ENTAH
Adakah kita berjalan diantara puing-puing kehancuran tahta
Atau kita hanya sekedar melawatinya dari waktu ke waktu
Tanpa peduli bagaimana tahta itu sendiri telah hancur berkeping karena termakan usangnya moral kita
Berliku jalan atau lurus hanyalah suatu manifestari
Tak lebih, juga tak kurang
Peradaban pun hanyalah sebuah sesembahan semu yang tak memiliki makna yang jelas, hanya sebuah ambigu.
Bila kita hanya mampu melihat kehancuran.
Lantas dengan bahasa apa lagi aku harus berteriak.
Telah serak suara ku.
Menolehlah sedikit saja
Lihat bagaimana tahta telah hancur
Jangan hanya bisa berbisik pada tetangga