pernahkah kita merenung lalu menyusur hingga sudut terdalam hati? Jika pernah, dapatkah kita temukan kenyataan pribadi? Bukankah benar kita ini makhluk yang memang sangat tamak dan egois? Ingin terus dilimpahkan segenap kebaikan, meski sudah tumpah ruah dari cawan kemestian. Di sisi lain, celakanya kita juga sering silau serta tidak pernah tenang melihat orang lain diberi kelebihan lalu mencoba mengejar untuk menyatakan diri juga punya kemampuan.
Apakah sudah tenang hatimu melihat temanmu mendapatkan hasil dari apa yang ia peluh-resahkan, dari gerak yang sekian masa telah ia keluh-kesahkan? Atau kau merasa ia belum layak sebab mungkin bagimu perjuangmu lebih melelahkan?
Tenangkan hatimu dengan keyakinan bahwa Tuhan Maha Tahu kepada siapa suatu nikmat diberikan. Tuhan Maha Paham siapa yang layak dan belum atau tidak layak sebuah nikmat dianugerahkan. Jika masih belum tenang, lafazkan doa-doa agar Tuhan memberikanmu kebaikan hati. Belum tenang juga, ajaklah diri untuk berusaha lebih keras lagi. Masih tak mendapatkan hasil baik, usaha lagi. Tidak juga, pindah profesi. Mana tahu Tuhan meletakkan nikmat untukmu di lain pertiwi.
Dan sungguh, mendoakan orang lain diberi kebaikan adalah hal istimewa. Betapa spesial-nya kamu diciptakan Rabbana. Apakah sulit mengucap sebaris harap demi orang lain? Mestinya tidak, tapi nyatanya iya. Di setiap doa yang kita kirimkan ke haribaan Rabbana, kerap nama kita saja yang kita sodorkan ke sana. Yang kita pinta keberkahan kita saja, yang kita minta dilimpahkan kemuliaan kita saja, yang kita minta dimudahkan segala urusan kita saja, dan semua permintaan lainnya. Semua hanya untuk kita saja. Hanya yang mungkin sedikit kita limpahkan permintaan bagi keluarga. Doa bagi orang lain hanya terselip dalam jamak kasar, muslimin wal muslimat, mukminin wal mukminat. Secara khusus? Tidak ada. Duhai, betapa sempit limpahan doa kita. Jika sesekali luas, itu pun atas pinta lafaz doa, luas tak berhingga.
Pernahkah sesekali kau mendoakan khusus teman-temanmu? Mendoakan dalam artian sebenar-benarnya. Mengucap lirih kepada Dzat Mahadaya agar untuknya dilimpahkan kebaikan-kebaikan. Dengan tulus, khusus dan khusyuk. Bukan hanya menulis di media sosial atau berkirim pesan kepadanya padahal hati tidak ikut melafazkannya?
Atau pernahkah kita mengharapkan kebaikan untuk seseorang ditumpahkan semesta tanpa mengharapkan imbalan dari limpahan itu? Pernahkah kita menjadi orang yang diam-diam mengetuk pintu langit agar seorang teman yang sedang paceklik dilimpahkan hujan dan ketika hujan turun kita tidak ingin serta tidak akan mengutipnya bahkan setitik tempiasan?
Kita memang harus sering kembali ke hati. Bertanya pada diri sendiri sudah seberapa berguna kita bagi orang lain. Sudah seberapa bersih kita punya batin. Seberapa ikhlas sanubari? Seberapa lepas kita dari segala yang menjadi cela nurani.