Sejarah panjang hadirnya di steemit di Indonesia setelah didirikan oleh oleh Ned Scott dan Dan Larimer pada tahun 2016 telah mencapai banyak kemajuan, meski belum bisa dikatakan sedang berada dalam masa keemasan namun steemian Indonesia telah sangat di perhitungkan dalam kancah persteemitan dunia. Apalagi perkembangan steemit di Indonesia samakin banyak diminati oleh berbagai kalangan.
Melihat pesatnya perkembangan steemit di Indonesia yang sangat pesat, berbagai macam permasalahan pun terjadi dan muncul ke permukaan, dimulai dengan munculnya berbagai konten yang tidak berkualitas dan plagiasi, suara sumbang kaum oppurtunis dan tidak meratanya vote, permasalahan ini pernah penulis alami atau mungkin para steemian semua.
Untuk itulah, kehadiran para ambassador dan para kurator sangat dibutuhkan untuk menjelaskan permasalahan mendasar di dunia steemit ini. Gejala sosial steemit tersebut akhirnya dijawab dengan penjelasan lugas dan diselingi humor menarik oleh Tuan Risman Rachman saat #promo-steem wilayah Aceh Jaya. Menurut saya Beliau termasuk orang yang merasa perlu untuk mengembalikan khittah “Tiga Ajaran Utama” dalam dunia steemit ini.
Pertama, Konten Cerdas (Smart Content). Steemian selalu diajarkan untuk menghadirkan sebuah konten yang sarat dengan manfaat dan menarik. Untuk menjadi steemian yang baik, maka berusahalah untuk mempertahankan konten. Apa itu konten ? secara singkat dapat kita pahami bahwa konten itu adalah isi dari sebuah tulisan, isi ini adalah ruh dari sebuah tulisan, meskipun orang tetap menjadikan bagian luar sebagai awal mula ketertarikan namun hal utamanya tetap berbicara isi. Konten inilah yang sangat menentukan karir panjang seseorang dalam platform ini, konten yang monoton atau bahkan tidak mempunyai isi sama sekali berakibat rasa bosan dari pada pembaca (reader) bahkan tidak menutup kemungkinan sang steemian itu sendiri. Sebagai contoh dalam penyajian konten yang konsisten yang saya ikuti sebelumnya adalah konten yang disajikan oleh dan @czehchglobalhosts dalam dunia fotografi dan
,
dan
dalam dunia menulis.
Ini problematika yang semakin sering dihadapi oleh para steemian baru di negeri ini, semangat yang menggebu serta orientasi upvote menjadi hal yang utama dan lupa bahwa steemit adalah sebuah wadah yang yang mementingkan konten. Steemit menghargai setiap kreasi, tapi steemit lebih menghargai isi dari setiap kreasi tersebut. Hal ini jika dikaitkan dengan dunia saya saat ini yang berkecimpung dalam dunia hukum tentu hampir serupa dengan azas kepastian, keadilan dan kemanfaatan hukum. Pasti dalam memberikan yang konten terbaik dan menarik, adil dalam bertindak memberikan penghargaan berupa voting dan pasti mendapatkan vote jika telah ada komunitas yang saling mendukung.
Kedua, Komunitas Cerdas (Smart Community). Dalam penjelasan beliau bahwa membuat jaringan adalah salah satu solusi jika ingin berumur panjang di platform ini, hal ini mau tidak mau harus kita benarkan, kenapa ? kita kembali kepada sebuah istilah yang sudah tidak asing di telinga yaitu bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak mungkin hidup sendiri dan selalu butuh kepada bantuan orang lain. Tidak peduli seseorang tersebut sekuat apa, sekaya apa, dan setenar apa jika keberadaaanya hanya sendiri, maka sudah pasti seseorang tersebut pasti akan mati berdiri dalam kesendirianya.
Demikian halnya dalam platform ini, semakin luas seseorang tersebut menciptakan jaringan maka semakin terbuka lebar kesempatan untuk mendapatkan bantuan dari steemian yang lain termasuk salah satunya adalah voting, atau seperti yang dialami oleh Tuan Yarmen Dinamika yang mendapatkan 200 SBD. Mau tahu kenapa beliau mendapatkan hal tersebut ? silahkan bertanya sendiri. Namun berat dugaan saya bahwa ini tidak terlepas dari kemampuan dan kejelian Tuan Risman Rachman melihat bahwa pengembangan steemit ini akan mendapatkan respon yang luar biasa dari korespondesi yang telah dibina sejak lama oleh Tuan Yarmen Dinamika yaitu Forum Aceh Menulis (FAMe), sungguh sebuah dinamika yang tak diduga-duga. Kenapa FAMe ? sekali lagi saya menduga bahwa ini adalah tanah subur yang tak henti-hentinya akan memproduksi para penulis. Ini adalah peluru yang tak pernah akan nada habisnya.
Ketiga, Cerdas dalam hal Keuangan (Smart Financial) pada dasarnya bersifat visioner. Keberhasilan seseorang mempertahankan dua ajaran diatas, pastinya akan membuat seseorang tersebut berhasil dalam mendulang keuntungan pada dunia ini (kecuali sang steemian telah meninggal dunia). Selama ia hidup dalam platform ini pasti akan mendapatkan sejumlah keuntungan, dompet-dompet pasti akan terisi setiap waktu. Namun keteledoran, kekurangan atau tindakan ceroboh dalam memenej keuangan tentu berakibat fatal, diantaranya adalah nilai kurasi yang rendah.
Oleh sebab itu maka untuk menancapkan kekuatan tersebut maka harus dilakukan melalui penguatan pada steem power. Trik yang diajarkan Tuan Risman diantaranya adalah “ikuti para senior” dan orang yang telah memiliki reputasi tinggi. Tujuannya adalah mereka kemudian bermurah hati, itu juga kalau konten yang disajikan menarik dan bermanfaat. Apresiasi dari para senior tersebut tentu sangat berpengaruh dalam peningkatan nominal vote. Tapi ingat, bahwa memberikan vote kepada yang lebih tinggi reputasinya adalah trik yang salah, karena sama seperti “Menggarami air laut”, tapi juga tidak salah jika melakukan vote jika ternyata konten para senior tersebut berkualitas bukan dalam bentuk “cakologi”.
Masih banyak catatan lain yang sangat penting saat mengikuti #promo-steem tersebut, namun ketiga hal diatas menjadi fokus dari workshop tersebut. Biarlah terlambat mengetahui daripada tidak sama sekali.
Aceh Jaya adalah Gerbang Raja Sejati...
Pantai yang indah jadi kebanggan Negeri..
Dari Calang Kami Menyapa Bumi Pertiwi..
Tiga Ajaran Utama dan Tali Silaturrahmi..
#“Where there is a will, there is a way”
*** Note : Penyebutan akun steemit dalam postingan ini bukan bermaksud tidak sopan, namun sarana promosi gratis.***
Hormat kami steemian Aceh Jaya
Follow, Vote, Comment me