Aku mengagumimu dari masa ke masa
dari petang menuju jingga
lalu berjuta-juta prosa membanjiri ingatan
seperti hujan, tanpa jeda ...
Aku lalu membencimu sejauh Nil mengalir
menumpahkan resah pada laut merah
membawa sisa-sisa residu hidup
juga yang telah redup
Sampai pada simpul mati,
aku masih berlari
sambil sesekali memunguti duri
kudapati hati yang mati ....
Hingga kutemukan kau terselip di antara doa
lalu aku mengerti,
bahwa sebuah ruh saja, cukup untukku menghentikan hati, dalam benci, dalam cinta, dalam kecewa dan menempati asa.