Sudah sejak 2011 yang lalu, tepatnya pada tanggal 2 November 2011 hingga kini aku belum saja mampu untuk mewujudkan cita-cita kita. Dilatarkan berbagai sebab, niat suci itu masih saja buyar. Berbagai permasalahan telah kita hadapi bersama, kita lebih memilih untuk menyelesaikannya dengan bersahaja, mengenyampingkan ego masing-masing serta mengedepankan musyawarah dengan kepala dingin. Kita sama-sama mendambakan bahtera rumah tangga yang harmonis serta dikaruniai beberapa anak, itu menjadi kesepakatan yang sangat sakral serta impian yang sangat kita dambakan dari awal memulai perjalanan asmara.
Setiap 10 Mei merupakan tanggal yang sangat berharga bagimu. Karena, pada tanggal tersebut kamu selalu dibanjiri ucapan selamat tanda mereka peduli atas bertambah tuanya umurmu. Ya, semua pihak mengenang hari istimewamu dengan ucapan selamat, baik dari keluarga maupun sahabat dan orang-orang yang mengenalmu. Pada tanggal 10 Mei 2012, ucapan selamat tersebut yang paling utama kamu tunggu adalah dariku. Pipimu yang lumayan berisi dengan sendirinya akan kemerah-merahan menanti ucapan yang menjadi momen setahun sekali melandamu itu. Akan tetapi, kamu akan memperlihatkan wujud asli yang tersembunyi dibalik senyummu jika seandainya ucapan itu telat aku lontarkan, perang mulut sudah barang tentu pecah jika hal tersebut menghampirimu.
Aku yang sedikit lebih tua darimu, dan menjadi sosok yang terlalu kamu spesialkan tak mewujudkan keinginanmu ditanggal itu, mulai tahun pertama, kedua dan seterusnya. Mungkin sebagian orang akan menganggap perlakuanku terhadapmu sangat bejat, tak mampu membahagiakan pasangan, terlalu mempertahankan ego serta berbagai anggapan lainnya. Tapi, aku tetap saja tak peduli dengan berbagai anggapan itu. Karena yang lebih tahu kamu itu aku, bukan mereka.
Kini kalender yang berada di ruang tamu rumahku telah kembali menunjukkan tanggal 10 Mei, berarti sudah 7 tahun lamanya tanggal tersebut menjadi momen berharga serta kamu tunggu-tunggu agar aku lontarkan ucapan selamat paling wahid. Tetapi dengan penuh kesadaran, aku juga tak mewujudkannya. Dengan begitu perang mulut pastinya akan kembali pecah, memang itu yang aku tunggu-tunggu.