Buku ini berisi puisi terbaik dari sayembara menulis yang digelar Sekolah Menulis Dokarim pada 2006 silam. Puisi-puisi yang buku ini berisi tentang kesaksian para penyair muda Aceh tentang ragam peristiwa di tanah bernama Aceh.
Bagian awal buku ini berisi 31 puisi dari kalangan pelajar, bagian akhir berjejer 32 puisi dari kalangan mahasiswa. Puisi pertama dibuka dengan “Arti Damai” karya Riska Meutia, siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Banda Aceh. Ia berbicara tetang arti damai dari kaca mata siswa.
Dilanjutkan dengan puisi “Mendengar Suara Hati” karya Juanda Nurgaza, siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Lhokseumawe, selanjutnya berisi puisi-puisi tentang persahabatan dan para penulis lainnya.
Antologi Puisi Kitab Mimpi foto
Yang menarik adalah puisi dari Fadhli, siswa Sekolah Menangah Atas Negeri 1 Tapaktuan, Aceh Selatan yang berjudul “Kawanku Bekas GAM”. Ia bercerita tentang pertemanannya dengan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Teman masa sekolahnya yang dikenal sebagai bintang kelas, tapi memilih jalan hidup menjadi petempur GAM. Damai Aceh kemudian membuat mereka bisa berjumpa kembali.
Masih soal konflik dan perdamaian Aceh, Hertily Surviva, siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) Unggul Tapaktuan, Aceh Selatan dalam puisinya “Peluru Berhenti berdesing” berceritan tentang ketenangan setelah perang tak ada lagi, dan kebahagiaan yang kembali merekah dalam perdamaian.
Kemudian ada Nurul Fajri, siswa SMU Negeri 4 Banda Aceh yang menulis puisi “Cerita Tentang Aceh” Ia bercerita bagaiman sebuah harapan hilang dalam kecamuk perang bernama konflik Aceh, tapi harapan itu kembali ketika perang telah berhenti dalam wujud damai Aceh.
Sementara puisi dari kalangan mahasiswa dibuka dengan puisi Nur Fajar yang sangat menyentak. Ia menulis, “Tuhan…jika damai ini hanya mimpi, jangan bangunkan aku besok pagi, jika perdamaian ini nyata, biarkan ia abadi.” Kemudian puisi paling pendek dan tak kalah menyentak ditulis oleh Akmal, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sasta Indonesia (PBSID) Universitas Syiah Kuala. Puisi berjudul “Memo dari Penguasa” yang ditulis di Kampung Mulia tahun 2006 hanya berisi empat kata saja. “Hentikan mereka, tembak saja.”
Puisi-puisi lainnya yang terkumpul dalam antologi “Kitab Mimpi” ini juga tak kalah menariknya. Membacanya kita seakan dibawa kembali pada ingatan bagaiman perang telah membuat banyak catatan duka, tapi damai kemudian membasuhnya.