Vira, Fara, Ihan, tiga sekawan yang kukira sengaja dipertemukan Tuhan untuk saling membersamai
Aneh! Di malam terakhir perjumpaan ini kami justru lebih banyak membahas tentang jengkol. Hm, setidaknya ini bisa menjadi semacam alarm yang akan diingat otak. Bahwa aku dan punya satu kesamaan, yaitu sama-sama menyukai rendang jengkol yang legit dan gurih. Jika jengkol bisa membuat kami saling mengingat dan merindukan, mengapa tidak?
Semalam, aku, , dan
bertemu di kedai kopi T-36 di pojok Taman Bustanussalatin. Pada pertemuan sebelumnya
gagal nimbrung karena masih ada orang tuanya di Banda Aceh. Jadilah malam itu aku hanya menghabiskan waktu berdua saja dengan
, membicarakan banyak hal mulai dari yang penting sampai yang tak berfaedah sama sekali.
Malam tadi, memenuhi ajakan kami pun sepakat untuk bertemu kembali. Kedai kopi T-36 tetap menjadi pilihan kami. Aku sendiri sangat menyukai suasana kafe ini, terutama di malam hari. Seperti yang pernah kutuliskan di postingan sebelumnya, penataannya mendekati rumah impian yang kuidam-idamkan. Baca di sini: Mengurung Diri dalam Keasyikan Konsep dan Suasana Kedai Kopi T-36
Pisang nugget, camilan renyah dengan cocolan 'kecap' yang gurih menemani perbincangan kami hingga menjelang tengah malam
Di sini juga tidak disediakan fasilitas internet, orang-orang bisa fokus pada teman bicaranya tanpa sibuk dengan layar laptop. Tapi tidak denganku, karena aku harus menyambi kerja, selama pertemuan berlangsung laptopku tetap standby. Tapi itu tidak mengganggu konsentrasiku pada dua orang yang duduk berhadapan denganku. Oh ya, di kafe ini juga tidak tersedia teh dingin, sebagai gantinya aku memesan es kosong sebagai tambahan dari red velvet yang sudah kuhabiskan sebelumnya.
Saat duduk dengan Vira malam tadi, seketika mengingatkan kembali pada pertemuan pertama kami pada trimester keempat tahun lalu. yang mengenalkan aku pada Vira. Jika warung kopi adalah perantara untuk mempertemukanku dengan banyak orang, pertemuan dengan Vira salah satunya, dengan
salah duanya. Aku masih ingat, di pertemuan pertama hari itu kami langsung olahraga bersama. Jogging di Lapangan Rindam di Mata Ie, Aceh Besar.
Belakangan, aku mulai menemukan sesuatu dalam diri Vira. Di balik tubuhnya yang mungil, ada gelora besar yang memantik semangatnya dalam beraktivitas. Memiliki jiwa sosial yang tinggi, membuatnya mendedikasikan diri untuk berkhidmat di Children Cancer Care Community (C-FOUR). Punya ketertarikan pada film, membuatnya bergiat di Aceh Documentary Film. Ah, ia juga suka menulis, dan itu kenapa akunnya dengan mudah ditemukan di Steemit. Cerita-ceritanya selalu menarik.
Vira dan Fara sedang saling berbalas pesan di aplikasi chatting
Sebelum Fara datang aku sempat bertanya pada Vira, apakah menjadi dokter memang cita-citanya sejak kecil? Sebab, dokter, pilot, polisi, tentara, adalah sederet profesi yang begitu mudahnya diucapkan sebagai jawaban oleh anak kecil. Namun Vira malah memberi jawaban sebaliknya, ia justru mengaku seperti tak punya cita-cita dulunya.
"Hom, sang long hana cita-cita," jawabnya dengan mimik yang sangat jenaka. Aku menahan diri untuk tidak menertawakan ekspresinya ketika mengucapkan kalimat itu.
Vira kini sudah menyandang predikat sebagai Sarjana Kedokteran, itu artinya ia harus naik tangga untuk melanjutkan program koas di Rumah Sakit Datu Beru, Takengon, Aceh Tengah. Aku yang baru mengetahui kalau dia akan segera meninggalkan Banda Aceh dalam waktu dua hari ke depan, merasa kaget. Itu artinya untuk jangka waktu yang tak bisa ditentukan, aku hanya akan menikmati keriangan dan keceriaan Vira melalui percakapan-percakapan maya saja. Dengan gelak tawa dan bibir manyun diwakilkan oleh sejumlah gambar ekspresi. Hm...[]