Foto bersama di puncak Gereutee | Foto: dokumen pribadi
TELEPON seluler merek Nokia jadulku tak berhenti berdering. Begitu saya buka, ternyata Zulfurqan, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) sudah menelepon beberapa kali.
“Bang Boy nggak jadi berangkat? Kami dengan Pak Yarmen sudah dari tadi menunggu di sini,” tanya Zulfurqan. Mataku langsung tertuju ke arah jam di dinding.
“Bukannya berangkat pukul 8.00 WIB? Ini kan masih pukul 07.10,” aku balik bertanya.
“Kan sudah diberi tahu di grup semalam, pukul 07.00 WIB harus sudah berada di warung nasi Pak Rasyid,” timpalnya lagi.
Astagfirullah! Rupanya saya tidak melihatnya. Dalam pikiran saya, berangkatnya pukul 08.00 WIB. Padahal malamnya sudah dikabari ulang bahwa berangkat pukul 07.00 WIB. Akibat kecepatan tidur, saya tidak melihat lagi pesan-pesan terakhir di grup WhatApps.
Pada malam itu juga ada pengumumam pemenang lomba menulis di Steemit yang diselenggarakan Kurator Indonesia, . Saya termasuk salah satu pemenangnya yaitu juara III. Pada paginya baru saya ketahui, itu pun karena diberi tahu Zulfurqan.
Segera siap-siap, lalu aku hidupkan motor vixionku, kukebut dengan kecepatan tinggi. Dari Lambaroan ke depan Masjid Raya Baiturrahman sekitar 10 menit. Andai lima menit lagi tidak tiba di sana, mungkin mereka sudah berangkat. Aku begitu menyesal.
Tujuan kami ke Aceh Jaya hari itu untuk mendeklarasikan Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Aceh Jaya. Dari Banda Aceh yang ikut ke sana yaitu saya, guru kami Yarmen Dinamika yang juga selaku pembina FAMe dan tiga anggota FAMe lainnya yaitu Zulfurqan, Zopan dan Amiruddin alias Abu Tumieng.
Yarmen bertanya kepadaku, apakah sudah sarapan? Saya menjawab belum sarapan, nanti di jalan saja saya sarapan karena sudah telat. Ternyata Pak Yarmen telah membelikan saya sebungkus nasi gurih dengan menu ayam rendang dan telur dadar.
Ke sana kami menggunakan mobil Yarmen jenis Innova keluaran terbaru (reborn) warna silver. Yarmen mengemudi dengan kecepatan rata-rata antara 70-80 km per jam. Dalam perjalanan kami sempat singgah di tempat-tempat yang menurut kami menarik, seperti di puncak gunung Gereutee.
Dari atas Gereutee, tampak pemandangan laut yang sangat indah. Terlihat garis pantai dan dua pulau kecil yang memesona. Ditambah lagi monyet-monyet yang jinak membuat kami terhibur seraya berfoto-foto.
Pembina FAMe Yarmen Dinamika sedang memberi umpan kepada monyet | Foto: dokumen pribadi
Kami sempat berdiskusi sendainya pulau seperti itu berada di luar negeri seperti Eropa, pasti sudah dijadikan tempat wisata yang eksotis dan elit. Namun sayangnya, ini bukan Eropa, tapi Aceh. Provinsi bekas konflik dan tsunami ini belum mampu meyakinkan investor untuk berinvestasi di daerah tersebut.
Usai minum kelapa muda sejenak di Gereutee, kami melanjutkan perjalanan ke Calang. Jalannya berliku-liku. Di sisi kiri jalan ada jurang yang dalam. Sesekali sempat terhenti ketika ada truk-truk besar muatan penuh. Kami harus berhati-hati menuntun di belakang. Jika tiba-tiba truk itu mundur, tamatlah kami.
Kisah Hasan Tiro dan Adnan Ganto
Banyak hal yang menarik dalam perjalanan ke sana. Apalagi berangkatnya bersama wartawan senior seperti Yarmen, semacam mengikuti kuliah 10 SKS dengan doktor. Selain piawai dalam menulis dan penyunting yang baik, guru kami yang satu ini juga mampu bercerita dengan detail dan mengalir. Ia mampu mengingatkan nama-nama tokoh dan tempat yang ia narasikan.
Yarmen banyak menceritakan tentang orang-orang Aceh yang hebat di luar negeri, mulai dari Hasan Tiro hingga Adnan Ganto. Penulis buku Aceh Bersimbah Darah ini banyak tahu tentang konflik Aceh yang begitu dilematis. Ia tahu bagaimana perjalanan Hasan Tiro ketika mulai memberontak.
Katanya, pemberontakan Hasan Tiro berawal ketika mengetahui adanya pembantaian terhadap 92 warga sipil di Pulot, Cot Jeumpa Leupung, Aceh Besar dari salah satu surat kabar di New York. Pembantaian oleh serdadu Republik Indonesia itu terjadi pada 26 Februari 1954. Hal ini terjadi akibat ditembaknya belasan prajurit Indonesia oleh mujahidin DI/TII Aceh dua pekan sebelumnya.
Serdadu marah dan menginterogasi warga setempat hingga mengiring mereka ke pinggir laut dan menembak mereka semua. Hanya satu orang tersisa karena ia punya ide berpura-pura mati dengan mengambil darah korban lain menempelkan di badannya.
Yang selamat tadi, dialah yang mengungkapkan kepada Pimred Harian Peristiwa, Achmad Chatib Ali di Banda Aceh untuk disiarkan hingga dikutip media-media luar negeri. Dari informasi tersebut Hasan Tiro marah besar dan mengancam RI, meminta mengakui perlakuan mereka itu adalah genosida etnis serta mendesak RI meminta maaf atas kelakukan mereka. Di situlah awal mula Hasan Tiro membangkang terhadap RI, padahal Hasan Tiro sendiri saat itu di Amerika sebagai pejabat utusan RI.
Selain itu kisah Hasan Tiro, Yarmen juga menceritakan kisah pertemuan pertamanya dengan Adnan Ganto. Awalnya ia diminta menjadi moderator, namun setelah Adnan mengetahui kemampuan editing Yarmen, akhirnya ia diminta mengedit kesalahan-kesalahan dalam buku Adnan yang berjudul “Keputusan Sulit Adnan Ganto”.
Bukan itu saja, cukup banyak cerita yang mengalir selama tiga setengah jam perjalanan tersebut. Kami semua ternga-nga mendengar banyak hal yang belum kami ketahui sebelumnya. Termasuk cerita upaya dia melewati pos-pos militer masa Daerah Operasi Militer (DOM) ketika menginvestigasi biaya perjalanan Suharto ke Aceh lebih besar dari bantuan yang diberikan.
Yang menariknya lagi, cerita tentang Prof Alyasa’ Abubakar ketika pertama menjadi Kadis Syariat Islam di Aceh. Ia meminta Yarmen menyosialisasikan syariat Islam dengan ringan dan mudah melalui Tabloid Kontras. Model sosialisasi yang disepakati yaitu Teka Teki Silang (TTS). Pertanyaan yang disediakan seputar syariat Islam, jika masyarakat mampu menjawab semuanya akan memperoleh hadiah.
Yarmen juga menjelaskan mengapa Prof Alyasa’ membuat qanun khalwat, maisir dan khamar menjadi patokan pelaksaanaan syariat Islam di Aceh, padahal syariat Islam itu harus masuk di berbagai aspek termasuk muamalah.
Saya sendiri baru tahu, bahwa alasan tersebut sangat logis menurut saya. Pengakuan Yarmen bahwa alasan Prof Aliyasa membuat tiga qanun tersebut berdasarkan kondisi sosial masyarakat Aceh. Jika tidak aspek itu sudah teratasi dengan baik, maka perilaku-perilaku masyarakat lainnya akan teratasi.
Di Aceh sering kejadian jika ditemukan pasangan khalwat akan dimandikan air comberan, bahkan amukan massa, sehingga dengan adanya aturan qanun tersebut menghindari penghakiman warga terhadap korban.
Kami tiba di Calang sekitar pukul 11.30 Wib. Muhsinuddin sudah menunggu bersama timnya di sana. Kami diajaknya menikmati kopi di Orange Cafe yang letakknya di pinggir pantai. Angin yang berembus pelan, seakan menghilangkan kelelahan kami menempuh perjalanan tiga setengah jam tersebut.
Setelah sekitar satu jam di sana, baru kami mencari warung nasi untuk makan siang dan mencari masjid untuk salat Zuhur dan Asar (jamak). Yarmen ganti baju, karena ia akan bertindak sebagai deklarator FAMe sekaligus menjadi pemateri, sedangkan kami hanya penggembira saja.
FAMe Chapter Aceh Jaya Terbentuk
Saat kami tiba di tempat acara tepat pukul 14.00 WIB belum banyak peserta yang hadir. Sambil membantu panitia memberes-bereskan tempat, satu persatu peserta mulai berdatangan memenuhi ruangan hingga datang Wakil Bupati Aceh Jaya Tgk Yusri Sofyan, Pemateri kedua Azhar Abdurrahman, Kadis Pendidikan Aceh Jaya dan beberapa tamu undangan lainnya.
Acara berlangsung dengan tertip. Setelah sambutan sekaligus deklarasi oleh Pembina FAMe dan dibuka secara resmi acara launching Forum Aceh Menulis Chapter Aceh Jaya. Sejak saat itu, FAMe bertambah satu lagi cabangnya setelah sebelumnya telah dideklarasikan di Lhokseumawe, Meulaboh, Pidie Raya dan akan menyusul beberapa daerah lain seperti Bireuen, Aceh Besar dan direncanakan cabang Jakarta.
Saat memberi materi, Yarmen memotivasikan para FAMer Aceh Jaya pentingnya menulis dan nilai keabadian dalam menulis. Ia tak lupa memperkenalkan platform Steemit yang menjadi media berbasis blogchain masa kini, dimana setiap postingan akan mendapatkan reward dari pembaca.
“Menulis itu bukanlah bakat, melainkan usaha yang terus diasah. Dalam perkembangan ilmu neurologi dan pendidikan menunjukkan bahwa lebih dari 80% kecerdasan dibangun oleh lingkungan melalui latihan, pembiasaan, dan apresiasi,” ujarnya.
Acara selesai pada pukul 17.30 Wib. Peserta tampak sangat antusias. Hal itu terlihat ketika diskusi mau diakhiri, masih terus ada yang ingin bertanya. Namun diskusi tetap harus ditutup mengingat kami serombongan harus pulang karena sudah hampir magrib.
Sebelum beranjak meninggalkan Calang, penggagas FAMe Chapter Aceh Jaya, Maitanur mengajak kami minum kopi terlebih dulu. Sambil menikmati mi aceh, Yarmen menjelaskan fungsi KKBI online kepada Maitanur dan beberapa peserta yang ikut ke sana.
Mogok Mobil
Hari sekamin senja, matahari pelan-pelan kembali ke peraduannya. Kami bergegas tancap gas kembali ke Banda Aceh. Yarmen mengonfirmasi bahwa bahan bakar mobil sudah minim. Kami memutuskan untuk mengisi di Lamno saja.
Dalam perjalanan usai salat Magrib, tiba-tiba menyala lampu kuning pada speedometer bertanda harus mengisi bahan bakar. Khawatir tidak sampai ke Lamno, akhirnya diisi pertalite yang dijual eceran di pinggir jalan di daerah Lhok Geulumpang, Setia Bakti Aceh Jaya.
Begitu distart, mobilnya tak mau lagi hidup. Startnya tak terkoneksikan dengan baterai. Kami sempat menduga pertalite yang kami isi dicampur dengan minyak tanah. Secara logika tidak mungkin mobil yang baru berusia lebih kurang dua tahun itu bermasalah dengan baterai, pasalnya lampu mobil semua hidup, hanya starter saja tak mau menyala.
Malam semakin gelap. Kami mencoba mendorong, namun tak berhasil juga. Kami minta tolong penjual bahan bakar tersebut mencarikan mekanik terdekat, juga tidak ada, yang ada hanya mekanik mesin solar. Jadi mereka tak mampu dengan mesin yang berbahan bakar premium dan sejenisnya.
Tiba-tiba, Maitanur bersama keluarganya lewat. Ia melihat kami berhenti, ia menghubungi langsung menghubungi Yarmen memastikan apakah benar mobil kami yang mogok di pinggir jalan itu. Ia pun berputar arah menuju tempat kami berhenti.
Untung saja, suami Maitanur, Faisal punya kenalan dengan mekanik. Setelah diceritakan permasalahan yang kami alami, si mekanik menyarankan untuk mendorong agar hidup, tapi dengan syarat, ditekan kopling dan memasukkan gigi dua atau tiga, sambil didorong disuruh lepaskan kopling serta dibantu dengan start. Alhamdulillah, mobil pun kembali hidup.
Kepanikan yang dari tadi menyelimuti kami pun hilang seketika. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Banda Aceh. Yarmen tampak mulai lelah karena menyetir pulang-pergi. Terpaksa istirahat sejenak di sebuah warung kopi di pinggir jalan.
Usai menikmati secangkir minuman hangat, kami melanjutkan perjalanan. Tiba di daerah Geureutei jalannya licin pascahujan. Kami harus kembali berhati-hati karena sangat berbahaya.
Seperti saat berangkat, Yarmen terus bercerita pengalaman-pengalamanya mulai dari ketika ia kerja dengan Badan Reintegrasi Aceh (BRA) hingga cerita mistis dan spiritual ketika ia masih kecil. Terutama cerita kontroversi makam ulama besar Hamzah al-Fansuri.
Tiba di Banda Aceh sekitar pukul 00.30 Wib. Kami belum makan malam usai makan mie di Calang. Kami singgah di warung nasi goreng Daus. Di situlah akhir perjalanan kami hari itu. Begitu mau balik, mobil kembali berulah, terpaksa kami dorong sekali lagi.
Tampak wajah lelah sambil makan malam di warung nasih Daus Peunayong
Keesokannya, mobil Pak Yarmen dibawa ke bengkel di Peunayong. Ia mengonfirmasi bahwa bukan dinamo starter yang bermasalah, melainkan baterainya yang sudah soak.
Itulah sepenggal cerita perjuangan kami mendeklarasikan FAMe Chapter Aceh yang penuh rintangan dalam menyebarkan ruh literasi ke pantai Barat Selatan. Biarpun demikian, kami sangat menikmatinya. Kami puas dengan apa yang kami lakukan.[]