Aku berhenti bercerita tentang warna kulitnya yang sawo matang. Seakan menghitam dibakar matahari.
Tahi lalat di pipinya menambah indah raut wajahnya.
Akhir 2012 aku berjumpa dengannya. Wanita perkasa yang selalu patuh pada suaminya, dan selalu membantu menafkahi keluarganya.
Anak-anaknya begitu sayang padanya, namun tidak dengan suaminya, orang yang terlihat lembut di hadapan masyarakat, namun bak serigala kelaparan ketika di rumah, kasar, dan keras terhadap istri dan anak-anaknya. Tak jarang tangan yang selalu disiapkannya air cuci tangan ketika dia hendak makan, tangan yang sering dicium untuk mengharap berkah, sering menghantam wajahnya yang yang tak berdosa.
Aku bertemu dengannya pada awal tugasku bermula. Tak ada hubungan spesial antara aku dan dia, bahkan mengingat nama panggilannya saja aku tak bisa, apalagi nama aslinya, harus ku buka data di laptopku, barulah kuingat.
Dia wanita setia, umurnya hampir sebaya dengan umur ibuku, matanya bulat dan sangat terang melihat, tanpa perlu kacamata. Akhir 2016 matanya yang dulu terang benderang, tapi sekarang, total padam, remang-remang pun sudah tak lagi nampak. Tak tahu aku, apa penyebabnya, hingga saat, sempat kududuk menemaninya di depan kantor pos. Dia yang tak kunjung pulang menunggu di jemput oleh anaknya, anaknya ke pasar karena disuruhnya membeli ikan, sehabis mendapatkan uang bantuan. Aku menemaninya karena tak tega kubiarkan dia sendiri, dari situlah mula dia berkisah. Dan sepertinya cerita itu hanya terbagikan padaku. Entah apa yang membuatnya bercerita, aku pun tak tahu alasannya.
Saya bertanya mengawali pembicaraan,
"Apakah ibu sudah berobat?" Pertanyaanku langsung dijawabnya
"Sudah, Neuk. Dari obat dokter, hingga obat kampung, kata dokter ada gangguan urat saraf makanya seperti ini, urat saraf yang menimpa saya, tapi saya bukan bukan gila."
Dia mencoba menjelaskannya secara detail dan hingga anggapan salah kaprah kebanyakan masyarakat awam, kalau kenak saraf berarti dia gila (salah), namun yang dia maksud adalah urat saraf yang terhubung dengan penglihatannya.
Dia memanggil aku, dengan panggilan "Neuk (Nak)" mungkin, karena usiaku memang setara dengan anaknya.
"Neuk, sekarang saya tak dapat melihat lagi, tak bisa melayani suami saya dengan penuh. Dulu, begitu mudah aku ke dapur memasakkan lauk serta pauk untuknya dan juga anak-anakku, mencuci pakaiannya dengan cepat dan gampang, membantunya merawat kebun orang. Tapi sekarang, jangankan saya melakukan itu semua, melihat wajahnya saja, saya tak mampu."
Di sela-sela bicaranya, dia kembali memanggil saya, "Neuk," mungkin karena penglihatannya dan sekedar memastikan saya masih di sampingnya, setelah saya menyahutnya, baru dilanjutkan bicaranya.
"Apakah mungkin ini karena benturan yang mengenai bagian kepala saya, Neuk?"
"Bisa jadi buk," jawabku
Si Ibu: "Jangan ceritakan pada siapapun, ya neuk,"
Sepertinya sekarang dia akan bercerita tentang hal yang sangat pribadi. Saya meyakinkannya
"Iya, Buk. Saya tidak akan menceritakannya. Dan sepertinya besar kemungkinan itu karena benturan juga iya buk, tapi kan saya bukan dokter, Buk. Bisa jadi benar dan juga bisa jadi bukan karena benturan."
Mulailah dia pada titik yang sangat rahasia yang telah rapat ditutup dan digembok dengan rapi di dalam peti hatinya yang sangat mulia,
"Sebenarnya saya sering dipukul di kepala, oleh suami saya, jika dia marah dan terkadang tanpa alasan, tangannya selalu menghantam kepalaku."
Matanya yang tak lagi bisa melihat itu, mulai mengeluarkan air, dan disapu dengan selendang berwarna coklat tua yang dia kenakannya pada hari itu,
"Mungkin karena sebab itulah saya begini, namun saya tak pernah menyalahkan suami saya, saya selalu berserah diri, ini bukan sebab itu karena kuasa tuhanlah, aku menjadi seperti ini,"
Saya yang duduk di sampingnya mengambil tas ransel yang tadinya terletak pada bagian punggung, lalu kupindahkan ke depan. Karena air mataku juga sudah mulai mengalir, sayangnya, dia tak dapat melihatnya. Dan sengaja ku tutup rapat bibir ini, agar suara isakku tak terdengar olehnya. Hidungku sumbat mungkin karena menahan isak tangis itu, berpindah berjarak sedikit dengannya, lalu mengeluarkan ingus gambaran tangisku, tak ingin aku, dia tahu.
"Yang sabar ya, Buk. Jika ibu mau, saya akan menjembantani, agar kekerasan ini bisa diusut, Buk. Jika terjadi lagi hubungi saja saya, dan pastikan lebam atau bekas perlakuannya ada"
belum sempat saya habiskan pembicaraan, dia langsung memotong pembicaraan saya. Nada bicaranya sekarang agak keras,
"Jangan. Jangan, Neuk. Biarkan saja, saya ikhlas, bagaimanapun dia suami saya. Kehormatannya merupakan kehormatanku, kehinaannya adalah kehinaanku, begitulah seharusnya seorang perempuan menjaga harga dirinya."
Sesak dadaku mendengarkan jawabannya, liar dalam kungkungan lingkaran yang tak dapat kubuka. Aku hanya bisa bergumam, lelaki macam apa itu, di luar rumah tampak bak ayam keunong ta'un, di dalam rumah kau bagai anjing liar yang gila!
Lalu dia melanjutkan bicaranya. Setelah menyekap pikiranku dalam kurungan lingkaran,
"Neuk, kamu kan sudah berkeluarga. Dan usia rumah tangga kalian masih seumur jagung, masih muda, masih banyak rintangan dan tantangan ke depan. Baru satu anakmu, ya, kan," ingatan si ibu tak sama seperti ingatanku akannya, yang anaknya kelas berapa sekarang, harus membuka print out rekapan bulanan.
"Iya, Buk," jawabku.
"Pesan saya, jangan pernah kamu pukul istrimu atau anakmu di kepala, ya. Jika kamu sangat marah sekalipun, jangan pernah!" Dipukulnya paha aku.
Tetiba, anaknya yang baru dari pasar, tampak memarkirkan kendaraannya, dan mereka berdua berpamitan padaku, kuperhatikan dia sampai penglihatanku tak dapat melihatnya lagi, termenung aku dibuatnya.
Pertemuan demi pertemuan kelompok sebulan sekali. Selalu saja dia di wakilkan oleh anaknya dan saya sangat mengerti akan keterbatasannya, padahal saya sangat ingin bertemu dengannya. Dan karena kesibukan pribadi dan juga kesibukan administrasi di tempat aku bekerja, lengah aku akan niatku mengunjungi rumahnya.
Hingga aku di pukul dan terpukul, oleh berita bahwa dirinya telah tiada. Pada saat pertemuan lepas sambut (pergantian desa dampingan) beberapa bulan yang lalu. Lagi, dan lagi isak tangis itu membuatku menghadapkan ransel kehadapanku, agar mereka yang berhadir tak tahu, kalau air mataku sedang mesra turun bersama tiap bait petuah sekaligus pesannya untuk rumah tanggaku.
Kau puan perkasa lagi setia, semoga Allah menempatkanmu pada sebaik-baik tempat, jika para pembaca mengambil inti dari pesannya, yang dititpkannya padaku, katakan Allahhummagfirlaha dan doakan dia.
Foto terakhirku bersamanya memang ada. Tapi, tak ingin kubagikan ke sini, karena amanahnya "cerita ini tak boleh kubagikan," menyembunyikan identitasnya adalah bentuk aku menjaga rahasianya. Membagikan cerita itu kesini, bertujuan semoga petuahnya menjadi amal tambahan bagi dirinya, dan bisa menjadi pedoman bagi sahabat steemian's yang emosinya beramper tinggi.
Aaamiiin, ya Allah.
Selamat jalan 'Puan itu,' kau adalah wanita terhebat dan sangat mulia lagi sabar