Aceh seperti ditakdirkan dengan goresan sejarah kelam yang melekat pada tubuhnya, yang dalam imajinasi syair Aceh sering disebut berbentuk segitiga; "Aceh Lhee Sagoe". Sagoe adalah 'sisi' yang cenderung berbentuk runcing.
Semua sepakat bahwa Aceh dan sejarahnya sungguh amat kaya. Kisah-kisah heroik, perjuangan, hingga kisah kelam ialah tiga bentuk narasi sejarah yang kental bagi Aceh. Hingga kadang, sering kita mendengar selegek-an bahwa Aceh tak kenyang-kenyang mendongengkan sejarahnya.
Tetapi, itulah titik pentingnya. Sejarah, bila tak dinarasikan akan menjadi dongeng yang ditertawakan. Memang, ada ungkapan yang mengatakan bahwa sejarah yang ditulis oleh pemenang sering kali sumbang. Maka, hari ini, sebagai Aceh yang dulu pernah -maaf- tersakiti, dengan momentum 19 tahun tragedi Arakundo 3 Februari 1999-3 February 2018, Idi Cut, Aceh Timur, perlu ditulis kembali sebagai refleksi bahwa Aceh pernah cukup disiksa di masa lalu.
Menulis kembali potongan sejarah dari bagian badan sejarah yang besar dengan tubuh bernama konflik, merupakan bentuk merawat ingatan kolektif Aceh agar tegar dan dapat memandang masa lalu sebagai lembaran pelajaran yang musti dibaca ulang, demi masa depan yang cemerlang. Tentu, dengan harapan, sejarah kelam yang penuh lara tak terulang kembali.
Tragedi Arakundo, bagi banyak kalangan dianggap sebagai pembantaian paling sadis saat konflik berkecamuk di Aceh. Di suatu malam yang pekat, berawal dari kegiatan masyarakat yang hendak menyaksikan ceramah (dakwah), pihak aparat mencurigai adanya pesan-pesan kemerdekaan untuk Aceh. Mereka pun berang! Mengamuk! Sekali dua melakukan tembakan ke udara, sebelum kemudian melepaskan ke segala penjuru. Tak sedikit masyarakat sipil merenggang nyawa.
Tragedi penuh darah malam itu tak sampai disitu saja, dari banyak literatur yang ada, para aparat memeriksa masyarakat setempat. Bagi yang masih hidup diarahkan untuk naik ke dalam sebuah mobil. Kabarnya, satu mobil terbsebut mengangkut sejumlah 58 orang.
Menurut kesaksian masyarakat yang bermukim di sekitaran jembatan, mereka mendengar jeritan manusia yang lara di tengah lenggangnya malam. Suara minta tolong menyayat hati, sebelum perlahan-lahan hilang.
Di dalam mobil, orang-orang dieksekusi, dipukuli, ditendang, baik dengan anggota tubuh maupun senapan. Kemudian, dimasukan ke dalam goni dengan tubuh diikat kawat plus pemberat berupa batu. Setelah itu, satu per satu, baik yang sudah mati ataupun belum, dilemparkan ke sungai.
Astagfirullah, membayangkannya saja, membuat saya, mungkin juga saudara, mengelus dada.
Saya bersyukur lagi beruntung, salah seorang sahabat saya Muhammad Ramadhan (MR), adalah putra asli Aceh Timur, yang rumahnya tepat di samping jembatan Arakundo. Darinya, saya bertanya banyak hal mengenai tragedi tersebut. MR dengan tatapan setengah kosong, berusaha mengingat-ingat kembali episode sadis dari bagian masa kecilnya yang cukup pilu. Saat itu, umurnya kurang lebih enam tahun.
MR hari ini sudah tumbuh menjadi sesosok lelaki manis lagi tampan. Ia baru saja menyelesaikan studinya di salah satu Universitas terbaik di Banda Aceh. Sekarang, tinggal menunggu jadwal wisuda tiba. MR, adalah satu dari banyaknya pemuda di sana yang memandang masa depan dengan optimisme. Hidup, harus terus berjalan dengan segala target dan harapan. Sedangkan masa lalu, andai pun kelam, ia tak boleh dipadamkan serta merta. Sejarah kelam, sebagaimana fitrahnya luka, sembuh. Tapi bekas luka susah untuk benar-benar hilang.
Dulunya pihak Amnesty Internasional telah menyarankan agar tragedi Arakundo diproses. Saya tidak tau bagaimana hasilnya. Dewasa ini, dengan sudah hadirnya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, diharapkan akan membuka beberapa lembaran sejarah yang mungkin masih tertimbun dan tak pernah terungkap dari tragedi Arakundo.
Sejarah kita, mengingatkan saya pada sebuah quote yang disampaikan oleh Stebby Julionatan:
Sepatu bisa dibaca sebagai alas dan jejak arah melangkah. Sepatu, bagi masyarakat Aceh, adalah sebentuk benda yang identik dengan aparat. Dari sepatu tebal lagi keras itulah, kerap menendang dada Aceh, kepala Aceh, bahkan kemaluan Aceh. Semoga, sejarah Arakundo dapat dimaknai sebagai sepatu melangkah, melangkah ke segala penjuru menjadi peluru impian yang menembus langit hingga tumpah hujan rahmat dan rahim-Nya berupa kebahagian kepada segenap Aceh. Amin
Maka, saban 3 Februari mengenang tragedi Arakundo menjadi penting. Agar yang tercecer tak lagi berantakan. Agar yang lupa, teringat kembali. Agar mereka yang menjadi korban kala itu, tetap hidup di hati kita. Karena pada akhirnya, sejarah sebagaimana kata Dee lestari: