Aku mencintai segalanya. Gunung, pantai, hutan dan kamu pastinya. Kita telah punya rasa, kamu punya aku dan aku punya kamu. Tapi kita tidak saling memiliki. Ibarat bumbu, kita tinggal menuju Emak untuk menumbuk jadi satu, lalu lahirlah aroma cinta.
Aku suka mendaki segalanya, gunung, jalan menanjak dan mendaki hatimu. Namun, kadang jarak, waktu, keadaan adalah petir dalam jiwa. Kenapa? Aku takut tersambar sebelum rinduku sampai pada tempatnya. Untuk itu kenapa aku diam, menunggu dan menanti. Ibarat mendung menghitam pun kadang tak pernah datang hujan. Aku juga takut rinduku yang mendalam hanya sekedar asa yang cuma bait-bait harapan
Aku suka mengibarkan bendera negaraku sendiri, Indonesia. Ada rasa bangga ketika di mana pun kakiku berpijak, di sana ada napas kenegaraan. Seperti rasaku, ingin rasanya aku kibarkan di mana pun aku bernapas. Namun, siapa aku? Siapa kita?
Kita? Kayaknya bukan. Tepatnya aku dan kamu.
Aku pernah sangat merindukanmu. Pernah air mata menetes memikirkanmu, pernah dan pernah. Bukan hal bodoh memang, karena ketika bibir tak lagi mampu mengucap kata, kadang air mata adalah sumber dari segala sumber jawaban 'kenapa' yang selalu kau lontarkan.
Kita ada. Maksudku, aku dan kamu ada. Tapi kita sendiri. Kamu tidak mau disebut kita. Aku pun demikian. Tapi percayalah, jika waktu telah tiba, jika asa telah memuai, harap yang hanya berharap, rindu yang menggebu ini hanyalah omong kosong dan aku melangkah pergi. Jangan tanya kenapa? Karena malam akan kalah dengan fajar datang. Siang akan takluk pada senja tiba. Dan aku akan tunduk pada kepastian. Ibarat rindu yang katamu tak akan tertukar, mulai esok biar aku yang akan mencoba menukar rindumu yang selalu ingkar.
Zhongli, 10 Juni 2011