Sebenarnya, Jakarta tidak membutuhkan pakar transportasi untuk membuat system agar jalanan di Jakatta tidak macet. Pemerintah cukup mengeluarkan peraturan waktu liburan kerja saat hari raya idul fitri diberikan lebih panjang, Jakarta akan aman dan bebas macet. Hal ini terbukti sudah bertahun-tahun, Jakarta sepi seperti suasana desa, ketika lebaran tiba.
Penduduk DKI Jakarta memang sangat padat. Menurut katadata jumlah penduduk DKI Jakarta 2017 adalah 10,37 juta jiwa.
Dari jumlah penduduk itu, ketika mudik, Jakarta hanya dihuni 21 persen saja, atau sekitar 2.177.700 jiwa, sisanya berangkat mudik ke kampung masing-masing. Menurut laporan Femina, sebagian besar pemudik, atau 42% penduduk dari Jakarta mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, 28% mudik ke wilayah Jawa Barat, 3% ke Sumatra Barat, dan 2% ke Sumatra Utara. Dan selama mudik, menurut CNN yang mengutip data Kepolisian Negara Republik Indonesia, sepanjang 7 sampai 15 Juni 2019, telah terjadi 1.154 kecelakaan lalulintas dalam arus mudik lebaran 2018, yang menyebabkan 242 orang tewas.
Mengapa Mereka Mudik?
Ada 7 Alasan mudik menurut Kaskus, salah satunya alasan lebaran, ingin bersilaturrahmi dengan orang tua, keluarga dan kerabat di kampung halaman. Tetapi, alasan mudik kedua, karna adanya musim liburan, di mana, ketika lebaran tiba kantor-kantor dan perusahaan biasanya memberi kesempatan pada para karyawannya dengan memberikan libur tambahan. Nah, jika pun tidak, maka kesempatan bagi pegawai atau karyawan untuk mengambil cuti tambahan.
Selain itu, alasan ketiga, adalah ingin bernostalgia dengan sahabat sahabat lama, lebaran adalah momen untuk menikmati suasana itu. Alasan keempat adalah Wisata, selain menikmati tempat-tempat wisata yang ada di kampung, juga bagi pemudik pakai kendaraan pribadi, bisa menikmati wisata selama perjanalan mudik atau ketika balik dari kampung halaman.
Alasan kelima, para pemudik juga ingin pamer. Tak bisa dipungkiri salah satu alasan seseorang pulang ke kampung adalah ingin memperlihatkan keberhasilan selama di rantau, bercerita ini itu tentang pekerjaan dan pencapaian, membawa mobil, motor, gadget, istri, anak-anak, dan segalanya yang memungkinkan dibawa pulang. Alasan lain, adalah bagi jomblo ini kesempatan untuk mendapatkan pasangan. Yang merasa diri sudah mantap menikah, mudik adalah kesempatan mereka mengajukan diri untuk menikah. Mumpung suasana masih libur, orang di kampung lagi ramai, dan tunjangan hari raya juga masih ada.
Alasan terakhir, adalah musim lebaran itu identik dengan musim kawin. Karena itu, mudik juga dijadikan alasan untuk memenuhi undangan pernikahan.
Antisipasi Arus Balik
Biasanya penduduk DKI bertambah ketika musim arus balik tiba. Ketika kembali ke Jakarta, biasanya kalau pulangnya sendiri, baliknya sudah berdua atau bertiga. Ada yang bawa istri baru, bawa pembantu baru, dan kebanyakan adalah membawa serta saudara dan kerabatnya untuk mengadu nasib di Jakarta sebagai pendatang baru.
Susana di Jalan Kalibata Raya dan Bawah Suasana di Lampu Merah Stasiun Kalibata
Mengantipasi masalah ini, Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno sudah mewanti-wanti, "Kalau masuk Jakarta itu harus punya skill yang dibutuhkan oleh dunia usaha maupun ibukota kita," kata Uno. Termasuk skill menjadi pembantu rumah tangga, kan Pak?
Di mana pun berada, kita sebaiknya menjaga diri tetap sehat dan bahagia. Yang lebih penting adalah tetap gembira, jangan sampai karena mudik, waktu balik dikejar debt collector, karena hutang menjadi lebih besar.
Jakarta, 17 Juni 2018
Salam lebaran☕️