Sekitar jam 16.00 tadi saya dan 4 orang teman saya mengunjungi rumah duka yang lokasinya lumayan jauh dari tempat tinggal kami, ini disebabkan karena akses utama (Jalan Medan - Banda Aceh) tidak bisa digunakan sementara waktu disebabkan jembatan Sungai Tingkeum ambruk, jadinya kami harus melintasi jalan alternatif dengan jarak 15 km, jika akses jembatan ini normal, perjalanan ke lokasi (rumah duka) membutuhkan waktu 1 jam, sementara tadi waktu yang kami butuhkan untuk mencapai lokasi selama hampir 1,5 jam.
Kembali ke topik, Masyarakat aceh yang dikenal dengan sebutan serambi mekah sangat kental dengan budaya dan nuansa keislamannya, dan saat ini kita dapat melihat ketika salah seorang warga masyarakat telah meninggal dunia. bagi sebagian besar masyarakat Aceh secara umum, mulai dari malam harinya setelah pemakaman jenazah sampai 7 hari setelah pemakaman, seluruh elemen masyarakat secara swakelola berkunjung kerumah duka untuk memberikan doa kepada mendiang yang telah lebih dahulu meninggalkan mereka, dan tamu yang melayat pun dari pagi hari sampai malamnya.
Setiap tamu yang datang secara rombongan biasanya membacakan doa atau yasinan kepada almarhum dengan harapan supaya diberikan ampunan dan dibebaskan dari siksaan api neraka. setelah membacakan doa, setiap tamu yang datang disajikan makanan untuk dikonsumsi.
Begitu juga dengan kami, kami yang merupakan komunitas steemit indonesia - aceh, seperti yang terlihat pada gambar ada saudara ,
,
dan saya sendiri
sedang menyicipi hidangan yang disajikan.
Saya secara pribadi sangat menyukai jenis hidangan ini, disini dihidangkan kuah dari buah pisang, kemudian kuah dari buah nangka, ada ikan asin, daging ayam dan kerupuk.