Diantara ribuan tentara bayaran asal Eropa yang dibawa Pemerintah Kolonial Belanda ke Aceh, sebagiannya merupakan keturunan Yahudi. Dari sebagian keturunan Yahudi itu ada yang berhasil meniti karir dalam militer Belanda di Aceh menjadi opsir dan perwira, kemudian mati dan dikuburkan di Aceh.
Di komplek kuburan Belanda di Aceh, kita bisa melihat nisan-nisan besar berbahasa Yahudi dan bahasa Belanda. Berbeda dengan nisan-nisan dan monument kuburan lain yang hanya berbahasa Belanda.
Hal itu menunjukkan bahwa yang punya kubur merupakan keturunan Yahudi. Dan dia pernah menjadi perwira dalam kesatuan tentara Kolonial Belanda di Aceh, karena hanya opsir dan perwira yang kuburannya dibuat monument mencolok. Beda dengan tentara bawahan yang nisannya kecil dan tak bernama.
Kuburan Letnan Infantri Theodorus Alexander de Man keturunan Yahudi di Peucut Kerkhof. [Repro: The Dutch Colonial War In Aceh]
Saat mengunjungi Kerkhof Peucut beberapa waktu lalu. Saya melihat beberapa monument dari kuburan dengan tulisan yang berbeda dengan yang lainnya. Tapi saya tak paham bahasa apa itu. Hingga kemudian saya menemukan jawabannya dalam buku The Dutch Colonial War In Aceh.
Pada bagian Personalitie, Monuments, and Cemeteries di halaman 224, terdapat dua foto nisan dengan bahasa Yahudi. Di sana dijelaskan, sejumlah nisa keturunan Yahudi yang ikut dalam perang kolonial Belanda di Aceh.
Di salah satu monument nisan itu tertulis nama Letnan Infantri Theodorus Alexander de Man. Ia tewas dalam pertempuran sengit dengan pasukan pejuang Aceh di Lembah Gle Tarom, Aceh Besar pada tanggal 29 Juni 1878.
Sementara pada monument satu nisan lagi berisi keterangan dengan abjad dan bahasa Yahudi yang di bawahnya disertakan juga bahasa Belanda. Keterangan dalam bahasa Belanda tertulis bahwa pemilik kubur itu tewas dalam perang di Krueng Kale pada 1 Agustus 1882. Di sana tertulis, De Weledele Heer CJ Van Der Zijl. Scout Voor De Politie Van Groot Atjeh. Ceboren Te Groningen, 15 Mei 1839. Overleden Te Kroeng Kali, 1 Augustus 1882.
Nisan CJ Van Der Zijl dengan tulisan berbahasa Yahudi di bagian atas. [Repro: The Duutch Colonial War In Aceh]
Kisah Yahudi lainnya dalam perang Aceh saya dapat dalam buku, Perkuburan Belanda Peutjoet Membuka Tabir Sedjarah Kepahlawanan Rakyat Atjeh. Buku yang ditulis oleh Tjoetje mantan pegawai Kolonial Belanda di Bestuurs Meulaboh, Aceh Barat.
Dalam buku itu dijelaskan, dulu di sekitar komplek kuburan Belanda, Kerkhof Peucut, terdapat sebuah kebun “Belower”. Nama kebun itu diambil dari nama seorang Yahudi mantan tentara bayaran Belanda di Aceh, yang membuka kebun tersebut. Yahudi itu bernama Bolchover.
Ketika tak lagi aktif dalam dunia militer, Bolchover menghabiskan waktunya untuk berkebun, lahan alang-alang yang biasanya jadi tempat pemeliharaan dan perawatan kuda-kuda calvaleri Belanda, dibabat dijadikan sebagai kebun.
Di kebun Bolchover itu juga dibangun tempat penginapan, rumah-rumah kecil tempat peristirahatan, serta klub hiburan malam. Tjoetje menjelaskan, komplek taman Bolchover itu pada masa tersebut sangat negatif sifatnya. Tentara Belanda kelas bawah yang kelelahan setelah perang, datang ke sana mencari hiburan, minum minuman keras, dan mengencani perempuan selingkuhan dari kalangan mereka sendiri.
Para istri tentara yang ditinggalkan suami, menjadikan tempat itu sebagai tempat pelampiasan nafsu dan gairahnya. Tjoete menyebut tempat itu sebagai komplek perkebunan dan tempat sex liar.
Pada masa lalu, kalau orang bercerita tentang Peucut Kerkhof tak bisa lepas dari kebun Bolchover di sisinya. Kesan yang timbul adalah, kuburan Belanda dan tempat pelacuran.
Sementara bagi kalangan perwira, mereka menghabiskan waktu dan mencari hiburan di Juliana Club tak jauh ke sisi utara taman Bolchover. Di sana kalangan elit Belanda bermain musik dan berdansa. Tentang Juliana Club ini sudah pernah saya tulis pada postingan sebelumnya.