HARI ini, Si Abang, Arza meminta dibelikan sepeda baru. Sepedanya sudah terlalu kecil. Ketika dia mengayuh sepeda, maka lututnya berbentur dengan stang. Sulit baginya mengayuhnya.
Permintaan sepeda ini sebenarnya sudah sebulan lalu. Namun, kami tak pernah mau memenuhinya. Bagi saya, dia harus menunjukan prestasinya baru bisa melakukan permintaan. Pengajuan proposal pembelian sepeda ini pun diajukan dulu.
Syarat utama agar bisa beli sepeda dia harus menyelesaikan Iqra 1. Semalam saya menguji bacaannya. Ah, ternyata dia sudah berhasil. Meski sesekali ragu-ragu membaca huruf hijaiyah itu. Tapi, dia sudah bisa.
Karena itu pula, hari ini dia membeli sepeda. Sebelumnya, saya menyisihkan sebagian pencairan steem dollar yang diperoleh lewat aplikasi steemit ini buatnya. Uang itu diberikan ke Arza, lalu dia menabungnya. Kedua putra saya memiliki celengan. Si abang celengan berbentuk nenas, si adek berbentuk kelinci.
Maka, uang dari steem dollar itu pun diambil. Celengan dibelah. Total celengannya Rp 3 juta. Sebelum Jumat tadi, kami membawanya berbelanja sepeda. Toko Hidayah, langganan kami di pusat kota.
Lalu, si abang memilih sepeda. Si adek tak mau ketinggalan. Meski belum lancar berbicara, si adek meminta dibelikan sepeda. Dia naik sepeda mini.
Si abang memilih sepeda lebih besar. Maka, si abang bilang “kasihan adek, belikan aja sepeda itu untuk dia satu. Pakai uang celengan abang, jadi abang yang belikan buat adek,” katanya.
Saya senang mendengar kalimat itu. Walau masih kecil, dia sudah tahu, mereka harus diperlakukan sama. Kalau abangnya dapat sepeda, adiknya harus juga. Tak ada uang si adek, maka si abang yang bertanggungjawab.
Semoga sampai dewasa mereka begitu. Si abang harus bertanggungjawab pada adiknya, si adek juga sebaliknya. Maka, jadilah uang celengan dari steem dollar itu dibelikan sepeda. Harganya keduanya masih murah, Rp 1.050.000. Masih ada sisa tabungan si abang. Sisa itu besok pagi, kata si abang akan diberikan ke sekolah. “buat tabungan di sekolah,” katanya.
Catatan Jumat, 16 Feberuari 2018