Kali ini dalam Indonesiachallenge6 tentang Destinasi Wisata, saya mengambil topik dalam penulisan saya sebuah rumah adat Aceh yang selama ini dirawat dengan baik, walaupun kurang perhatian dari pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Mungkin sahabat steemit bertanya-tanya, kenapa saya lebih memilih menulis cagar budaya rumah Cut Meutia sebagai pembahasan dalam mengikuti Indonesia callage. Alasannya sangat simpel, karena ini salah satu cagar budaya yang memiliki ruhnya.
Saya juga mengakui keindahan wisata Lancok di Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten aceh Utara yang semakin hari semakin ramai pengunjungnya, walaupun ini juga salah satu tempat wisata yang berada di daerah saya sendiri. Dan tempat wisata lainnya seperti Pulau Rubiah yang terletak di Sabang yang dikenal dengan keindahan bawah lautnya. Pantai Iboih yang sangat fenomenal dan dikenal sebagai pantai paling indah di Aceh.
Kemudian air terjun Blang Kulam yang terletak di desa Sidomulyo Kecamatan Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara yang tempatnya masih sangat asri dan terjaga dengan baik. Air terjun Suhom di Aceh Besar yang perjalanannya melintasi pegunungan Kulu dan Paro.
Tempat wisata lainnya yang banyak dikunjungi oleh pengunjung, baik pengunjung dalam daerah maupun luar daerah seperti Gunung Burni Telong di Bener Meriah, Pulau Sumadu di Kota Lhokseumawe, Seulawah Agam di Aceh Besar, Cagar Alam Jantho dan air terjun Peukan Bilui juga di Aceh Besar. Danau Laut Tawar di Takengon, Pantai Lhoknga dan tempat lainnya.
Menurut penulis, sebenarnya ada beberapa tempat wisata di Aceh juga yang memiliki nilai dan ruhnya yang lebih tinggi atau setara dengan Rumah Aceh Cut Meutia, seperti Mesjid Raya Baiturrahman dan Museum Tsunami yang berada tepat di jantung Propinsi Aceh, yaitu di Kota Banda Aceh. Rumah Cut Nyak Dien juga di Banda Aceh, Benteng Iskandar Muda yang terletak di desa Ladong Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Makam Sultan Malikussaleh dan Putroe Nahrisyah yang berada di Geudong, Aceh utara. Dan tempat-tempat lainnya yang memiliki ruhnya.
Ruh yang penulis maksud disini adalah memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, sejarahnya pun bukan ilustrasi ataupun cerita penduduk setempat yang sudah meyakini secara turun temurun, namun tidak bisa dipastikan kebenaran dari cerita tersebut.
Salah satu ukiran di tugu Cut Meutia yang berada dalam komplek Rumah, yang melambangkan keberanian Cut Meutia.
Cut Meutia adalah salah seorang pejuang wanita dari Aceh yang telah diakui sebagai pahlawan nasional Indonesia, yang sekarang nama dan fotonya sudah resmi berada pada bagian depan uang kertas pecahan seribu rupiah, yang telah dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI), pada hari Senin tanggal 19 Desember tahun 2016. walaupun masih terjadi kotroversi dan polemik di masyarakat Aceh tentang wajah asli dan pakaiannya (tanpa penutup kepala).
Cut Meutia yang memiliki nama lengkap Cut Nyak Meutia, lahir di Keureuto, Pirak, Aceh Utara tahun 1870 adalah sosok pemberani, tekat yang kuat dan semangat juang tinggi dalam melawan penjajahan Belanda. Keberanian beliau sama halnya dengan pejuang Aceh lainnya, seperti Teuku Umar, Teungku Chik di Tiro, Panglima Polem, Teuku Nyak Arif, Cut Nyak Dien, Pocut Baren, Teungku Fakinah, Laksamana Malahayati, dan para pejuang Aceh lainya.
Rumah Cut Meutia sebagai tempat wisata yang memiliki ruh sejarah yang sangat tinggi, yang penulis maksudkan disini adalah berada di Dusun Tgk di Dayah, Gampong Mesjid Pirak, Kecamatan Pirak Timu Kabupaten Aceh Utara.
Karena tertantang dengan penulisan Indenesiachallenge#6 tentang Destinasi Wisata. Pada hari Sabtu tanggal 8 Juli 2017 penulis mengajak seorang sahabat , untuk melihat kembali suasana rumah Cut Meutia dan mengambil secara lansung gambar rumah dan seluruh isi yang ada.
Rumah Cut Meutia yang jauh perjalanannya mencapai 40 Km kalau kita berangkat dari Kota Lhokseumawe, namun karena penulis bertempat tinggal di Gampong Blang Bayu, Kecamatan Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara. Jarak tempuh yang harus penulis lalui adalah sekitar 30 Km, atau dengan waktu tempuh 1,5 jam wib mengunakan kereta Vicion dengan kecepatan rata-rata 60 Km/jam.
Rumah Cut Meutia terlihat dari depan.
Rumah Cut Meutia terlihat dari samping kiri
Rumah Cut Meutia terlihat dari sudut 45° samping kanan
Rumah Cut Meutia terlihat dari belakang sudut 45° samping Kanan.
Kami sampai ke tempat rumah Cut Meutia sekitar jam 13.00 wib, kami melihat kekiri dan kekanan, terdapat 2 kios kecil yang berjualan minuman se-ala kadarnya. Satu kios yang tepat berada di gerbang masuk ke dua dan itu kios pertama yang berada di seputaran rumah Cut Meutia.
Kios satunya lagi berjarak 8 meter dari kios yang pertama, di sana terdapat beberapa pemuda yang lagi duduk dan bercanda sesama mereka, namun pas kami sampai pandangan mereka tertuju pada kami semua, karena hanya kami yang baru sampai untuk mengunjungi rumah Cut Meutia.
Kondisi salah satu kios yang berada di depan Rumah Cut Meutia.
Saya berbisik pada kawan saya, kita bertanya dulu, dimana kita duduk. Secara spontan kawan ku menjawab, "kita duduk di kios ini saja", maksud kawanku adalah kios yang pertama, karena menurutnya sama saja, lagian kios yang pertama tampak sepi.
Di kios yang pertama hanya seorang gadis yang menjaga kiosnya duduk termenung, sesekali melihat hp nya, dia kira kira berumur 19 tahun, berbadan langsing, berparas cantik, dengan hidung sedikit mancung, warna kulit sangat indah, yaitu warna kulit kuning langsat. Kebetulan dia berkerudung biru, dengan setelan baju yang menarik juga.
Kami duduk di bangku permanen yang ada di warung tersebut, kami memesan minuman, kawanku memesan air Luwak Whait Coffe panas,dengan porsi gelas kecil yang memang salah satu minuman saset kesukaannya, sementara aku memesan Tea Tarek panas saset juga dengan kadar air gelas seukuran kawanku.
Kami mencoba mengajak komunikasi si gadis penjaga kios tersebut yang bernama Maulidayani, kami bertanya, apakah tempatnya tidak dibukab ?.
Jawabnya, " dibuka, namun baru saja pulang penjaganya, baru saja siap nyapu, sebentar lagi balik lagi”. Kami bertanya lagi, apakah di buka tiap hari gerbang rumah Cut Meutia ini ?.
" Tidak jawabnya singkat", dia terdiam sesaat, kemudian melanjutkan lagi, " karena yang biasanya ada pengunjung cuma hari Sabtu dan Minggu saja, untuk Sabtu hanya setengah hari, yaitu sesudah shalat zuhur dan Minggu sehari penuh, sedangkan hari yang lain tempatnya tutup karena tidak ada pengunjung, bila ada pengunjung tempatnya tetap dibuka, pengunjung bisa menghubungi penjaganya". Maulidayani menunjuk dkedepan dengan tangannya nomor hand phone yang terletak ditempel di gerbang masuk pintu kedua rumah Cut Meutia.
Prasasti yang berada tepat di depan rumah Cut Meutia.
Tak beberapa lama kami tunggu, benar apa yang disampaikan oleh si cewek penjaga kios tadi, pengunjung berdatangan terus, sementara penjaga rumah Cut Meutia belum juga datang. Tepat pada jam menunjukkan pukul 14.05 wib penjaga rumah Cut Meutia yang bernama Muslim datang dan membuka pagar gerbang rumah Cut Meutia. Sebenarnya, yang jaga rumah Cut Meutia ada dua orang, satu lagi bernama Idris. Kerena ini jadwal piketnya Muslim, Idris tidak datang.
Foto asli Marsosi, salah satu petinggi Belanda yang ada dalam rumah Cut Meutia.
Letnan Jenderal K. Van Der Haiden, yang memimpin penyerangan di Batee Iliek.
Saya dan pengunjung lain masuk dan berkeliling ditemani oleh Idris, sambil menceritakan riwayat dan sejarah rumah Cut Meutia yang saat ini masih dirawat oleh 2 petugas dan mayarakat sekitarnya yang dikenal keramahannya, membuat lengkap sudah dukungan masyarakat untuk melestarikan cagar budaya yang ada di tempat mereka.
Perlu juga sahabat steemit tahu, bahwa untuk masuk dalam pekarangan rumah cut meutia tidak dipungut biaya apapun, kecuali kendaraan roda dua untuk biaya parkir sebesar 2000 rupiah, itupun kalau pengunjungnya banyak, kalau pengunjungnya tidak terlalu banyak, maka uang parkirnya pun di gratiskan.
Silsilah Cut Meutia.
Perlu sahabat steemit juga tahu, walaupun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, namun keindahan dan suasana di lokasi rumah Cut Meutia yang luas tanahnya sekitar 2 hektar, membuat suasana hati dan perasaan kita puas serta senang dengan tempat wisata yang satu ini. Karena disini kita bisa menambah pengetahuan dan ilmu tentang sejarah, apalagi wisatanya dilakukan bersama keluarga. Dimana anak-anak kita akan mengetahui sejarahnya, baru kemudian mereka bisa menghargai jasa para pahlawan.
Salah satu balai, tempat beristirahat yang ada di lokasi rumah Cut Meutia, bisa juga digunakan untuk shalat.
Ini salah satu alat tradisional tempo dulu penumbuk padi menjadi beras dan beras menjadi tepung, yang dinamakan dengan jingki.
Salah satu tempat penyimpanan padi Tempo dulu, yang dinamakan dengan "kroeng pade". Di tempat ini juga para wisatawan bisa bersantai dan memakan makanan yang dibawa dari rumah.
Kondisi diatas dan didalam rumah Cut Meutia.
Kondisi diluar komplek Rumah Cut Meutia.
Referensi:
Catatan dan naskah yang ada pada prasasti, dan foto di rumah Cut Meutia.