Teuku Umar menjalankan taktik perang yang tidak lazim, membelot dari pejuang Aceh, menyerah kepada Belanda bersama pasukannya. Semua orang Aceh murka padanya.
Namun, setelah mempelajari gaya dan takti perang militer Belanda, serta memperoleh dana, senjata dan mesiu untuk pasukannya, Teuku Umar balik gagang. Ia kembali keperjuangan semula, melawan Belanda dengan senjatanya sendiri. Semua orang tercenang, Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh Mayor Jendral C Deijkerhoff pun mengundurkan diri dari jabatannya setelah terjebak dalam taktik “Tipu Aceh” yang dijalankan Teuku Umar.
Dalam buku The Dutch Colonial War In Aceh terbitan PDIA dijelaskan, peristiwa itu terjadi pada 29 Maret 1896. Peristiwa itu menjadi sesuatu yang sangat menggemparkan bagi Belanda, terutama Mayor Jendral C Deijkerhoff. Karena ia yang mempersenjatai Teuku Umar dan pasukannya beserta dengan sejumlah fasilitas gaji dan lain sebagainya.
Karikatur Teuku Umar mengucap salam perpisahan pada Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh Mayor Jenderal C Deijkerhoff yang memohon padanya untuk tidak pergi. Ilustrasi: Uilen Spiegel’s Pretenboek voor Groote Menschen (1886-1897) sumber
Teuku Umar yang diharapkan akan membantu memperluas kekuasaan Belanda dengan memerangi benteng-benteng pertahanan pejuang Aceh, kini malah membawa “hadiah” untuk pejuang Aceh berupa dana, senjata, dan mesiu. Balanda benar-benar dibuat kelimpungan.
Hingga kini sebab musabab Teuku Umar menjalankan taktik “Tipu Aceh” itu masih menjadi tanda tanya di kalangan Belanda dan masyarakat Aceh sendiri. Karena dalam barisan perjuang Aceh, Teuku Umar merupakan orang yang sungguh sangat tidak mudah dimengerti. Malah perwira Belanda, Mayor LWA Kassier menyebut Teuku Umar sebagai de meest intellegente en zeer baschaafde Athjeher, yakni orang Aceh yang paling cerdas dan sopan.
Namun Prof Teuku Ibrahim Alfian dalam buku Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah menjelaskan, ada beberapa sebab Teuku Umar membelot dari Belanda, salah satunya adalah sikap istrinya sendiri, Cut Nyak Dhien yang sangat membenci dan dengan penuh semangat terus berjuang memerangi Belanda.
Alasan lainnya diungkapkan MH du Croo dalam buku Marechaussee en Atjeh. Herinneringen en Ervaringen van den Eersten Luitenan en Kapitein van het Marechaussee van Aceh en Onderhoorigheden HJ Schmidt, van 1902 tot 1918, terbitan Maastricht tahun 1943.
Pada halaman 11 buku itu MH du Croo menjelaskan, berdasarkan pengumuman resmi pihak Belanda, Teuku Umar membelot karena menolak untuk turut bersama pasukan Belanda memerangi Lamkrak yang direncanakan akan dilakukan pada 30 Maret 1896, sehari setelah Teuku Umar membelot bersama pasukannya.
Alasan lainnya, Teuku Umar takut menyerang Lamkrak bersama Belanda karena akan dihadang oleh perlawanan hebat dari barisan pejuang Aceh yang didukung oleh para ulama. Hal yang sama juga diungkapkan PHR Beuming dalam buku Schetsen uit den Strijd op Groot-Aceh yang diterbitkan pada tahun 1922.
Teuku Umar bersama para panglima pasukannya. sumber
Selain itu ada ramalan bahwa Teuku Umar akan mati di sana jika ikut menyerang Lamkrak. Alasan tentang ramalan ini diungkapkan oleh A Kruisheer dalam buku Atjeh 1896 jilid I halaman 20-25.
A Kruisheer juga mengungkapkan, alasan lain Teuku Umar kembali ke barisan pejuang Aceh, karena dipermalukan oleh KW Gisolf selaku Kontrolir Ulee Lheu dan Jaksa Kepala. Dalam surat-suratnya tanggal 12 dan 13 April, menurut sumber Belanda, Teuku Umar menyatakan kecewa terhadap bintang jasa yang dijanjikan kepadanya, tapi tidak diberikan. Padahal ia sudah bersedia mengamankan kepentingan Belanda di Aceh dengan imbalan 15.000 florin setiap bulan untuk mendanai pasukannya.
Rakyat Aceh bersuka cita atas kembalinya Teuku Umar dengan persenjataan lengkap yang diperolehnya dari Belanda. Dari semua daerah pejuang Aceh terutama dari Pidie datang menggabungkan diri dalam pasukan Teuku Umar, memperkuat benteng-benteng pertahanan di Aceh Besar.
Sementara bagi Belanda ini merupakan pekerjaan besar untuk merebut kembali apa yang sudah dibawa lari Teuku Umar dan pasukannya. Dalam salah satu pertempuran di Aceh Besar, pasukan Teuku Umar berhasil menewaskan 230 tentara Belanda yang mencoba merebut benteng yang dikuasi pejuang Aceh. Belanda kalah dan ditembaki dengan senjatanya sendiri.
Kemudian dalam pertempuran di Aneuk Galong, Aceh Besar pada 28 Juni 1896 sebagian besar pasukan Belanda juga tewas. Dalam serangan tiba-tiba pasukan marsose itu dari pihak pejuang Aceh 110 orang juga gugur dalam perang besar tersebut. Dua diantaranya adalah Teuku Cut uleebalang Aree dan Tengku M Amin putra Teungku Chik Di Tiro.