Leter Es, begitu lah nama kampungku yang jauh dari kota Takengon, Aceh Tengah. Mungkin jika ditannyakan kepada mereka yang tinggal di kota di mana kampung Leter Es, mereka tidak tahu.
Palingan satu atau dua orang yang bakal tahu tempat terpencil itu. Namun aku merasa bahagia karena telah terlahir sebagai anak kedua di sana. Terlahir dari sosok wanita yang luar biasa, Sarmiati namanya.
Namun yang membuatku heran adalah apa salah diriku yang tinggal di daerah pelosok? Hehehe, terkadang tinggal di pelosok menjadi sebuah bulian yang lezat bagi temanku. Mungkin mereka belum pernah tinggal di sebuah desa dan bagaimana merasakan keindahan dan ketentraman suasananya. Maka dari itu lah aku menganggap bulian mereka sebagai angin yang telah berlalu.
(Jalan kampung Leter Es)
Kamu tahu, secara garis besar masyarakat di kampungku berprofesi sebagai petani kopi dan sayuran. Diantara mereka ada yang berprofesi sebagai seorang guru dan bidan, namun mereka hanya warga pendatang yang memang ditugaskan untuk mengabdi di sana. Berkat pengabdian mereka kampungku jadi sedikit berkembang.
Namun, hal yang tak dapat aku pungkiri adalah mereka yang masih memiliki status ilmu hitam. Sayang, mereka yang masih menggunakan ilmu hitam tidak pernah melepaskannya...akibatnya banyak penyakit yang terkadang tidak diketahui apa penyebabnya dan bagaimana cara menyembuhkannya.
Aku dan beberapa temanku yang kini telah merantau hampir sepuluh tahun lamanya demi meraih dan mencapai impian bertekad untuk mengubah kebiasaan buruk tersebut. Namun apadaya kami yang masih menggali ilmu demi menyadarkan pada mereka yang masih menggunakan ilmu hitam yang kini terus-menerus menyakiti orang lain tanpa kesalahan yang fatal.
Sebelumnya aku mengatakan kampungku adalah kampung yang tentram bukan? Ya, tentram karana beberapa faktor salah satunya adalah kesuburan tanahnya dan hasil panennya. Namun tidak dengan kependidikan, pengetahuan, dan lain sebagainya. Mungkin masih banyak daerah-daerah yang persis sebagaimana keadaan di kampungku, mungkin dari balik itu semua generasi Islam diperintahkan untuk berpencar demi dakwah Islam.
Bagaimana cara membuka pikiran dan pengetahuan mereka yang masih awam akan sihir dan lainnya. Generasi Islam yang tetap berpegang teguh pada Al-quran dan hadis. Mari saling bahu-membahu demi Islam dan Indonesia. Aku sebagai generasi Islam dan Indonesia menerima berbagai saran dan kritikan demi mengubah masyarakat Indonesia terutama masyarakat kampungku. Karena sihir mungkin telah menjadi budaya yang turun-menurun yang diabadaikan di kampungku.
Mungkin, ini sekilas tentang kampungku yang sayang namun malang! Masih ada beberapa masalah yang mungkin akan kuceritakan pada tulisan berikutnya, mohon masukannya terima kasih.