inhale
exhale
Sip, saya udah lebih tenang dari kondisi saya yang sebelumnya. Beberapa waktu belakangan saya merasa sedang di rock bottom dan nggak termotivasi untuk melakukan apa-apa sama sekali. Banyak praduga kalau sebenernya saya depresi. Saya nggak yakin apakah itu benar atau salah, tapi yang saya alami memang cukup bikin saya emotionally exhausted.
Saya dipecat, lagi. Iya, ini untuk yang kesekian kalinya. Rasanya memang menyesakkan, apalagi saat pekerjaan tersebut menjadi satu-satunya harapan saya untuk menyambung hidup. Walaupun tanpa disadari, sebagai freelance, saya punya project-project lain yang masih bisa saya andalkan. Tapi tetap saja, saat satu project besar diputus kontrak, saya jelas sedih. Banget. Sedih banget sampe saya nangis sesenggukan sedari tadi pagi, tepat setelah menerima kenyataan pahit bahwa saya diputus kerja karena kebijakan baru dari perusahaan.
Ini memang bukan yang pertama kalinya. Saya sudah 2x diputus kontrak dan tidak diperpanjang lagi karena kebijakan perusahaan yang ingin memangkas ini itu dengan tidak mempekerjakan saya lagi. Kenyataan ini memang sungguh pahit apalagi saat saya merasa kinerja saya oke-oke saja. Saya melakukan kesalahan, pasti. Namun bukan berarti itu bisa lantas dipukul rata sebagai nilai bahwa saya pekerja yang buruk.
Sebagai pekerja, saya akui kalau saya tidak sempurna. Tapi menjadi pekerja freelance, rasanya memang berbeda sekali. Tidak ada istilah SP atau surat peringatan selama bekerja freelance. Performa menurun, resiko di-cut off akan semakin tinggi. Tidak ada kesempatan untuk babibu bernegosiasi. Kalau memang dirasa tidak bisa dilanjutkan, ya sudah, tidak akan lanjut.
sigh
Ini memang fase denial. Saya baru saja menaruh harapan terlalu besar pada sesuatu yang tak pasti. In fact, nggak ada yang pasti di dunia ini, termasuk masalah pekerjaan. Saya pernah beropini tentang seberapa amankah pekerjaan yang dianggap aman di blog saya (http://www.honeyvha.com/2017/12/the-safe-job.html). Turns out, there's no guarantee of safety in any kind of job. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha semaksimal mungkin dan bersikap nothing to lose saat memang pekerjaan tersebut tidak jadi jalan rejeki kita lagi.
Well, pelan tapi pasti, saya yakin kalau saya akan move on dan mulai menerima kenyataan bahwa memang itu bukan rejeki saya. Dengan menulis di sini, saya merasa cukup lega. Seperti baru saja membuang sebongkah batu dari dalam hati ke layar laptop, namun nggak bikin layar laptop pecah. HAHAHAHAHA.
As what people said, writing is healing. I heal, slowly. I think I'm ready to begin again. One door closed, thousands of others wait to be opened. I'm sure I will open at least hundreds of them ASAP. Muehehehehe.