Jika dalam beberapa postingan #seritokoh sebelumnya saya menampilkan real thinker atau prolific author, maka dalam edisi ini, saya akan ulas sosok penulis dari Aceh. Namanya adalah Sulaiman Tripa. Saya diberitahu bahwa Tripa itu singkatan dari Triengadeng Panteraja. Sekarang menjadi dua kecamatan di Kabupaten Pidie Raya. Sulaimana Tripa (ST) adalah sosok penulis Aceh yang sangat produktif. Selama saya mengenalnya, dia adalah sosok minim bicara, banyak kerja. Selalu mengambil rasa untuk membantu sesama. Tidak pernah mengeluh dengan keadaan. Rela berkorban untuk kebaikan bersama.
Saat ini, ST adalah dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala dan baru saja menyelesaikan program doktoralnya di Undip Jawa Tengah. Untuk membangun silaturrahmi, dia kerap mengajak kami minum kopi. Di situlah kita berdiskusi dengan berbagai teori keilmuan. Analisa ST terkadang menukik tajam. Dia adalah pembaca ulung, disamping sebagai penulis serba bisa. Dia telah menulis hampir 30 buku. Sebuah angka yang sulit ditemukan di kalangan para pendidik di Darussalam. Karyanya mencakup berbagai hal. Namun, ST juga sebagai seorang sastrawan. Jiwa seni mengalir dalam darahnya. Dunia aktifis pun pernah menjadi pengalaman hidupnya.
Satu hal yang saya pelajari dari ST adalah menuntaskan setiap pekerjaan hingga titik akhir. Kerap memfasilitasi berbagai diskusi di sudut kampus di Darussalam, walaupun pesertanya tidak begitu banyak. Karena suka mengambil berat beban orang lain, dia membantu orang tanpa pamrih. Karena itu, di tempat kerja dia dianggap staff pendidik yang tidak memiliki lawan. Di lingkungan kerjanya, dia adalah magnet dalam pertemanan. Ciri khasnya adalah senyum dan selalu mengiyakan omongan orang lain, yang membuat siapapun tidak khawatir mendekat kepada ST.
Produktifitasnya juga dapat dilihat dari kualitas tulisannya di blog pribadi. Hampir dipastikan meski sibuk mengajar, meneliti, membimbing, ST tetap menulis setiap hari di blog pribadinya. Nama blognya adalah kupi luho (kopi siang). Bagi saya, ST adalah penulis maraton. Hampir setiap hari saya menanti tulisan ST di blognya. Tulisannya singkat, tetapi bernas. Tata bahasanya sederhana, tetapi memikat akal dan rasa. Berbagai tema disajikan dalam blog pribadinya tersebut. Saya pernah mengatakan kepada ST bahwa dia layak memperoleh rekor MURI, karena dia mampu konsisten menulis setiap hari di blognya. Sulit mencari penulis yang memiliki dedikasi seperti ST.
Saya pernah mengintip disertasinya yang baru diselesaikan. Pengetahuan ST tentang ilmu hukum tidak diragukan. Kunyahan teori dalam penelitiannya pun sangat dominan. Analisanya tajam. Dia mampu melakukan visualisasi ide melalui berbagai skema dan tabel. Tidak hanya itu, ST tajam sekali membahasakan gejala sosial dalam ranah sosiologi hukum. Saya menduga ST adalah bagian dari sarjana yang mengembangkan gagasan tentang Hukum Progresif.
Melihat kualitas dan kuantitas karya ST, saya memanggilnya sebagai Abu Leman. Sebuah panggilan bagi seseorang yang memiliki kualitas spirit, kosmik, dan intelek di dalam jiwa dan pikiran seseorang. Level kepenulisan seperti ini memang seseorang menuju pada tahapan sebagai pemikir atau perenung. Biasanya banyak hasil renungan (theoria) yang muncul dari penulis kaliber ini. Salah satu kemampuan seseorang di dalam melakukan proses theoria adalah dia menggunakan bahasa tidak lagi sebagai penyampaian akal, tetapi juga rasa yang ada di dalam jiwanya. Karena itu, bahasa bagi mereka adalah bagian dari seni. Kemampuan lainnya adalah lebih menghormati pendapat orang, bukan karena menyembunyikan ketidaksetujuan, tetapi kemampuannya di dalam memahami jalur dan nalar berpikir seseorang.
Inilah salah satu ciri khas seorang intelektual yang sudah mapan cara berpikirnya. Kelezatan ilmu yang diperolehnya mengalahkan materi dan jabatan apapun di depan mata. Batinnya menjadi mata ketiga untuk melihat tingkah laku seseorang. Karena itu, senyum yang menghiasi bibirnya adalah bentuk kedewasaan yang menampakkan ciri sebagai orang yang menghargai pendapat orang lain. Ciri khas intelektual seperti ini agak sulit ditemukan di era alam materi dan jabatan selalu mengejar seorang ilmuwan.
Karena itu, kendati dia tidak punya materi yang berlimpah dan jabatan yang menjulang tinggi, dia tetap masuk kategori seseorang: “yang pergi tidak bayar, yang bayar tidak pergi.” Maksudnya, frekwensi keterlibatannya dalam dunia akademik tidak akan menghantam hasratnya untuk berkiprah di level yang lebih tinggi. Abu Leman memang selalu meninggalkan Bandara Sultan Iskandar Muda untuk terbang ke Pulau Jawa. Tidak sedikit seminar, workshop, dan aktifitas lainnya yang melibatkan Abu Leman di dalamnya. Dia termasuk sarjana yang termasuk dalam kategori mendapatkan SPPD (Sarjana Penulis Pemikir dan Ditunggu) dalam setiap forum ilmiah.
Model sarjana SPPD sangat jarang dijumpai, karena deep thinking-nya selalu menghasilkan tulisan-tulisan yang sangat mendalam. Perkawanan dengan intelektualnya membuat dia sangat istiqamah dengan apa yang dicapainya saat ini. Dia juga memiliki jiwa SPPD lainya, yaitu Sosial, Peduli, Penolong, dan Damai. Kategori SPPD ini membuat seseorang bisa diterima oleh kalangan manapun. Saya tidak meragukan jiwa sosial Abu Leman. Dia sangat peduli pada siapapun. Terkadang selalu hadir sebagai penolong pada sejawatnya. Demikian juga, kalau kita berhadapan dengan Abu Leman, ada nuansa damai yang muncul dari aura intelektualnya.
Oleh karena ini, saya berharap di kalangan generasi muda, sosok Abu Leman dapat dijadikan teladan. Tidak usah berpikir materi, kalau sudah berada di rimba ilmu. Tidak usah berada dalam konflik kepentingan, kalau punya gagasan yang cemerlang. Mengalah adalah kemenangan untuk memunculkan satu tarikan langkah untuk menghasilkan gagasan –gagasan besar yang melompati ruang dan waktu. Karya-karya Abu Leman tampaknya mencerminkan semangat untuk tetap berada di rimba ilmu, selalu memiliki gagasan cemerlang, dan selalu berpikir jauh ke depan.
Kita berharap Abu Leman mampu mendidik kader yang mencontoh kebijaksanannya dalam pertualangan akademik. Saat ini, Abu Leman sudah kembali ke Darussalam. Dia mengajar di program S-1 dan S-2 di Unsyiah. Dia mengelola jurnal di Fakultas Hukum. Aktifitas ini adalah pekerjaan ilmuan di republik ini, yaitu mengajar, meneliti, dan mengabdi. Kalau seseorang sudah tuntas di dalam ketiga hal tersebut, masyarakat suatu saat akan berterima kasih pada Abu Leman.
Saya sangat beruntung menjadi sahabat Abu Leman. Kami sering berdiskusi dalam satu kelompok kajian. Dia dapat menangkap apa yang menjadi kegelisahan kami di Darussalam. Abu Leman sama sekali tidak berlomba-lomba mengkritik orang lain. Dia pasrah dengan keadaannya. Tetapi kepasrahannya membuat dia lebih kuat di dalam mempertahankan idealismenya sebagai seorang akademisi.
Kita bersyukur ada yang memulangkan Abu Leman dari Jakarta. Salah seorang dosen Fakultas Hukum Unsyiah, M. Adli Abdullah menceritakan bagaimana memulangkan Abu Leman ke Darussalam. Cerita tersebut menggerakkan saya untuk berpendapat bahwa putera-putera terbaik Aceh ada dimana-mana. Mereka merantau untuk belajar tentang makna kehidupan. Kepulangan mereka adalah ibarat penantian seorang ibu terhadap puteranya yang nun jauh di sana. Sekali lagi, Abu Leman adalah musafir ilmu Aceh yang telah merantau jauh dan kembali ke kampung halamannya.
K. Bustamam-Ahmad