Masjid kita menghadapi dua jurang ekstrimisme. Jurang ekstrimisme yang pertama adalah Simbolisasi. Jurang ekstrimisme yang kedua adalah Substansi.
Simbolisasi yang digaungkan adalah tentang kesakralannya. Karena sakralnya maka tak boleh digunakan selain tempat sujud semata. Namanya juga masjid, tempat sujud, maka tak boleh digunakan merapikan barisan umat, mencerdaskan umat, muhasabah perjalanan umat atau merancang masa depan umat. Begitu ekstrimnya mereka atas dasar simbolisasi.
Substansi yang digaungkan adalah tentang kefungsiannya. Karena fungsinya membina nilai humanis, maka tak perlu lagi ke masjid bila telah menjadi sosok humanis. Toh, tanpa ke masjid, kita juga sudah humanis. Begitu ekstrimnya mereka atas dasar substansi.
Padahal pada masjid ada nilai ketaatan yang lebih dari sekadar simbolisasi dan substansi. Itulah nilai ketaatan dari pembacaan Al Quran seutuhnya. Itulah nilai ketaatan dari pembentukan pribadi Muslim sebenarnya.