Aku hanya bisa melihat lesumu dari jarak beberapa puluh senti. Wajahmu yang pucat (?) Garis bibirmu yang serupa horizon. "Ke mana senyummu?"
Boleh aku meminta?
Jangan pernah hilangkan senyum itu. Setidaknya, biar aku saja yang merasa bagaimana terlukanya hati ini mendapati garis bibirmu yang begitu datar. Aku bahkan tak berani mengintip lebih jauh ke dalam matamu, telaga itu, perigi itu, yang biasanya selalu menjanjikan keteduhan dan kesejukan, tiba-tiba kudapati begitu kering.
Sikap yang selalu hangat, tiba-tiba menjadi sebeku bunga-bunga es di lemari bermesin pendingin. Padahal baru kemarin sore aku mendapati percik-percik kembang api membungkus seluruh jasadmu. Hampir seluruhnya kau bagi denganku.
Imajinasiku untuk menyeduhkanmu secangkir teh seketika buyar. Aku merasa jadi korban iklan, berharap semuanya bisa kembali hangat hanya dengan menyesap secangkir teh bersama. Kau begitu tergesa-gesa. Pun aku, tergesa-gesa menghapus jawaban yang telah kupersiapkan dalam benak, seandainya kau bertanya; apa kabarmu hari ini?
Betapa unpredictable-nya hidup ini. Terlalu banyak kejutan. Aku merasa bersalah, aku merasa terhukum. Diammu, senyummu yang seketika hilang, dan suaramu yang terdengar seperti enggan, itulah hukuman yang paling peri.
Aku menutup pintu dengan jeri. Tentunya setelah menyaksikan kamu terbang bersama angin. Setelah memastikan kamu tak benar-benar ingin menoleh walau sedetik. Sesaat kemudian, aku menemukan kehangatan yang sebenarnya. Pada air yang mendidih di atas kompor. Aku urung menyeduh teh.
Aku ingin menebusnya dengan memenuhi semua permintaamu. Tak apa-apa jika itu bisa mengembalikan senyummu lagi, meski bukan untukku.[]
Posted from my blog with SteemPress : https://senaraicinta.com/2018/07/14/ke-mana-senyummu/