Gunung Berapi Jaboi
Perjalanan ke gunung api Jaboi adalah sebuah tantangan. Meski keadaannya tidak berbahaya tetapi gunung api ini masih aktif sehingga kita harus hati-hati. Gunung api Jaboi termasuk destinasi wisata andalan kota Sabang, sayangnya lokasi ini minim pengunjung. Mungkin karena sedikit berbahaya dan belum di kelola dengan baik. Sepanjang perjalanan menuju kemari, kami hanya manggandalkan marka jalan. Lokasi ini gampang di cari. Setibanya di lokasi ini, tidak ada petugas yang menjaga dan juga tidak ada penjual makanan. Di sini juga tidak ada tempat parkir khusus. Jadi kita sesuaikan saja hendak parkir di mana.
Perjalanan saya dan sahabat-sahabat saya ke gunung api Jaboi, sejak awal hingga kami beristirahat di hutan mati telah saya tulis di bagian pertama tulisan ini. Ini dia link nya :
ššššššššš
Seperti yang telah saya tulis di bagian pertama, gunung api Jaboi ini kaya akan panas bumi. Sayangnya potensi ini belum di maksimalkan oleh daerah. Saya membayangkan jika sudah di manfaatkan sebagai sumber energi listrik geothermal, tentu Aceh tidak ada lagi krisis listrik. Perlu di ketahui ya, selama tinggal di Aceh, pemadaman listrik alias mati lampu bergilir kerap terjadi.
Berada di ketinggian 100 hingga 200 mdpl, gunung api Jaboi ini tidak memerlukan pendakian yang berarti. Hal ini dikarenakan lokasi wisata gunung api Jaboi sudah bisa di akses hingga ke atas gunung. Sehingga dari tempat parkir kita bisa langsung berjalan mengelilingi area wisata gunung api Jaboi.
Trekking Mencari Kawah
Selesai beristirahat dan puas berfoto di hutan mati, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak untuk melihat kawah Jaboi. Menuju kesana kami harus trekking menyusuri bebatuan yang berwarna coklat, putih dan kekuningan. Saya tidak tahu persis bebatuan apa, mungkin ini bebatuan kapur yang mengandung sulfur.
Selama trekking, sebaiknya membawa tongkat kayu karena sangat membantu dalam berjalan di bebatuan. Di sini kita benar-benar harus hati-hati. Bebatuan yang kita pijak rentan jatuh, apalagi medan yang kita lalui tidak rata alias menanjak. Dikhawatirkan batu yang kita injak bergulir ke bawah mengenai kawan kita, atau bisa juga kita tergelincir dan merosot ke bawah dan beresiko juga tertimpa batu. Sepertinya seram ya? Sebenarnya tidak juga. Tinggal kita hati-hati dan jaga jarak dengan kawan.
Di sela-sela batu kita akan menjumpai uap belerang yang menyembur keluar. Dari kejauhan seperti asap. Asap uap ini berbahaya dan bau belerangnya menyengat (seperti bau telur busuk). Menurut literasi, uap yang berbau tersebut mengandung HCL, CO2 dsn SO2.
Kami berjalan berlahan dan beberapa kali istirahat. Pemandangan di sini sangat asri. Meski di hadapan hanya hamparan bebatuan dominan berwarna putih, tetapi saat kita melihat ke bawah, tampak hamparan hijaunya hutan.
Kawah Jaboi
Akhirnya pendakian yang berlahan-lahan dengan nafas yang terengah-engah sampai juga ke sebuah lokasi yang kami anggap sebagai puncak. Tapi ternyata di hadapan kami masih ada hamparan bebatuan batu kapur yang terhampar dan menanjak. Kawasan ini memang luas. Sayangnya di sini tidak ada papan keterangan sehingga saya tidak tau ke depan itu menuju kemana. Menurut sahabat saya, di kawasan kawah Jaboi ini memang terdapat beberapa pos area kawah.
Saya memutuskan untuk mengentikan trekking. Di sini lah akhir perjalanan kami. Menurut saya, jika melanjutkan berjalan ke depan pun pemandangan kurang lebih sama. Mungkin karena kemarau, di area ini kami tidak menemukan sumber mata air yang mengalir. Kami hanya melihat lubang-lubang tempat kawah meluap. Lubang ini cukup unik. Bentuk nya tidak terlalu besar dan dari dalam menyembur asap berbau belerang. Jika di dekati akan terasa panas dan terdengar suara mendidih. Saya agak takut, tentunya di bawah pijakan kaki saya adalah aliran air belerang yang mendidih. Saya takut tiba-tiba terperosok.
Jika mengambil gambar ini hati hati ya, bisa jadi tiba-tiba uap menyembur ke wajah kita dan uapnya terhirup. Konon bisa sesak nafas dan pingsan.
Inilah kawah Jaboi. Memang berbeda dengan kawah-kawah gunung api lainnya yang besar berongga dan bahkan ada yang membentuk kolam sulfur. Tetapi pemandangan alam di sini tidak kalah indah dengan kawasan lain. Susana sepi malah membuat nyaman. Nuansa hutan masih terasa kental.
Kalau saya pribadi, lebih suka suasana seperti ini, alami dan sunyi. Mungkin karena belum ramai sehingga tak ada penjual makanan. Sampah plastik tidak terlalu banyak, tetapi ada. Tolonglah kawan-kawan semua, dengan tidak bosan kami menghimbau, untuk menjaga kebersihan dimanapun kita berada.
Lokasi
Desa Jaboi, Kec. Sukakarya
Sabang - Pulau Weh
INDONESIA
"Lasaklah ... Sebanyak, Sebisa dan Sejauh Mungkin, Karena Hidup Bukan Diam di Satu Tempat"
Kaki Lasak : The Story of my Travel, Photo & Food
Follow Me :
Steemit
Facebook Husaini Sani
Instagram kaki lasak ucok silampung
Whatsapp +6282166076131