Tuhan memang selalu punya cara bagaimana sebuah cerita menemukan momennya untuk terbang, hinggap, terlihat, terlintas lalu terbaca. Entah yang terbaca utuh, bisa juga berupa mozaik-mozaik yang tercecer, atau minimal menikmati cerita dari kisah orang lain.
Teman-teman sekalian, pemilik ini bernama lengkap Ichsan Maulana, seorang lelaki yang percaya, bahwa ditengah pertanyaan kapan gemuk; kelak tubuhnya akan ideal.
Kerap dipanggil dengan beberapa sebutan; Ichsan, ICM, Doto, pun sesekali dipanggil dengan nama kartun Itachi. Anak ke dua dari 4 bersaudara.
Setiap orang tentu punya sisi lain yang dalam standar umum yang kerap ingin diketahui. Semisal apa kegiatan, hobi dll. Kegiatan saya hampir saban hari mengisi absen di warung kopi, merenda waktu dari satu kebosanan kepada suntuk berikutnya. Namun, nongkrong tanpa laptop dan relatif tidak begitu nyaman di warung kopi yang sibuk dengan benda tersebut.
Suka berdiskusi dengan siapa saja, dari yang bertopik berat hingga remeh temeh. Semisal; Bagaimana geopolitik dunia hari ini dan di masa hadapan? Atau, mengenai berapa jenis lipstik yang sudah dikenakan Dian Sastro Wardoyo? Sebagai seorang fans Dian garis keras namun tetap elegan, mengikutinya adalah keniscayaan sekalipun terus ditodong kenapa tidak Aura Kasih saja? Saya menjawab; bahwa saya terlalu kurus untuk ukuran Aura yang montok. Hehe. Sudah, yang barusan hanyalah intermeizo belaka.
Saya memiliki hobi membaca, kerap berburu buku, dan tak sungkan menghabiskan waktu untuk membaca di tempat keramaian. Pun demikian, saya jelas jauh dari kata kemayu, sebab selama ini, lelaki yang suka membaca dan buku kerap dipandang dalam doktrin tak jelas bahwa ia nya kemayu. Sekalipun tak semuanya. Bacaannya beragam, tidak linear. Dari yang sangat remeh hinga berat sekalipun. Ada tanggung jawab lain yang saya yakini, bahwa, selain harus memenuhi nutrisi tubuh, saya juga perlu memperbaiki gizi pada alam pikiran. Maka, membaca adalah pilihan yang baik untuk itu.
Selain membaca, saya boleh dibilang (juga) penulis. Di salah satu media cetak lokal Aceh, dipercaya mengisi kolom sepakbola. Kerap menulis esai, opini, juga puisi. Di tingkat nasional juga pernah beberapa kali menulis di web media alternatif, seperti menulis di Voxpop.id juga Minumkopi.com. Bagi saya, dulunya, menulis merupakan ritual lain dari pada mengisi kesepian. Beberapa kesempatan juga turut mewarnai media online lokal kita.
Di lain sisi, saya juga menyukai hal-hal yang berbau seni. Lebih kepada penikmat. Satu hal lain yang tak kalah saya sukai adalah dunia foto. Sekalipun, tidak dan jauh dari layak menyebut diri fotografer. Saya lebih sering mengabadikan momen melalui gadget kerimbang kamera profesional.
Perihal steemit, kehadiran saya tidak terlepas dari pada ajakan teman-teman. Bahkan beberapa kali saya dimarahi kenapa tak kunjung mendaftar atau kenapa tak lekas saya tuntaskan perkenalan. Terima kasih tak terhingga untuk ,
,
,
,
,
,
dan beberapa teman lainnya yang tak mungkin saya sebut semuanya. Pada mereka saya belajar untuk lentur, mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. Tak lupa pula kepada para kurator
,
. Terima kasih juga kepada NSC, BSC dan KSI Banda Aceh.
Suka atau tidak suka, kehadiran steemit tak ubahnya tawaran baru terhadap sebuah platform, sekalipun kontennya tidak lah baru-baru amat. Yang menarik bagi saya adalah, steemit menjadi medium lain yang juga turut andil dalam menggerakkan literasi. Di lain sisi pun, Steemit menjadi tempat rehat untuk berbagi di tengah deru tetangga (media sosial) yang bising lagi cemong lantaran hoax yang tumbuh bak cendawan di musim hujan.
Akhirnya, (semoga kita) dalam jejaring Steemit bisa saling mewarnai, berbagi, dan mencerdaskan. Dalam hidup ini, kita memang boleh mencoba hal-hal baru tanpa menafikan yang telah lama. Zaman terus bergerak, lini digital terus berubah, dan kita (manusia) sebagai entitas di dalamnya (idealnya) menjadi nahkoda yang paham navigasi kemana semuanya bermuara.
Terima kasih. Salam damai nan hangat dari saya. Dari Aceh untuk dunia.