Hayat berswafoto dengan Eky, Yelli, Dr. Rahmi, dan Prof. Janet usai kelas FAMe pada 20 Desember 2017. Source
Aku masih ingat ketika menyebut nama
setahun lalu, ya, tepatnya Maret 2017. Waktu itu, dengan percaya diri kukatakan, "ya, aku kenal, kami pernah ketemu, kok. Dia pernah main-main ke kantorku bersama teman-teman organisasinya."
Ternyata eh ternyata, Hayatullah yang dimaksudkan Eky bukanlah yang pernah bertemu denganku. Nama mereka memang sama, mereka juga berasal dari kabupaten yang sama, tapi mereka adalah dua orang yang berbeda. Aku sudah lupa seperti apa wajah Hayatullah yang satu lagi, tapi kalau pastilah aku ingat. Sebab, baru petang tadi kami habiskan waktu bersama di Bin Ahmad.
Setelah sebelumnya menuliskan tentang Bang ,
,
,
, dan beberapa lainnya, tiba-tiba ingin kembali menuliskan cerita tentang teman-teman. Kalau kali ini aku memilih Hayat sebagai objek, itu bukanlah kebetulan. Hm, kalaupun ini kebetulan, maka ini adalah kebetulan yang manis. Anggap saja ini kado untuk perayaan pertemanan kami.
Setiap mengingat Hayat, yang terbayang olehku adalah sederetan judul film yang keren untuk ditonton. Dia itu seperti agen yang tak pernah bosan memasok film-film bagus. Entah sudah berapa puluh judul film yang ia rekomendasikan. Bahkan pernah beberapa hari hard disk-nya ia titipkan padaku. Di antara judul-judul itu, Baahubali adalah film terkeren yang pernah ia rekomendasikan. Gara-gara film itu pula, sampai sekarang aku jadi nggak berselera untuk menonton film lain. Dan setiap kali Hayat menawarkan film lain, selalu kujawab dengan gelengan. "Belum bisa move on dari Baahubali." Dan setiap kali bertemu dan mengobrol dengannya, nyaris tak pernah lupa menyebut-nyebut nama Baahubali. Mungkin dia menyesal pernah memberikan film itu buatku. Mungkin pula menurutnya aku ini aneh.
Di lain waktu, Hayat merekomendasikan film Bollywood yang juga diperankan oleh Prabhas, aktor yang memerankan Baahubali. Masih terbayang bagaimana berapi-apinya dia saat menceritakan film itu. Tapi sampai aku menuliskan cerita ini, film itu tak juga kutonton. Susahnya move on dari Baahubali.
Ingin cerita tentang Hayat kenapa jadi cerita Baahubali sih! Aduh! Inilah tanda-tanda masih belum bisa move on dari film keren itu. Back to Hayat, sebenarnya, setiap kali aku mengingatnya, yang terbayang adalah rambutnya yang rebah ke samping itu ha ha ha. Buat orang-orang seperti aku yang susah mengingat nama orang, aku perlu mengingat sesuatu yang identik dari orang itu. Ataupun, jika orang itu sudah sangat dekat denganku, aku akan memanggil mereka dengan inisial tertentu. Ini adalah wujud keistimewaan untuk mereka.
Hayat adalah teman berdiskusi yang asyik, khususnya menyangkut dengan literasi. Kalau ditanya apa yang membuat kami dekat, jawabannya cuma satu: kami sama-sama menyukai dunia tulis menulis. Sama-sama bergiat di dunia jurnalistik, sehingga selalu saja ada yang kami bincangkan. Pernah aku meminta saran darinya terkait materi jurnalistik yang ingin kusampaikan di sebuah forum, ia mau saja berbagi. Tak pelit ilmu. Oh ya, kami juga sama-sama pecinta film India.
Tulisan-tulisan yang kami posting di Steemit adalah ruang untuk kami belajar bersama. Aku paling geram setiap kali membaca tulisannya dan selalu saja banyak kesalahan. Tapi dia selalu berbesar hati dan menerima kecerewetanku dengan emot-emot yang menggelitik. Yang paling membuat geram misalnya, ia cenderung melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Dalam tulisan terbarunya berjudul Kehabisan Ide adalah Ide, ia masih menuliskan 'timur' sebagai arah mata angin dengan 'Timur' dan pemerian yang masih salah. Di lain waktu giliran dia mengkritik tulisanku. Inilah simbiosis mutualisme paling menyenangkan. Beberapa kesalahan lain sudah diedit saat aku membuka kembali postingannya.
Setelah sekian lama berteman dengannya aku jadi tahu, Hayat ternyata tidak suka kopi. Dia pernah mabuk kopi gara-gara menyesap minuman itu dengan perut kosong. Aku ingin bilang, dalam hal ini kami ternyata juga sama. Aku pernah sampai harus ke dokter gara-gara overdosis kopi. Bedanya aku bandel, nggak kapok, kopi sudah menjadi candu, sekalipun dalam wujud sanger. Sebagai gantinya, Hayat sering memesan teh tarek atau cokelat kalau kami ketemu.
Dia juga suka cappucino cincau, itupun mesti kali yang dijual di Darussalam. Pernah sekali waktu kami duduk di sebuah kedai kopi dan memesan cappucino cincau, nyaris sepanjang waktu itu yang dia bicarakan melulu soal cappucino cincau itu. Inilah, itulah, intinya, menurut dia yang paling enak cuma yang dijual di gerobak di kawasan Lapangan Tugu Unsyiah tersebut. Padahal menurutku yang dijual di kedai itu sudah enak. Dia lupa, rasa itu relatif. Malam ini, saat aku sedang asyik membaca tiba-tiba dia menghubungi, "masih di Bin Ahmad? Kalau masih aku mau bawain kamu cappucino cincau." Sayangnya aku sudah pulang.
Buatku, pertemanan itu ibarat mengajak seseorang mendatangi sebuah rumah. Ada yang hanya cukup diajak memandangi dari kejauhan saja, ada yang berdiri di pagar, ada yang sampai ke beranda, ke ruang tamu, atau ke segala ruang tanpa perlu mempertimbangkan faktor privasi. Dan Hayat ada di level terakhir.[]