"Saat kamu rindu padaku, dengarlah lagu ini," katanya suatu ketika.
Hampir setiap waktu aku merindukannya. Namun tak separah saat ini. Dalam diamku tiba-tiba saja aku menuruti kata-katanya. Mendengarkan Hamari Adhuri Kahani ditemani silir-silir angin yang menerobos jendela. Perasaanku kembali teraduk-aduk, air mataku menetes. Oh Tuhan, mengapa akhir-akhir ini aku menjadi sangat cengeng dan sensitif.
Dari tempatku duduk, aku seolah-olah melihatnya datang. Ia menenteng sekeranjang rindu. Lalu mengepakkan kedua lengannya tak ubahnya sepasang sayap merpati. Merengkuhku dalam pelukannya yang hangat. Menyatukan irama detak jantung kami.
Aku menyimak bait demi bait lagu itu. Meresapi kalimat-kalimatnya. Aku melihat bayangan kami dalam setiap cuplikan lagu itu.
Semuanya tiba-tiba berubah menjadi nyata. Ia datang. Aku bisa melihat wujudnya. Aku bisa menyentuh raganya. Bisa membaui aroma tubuhnya. Menyentuh wajahnya. Merasakan denyut jantungnya. Adrenaline kami berpacu bersama. Kemarau panjang itu menemukan oasenya. Cinta itu menemukan muaranya. Aku merasa sebagai kekasih paling bahagia di dunia ini. Titik-titik api itu pada akhirnya menjadi besar dan liar. Seperti percikan api yang membakar bunga-bunga kertas.
"Terima kasih untuk semua kejutan ini," kataku.
Rasa-rasanya tak ada kalimat yang lebih tepat dari itu. Tidak. Bukan. Aku yang kehilangan kata-kata. Aku terlalu dalam menenggelamkan diri dalam telaga rindu itu. Aku membiarkan bulir-bulir hasrat memenuhi seluruh pori-pori tubuhku. Aku membiarkan hatiku tenggelam sedalam-dalamnya ke dalam hatinya. Namun aku lupa bagaimana caranya berenang.
Silir angin yang menerobos liar lewat jendela menyadarkanku. Tak ada siapa-siapa di sini. Hanya ada aku. Ditemani syair-syair sedih Hamari Adhuri Kahani yang berputar berulang-ulang dari laman Youtube. Namun mataku benar-benar basah. Air mata ini bukan sekadar menggenang dalam imajinasi. Rindu ini benar-benar nyata. Menggigit. Mengiris-ngiris hati. Betapa ngilunya. Aku menggigit bibir sekuat-kuatnya, hanya untuk memastikan ngilu ini benar-benar nyata.
Fragmen-fragmen yang lain kemudian bermunculan. Seketika ia berubah menjadi kepingan puzzle. Aku mengumpulkan keping demi keping potongan tubuhnya. Menyusun pancaindranya. Mengumpulkan suara-suaranya. Kalimat-kalimat manisnya. Lelucon-lelucon gilanya. Kecerdasannya. Kesarkasannya. Tatapan mesra yang sesekali bercampur sinis. Aku teringat pada sepotong pertanyaannya. "Apakah aku seseorang yang cukup tegas?"
Ujung dari semuanya membawaku pada perjamuan secangkir kopi. Ada satu rahasia yang menjadikan cinta dan kopi memiliki satu persamaan. Rahasia itu akan kusimpan selamanya di sini...[]
Posted from my blog with SteemPress : https://senaraicinta.com/2018/07/17/pesan-dari-pagi-dan-sepotong-rahasia-di-hatiku/