Rasanya sakit kepala memikirkan sistem pendidikan di Indonesia pada saat ini. Bukan hanya soal mahalnya, tetapi juga soal kualitas terutama apa yang diajarkan. Anak-anak Indonesia dibuat menjadi sangat lemah untuk bisa menganalisa apalagi untuk menjadi kreatif dan memiliki kepribadian yang kuat. Enah apa ini karena unsur kesengajaan atau bukan, tetapi yang pasti ini sudah sangat merusak. Kalau sampai tidak tahu, rasanya kebangetan, studi banding ke luar negeri sudah sering dilakukan, masa tidak paham juga, ya?!
Masa muda di Boston, Amerika
Putra sulung saya, , baru saja menyelesaikan ujian SMA-nya. Sudah sejak dia masih kecil, saya memang bercita-cita untuk mengirimkan dia sekolah di luar negeri, dan dia sendiri pun sudah terus menyiapkan dirinya untuk kuliah di Jerman. Dia memang ingin sekali sekolah di Jerman sesuai dengan minatnya, mesin otomotif agar kelak bisa membuat mobil yang 100% buatan Indonesia. Tentunya pasti dipikir akan sangat mahal ya biaya sekolah ke luar negeri, padahal kalau pernah menikmati sekolah di luar negeri, pasti akan tertawa sendiri. Dulu iya, barangkali mahal,kalau sekarang, malah lebih mahal sekolah di Indonesia, deh!
Contohnya kawan saya, anaknya baru saja mendapatkan undangan masuk sekolah kedokteran di Universitas Indonesia, pastinya dia sangat senang kegirangan. Namun kemudian menjadi pusing sendiri ketika mengetahui biaya yang harus dibayarkan di muka, yaitu sebesar Rp.150 juta untuk masuk kuliah kedokteran. Itu belum termasuk uang semesteran dan lain-lain sampai selesai. Setelah dihitung-hitung, untuk anaknya sampai selesai sekolah kedokteran, dia harus menyiapkan antara 450-500 juta. Sakit kepala langsung! Maklum kawan saya ini dan istrinya adalah pegawai swasta yang walaupun dalam sebulan berpenghasilan mencapai Rp.25 juta tetapi untuk hidup di Jakarta dengan 3 orang anak, itu sudah sulit untuk bisa berlebihan. Mana harus bayar cicilan rumah dan kendaraan pula, haduh stress deh!
Saya pun bertanya-tanya dengan kawan-kawan lain yang anaknya sudah kuliah baik di swasta maupun negeri, mereka harus mengeluarkan uang minimum 6 juta per semester, sementara rata-rata berkisar 10 -20 juta per semester. Itu belum biaya masuk ke kampus yang harus dibayar di awal, yang minta ampun deh mahalnya, memang ada yang sekitar 15 juta tapi bukan sekolah favorit. Kebanyakan kawan-kawan yang anaknya sekolah di sekolah favorit, harus mengeluarkan uang sekitar 30-75 juta untuk masuk saja. Jika ditambah lagi dengan uang kos dan pengeluaran per bulan, anggap saja 4 tahun selesai, maka harus punya uang paling tidak 200 juta untuk bisa menyekolahkan anak di kampus-kampus terbaik.
Saya pun mengajak anak saya untuk membandingkan beberapa sekolah baik di Indonesia maupun di luar negeri, sekaligus untuk tahu berapa sih, sebenarnya biaya yang diperlukan untuk anak saya sekolah di sana. Kebetulan ada kawan yang lulusan dari sana dan bekerja di Habibie Center serta membuka tempat untuk membantu anak-anak Indonesia yang mau pergi sekolah ke Jerman, Perancis, dan Turki, namanya Exzellenz Institute di kota Depok, Di tempat ini anak bisa mendapatkan bimbingan intensif selama 6 bulan dan terus dibimbing sampai ke Jerman, serta terus juga dipantau perkembangannya. Di tempat ini ada banyak sekali pencerahan yang sangat berguna, kalau mau tanya-tanya ke sana saja!
Sumber: http://exzellenz-institut.com/
Nah berhubung anak saya ini merasa tidak bakal betah tinggal di asrama dan apalagi harus intesnsif setiap hari, karena dia memang anak spesial, maka saya pun mencari alternatif lain. Lagipula dia masih menunggu ujian masuk perguruan tinggi negeri. Jadilah saya pun mengajaknya ke Goethe Institute di Bandung, tempat belajar bahasa Jerman. Untuk kursus bahasa Jerman sendiri biasanya per paket selama 3 bulan antara 2-5 juta sampai 8 juta rupiah, tergantung seberapa intensif. Khusus untuk bahasa Jerman, memang ada kewajiban bisa sampai pada level min. B1, sebelum kemudian bisa mendaftarkan diri masuk ke college di sana. Bedanya kalau pergi sendiri, maka semua harus dipersiapkan sendiri, sedangkan kalau mau benar-benar dipersiapkan oleh lembaga seperti Excellenz Institute, itu lebih mudah. Saya tergantung anak saya saja maunya bagaimana.
Anak saya memang tidak bisa lansung masuk ke kampus, harus mengulang dulu kelas 3 SMA untuk penyesuaian, namun biayanya rata-rata hanya berkisar 8-20 juta saja sampai lulus S1 loh! Biaya hidup mungkin sedikit lebih besar, sekitar 5 juta per bulan, tetapi setiap siswa internasional bisa bekerja sampai 20 jam per minggu, dan ini cukup banget buat biaya hidup, malah lebih! Apalagi kalau kerja selama 3 bulan pada saat liburan, wah ini bisa dapat uang cukup untuk setahun. Jadi intinya, saya tidak perlu pusing dengan biaya hidupnya, cukup memberi bekal di awal saja. Saya juga dulu kuliah di luar negeri kerja, kok!
Pemerintah Jerman memang memberikan fasilitas yang sangat besar untuk menunjang pendidikan di negaranya. Sebagai negara yang menduduki ranking ke 4 dunia dengan jumlah penduduk hanya 81,8 juta jiwa, dan anggaran pendidikan sebesar 76.283.000.000 Euro (2006) belum termasuk anggaran penelitian sebesar 10,4 juta Euro, tentunya ini bisa membuat sekolah menjadi sangat murah, boleh dibilang gratis. Dulu memang gratis sih, tapi sekarang untuk mahasiswa internasional dikenakan sedikit biaya saja, per semester sekitar 2 juta Rupiah saja, itu pun sudah di kampus yang bergengsi banget. Gilingan padi! Sirik banget, bandingkan dengan negara kita! Malu sendiri lihatnya!
Sumber: Goethe Institute Bandung https://www.goethe.de/ins/id/en/sta/ban/ver.cfm?
Yang beratnya memang harus ada uang jaminan sekitar 8500 Euro yang ditaruh di bank sebagai jaminan sekolah di sana, dan ini yang biasanya membuat banyak orang tua keblinger. Jaminan sebesar kurang lebih 140 juta rupiah ini, sebenarnya nanti bisa diambil oleh anak setiap bulan, namun dibatasi jumlahnya agar tidak cepat habis, dan bisa ditarik kembali pada saat selesai sekolah. Jumlah ini malah lebih murah bila dibandingkan dengan harus bayar uang masuk sekolah kedokteran di sini yah, soalnya nggak bisa ditarik lagi juga, deh! Nah, karena saya juga punya wallet di Steemit ini, saya jadi mendapatkan kemudahan loh! Saya bisa menggunakan Steem/SBD sebagai jaminan untuk saya sekolah di sana. Mereka sudah mulai menerima pembayaran dan jaminan menggunakan uang crypto, asyik kan?!
Nah, yang paling menariknya nih, ketika sudah lulus sekolah dan balik ke Indonesia, masih ada lagi tunjangan per bulan yang diberikan selama 2 tahun, sebagai bantuan selama anak saya nanti mencari kerja atau mau membuka usaha baru. Kalaupun dia memang butuh uang untuk membeli peralatan seperti bengkel/pabrik mobil seperti yang dinginkannya, maka dia bisa mengambil jatah sebesar 10 ribu Euro sebagai bantuan untuk membeli peralatan. Enak banget, yah! Catatannya hanya satu, tidak boleh kembali ke Jerman untuk bekerja, kalau pun sekolah ya nggak boleh sambil kerja lagi. Saya pikir tidak masalah, karena dia akan kembali untuk membangun negaranya. Semoga demikian! Hahaha....
Saya tidak berkata bahwa sekolah di luar negeri itu lebih baik, karena memang harus hati-hati memilih sekolah. Sama saja sebetulnya dengan di Indonesia, sebaiknya memilih sekolah yang bermutu dan berkualitas, dan berhubung sudah ke luar negeri, ya jangan tanggunglah! Ngapain hanya sekedar kuliah di luar negeri di sekolah abal-abal, rugi sendiri! Buang duit dan waktu itu namanya! Banyak kok lulusan luar negeri yang hanya asal dari luar negeri, tapi kosong isinya.
Sekolah bukan buat kerja pula, ini menurut pendapat saya pribadi, sekolah itu untuk belajar menganalisa dan memiliki cara berpikir yang lebih kritis, dapat menemukan masalah dan merunutnya dengan lebih teratur agar dapat mencari solusi. Selain itu, kuliah juga waktunya untuk mendapatkan pengalaman dan relasi, karena ini sangat penting untuk ke depannya. Kalau hanya untuk kerja, nggak usah sekolah juga nggak apa-apa, banyak orang bisa kerja tanpa sekolah pun. Kalau juga hanya untuk cari uang, buat apa juga, sekolah itu justru untuk mendidik kita menjadi tahu tujuan kita ke depan, yang tentunya uang itu tidak seharusnya menjadi tujuan. Kalau uang untuk memenuhi kebutuhan hidup oke, tapi payah banget kalau uang dijadikan tujuan hidup, bagaimana mau sukses?!
Kelebihan sekolah di luar negeri, menurut saya pribadi juga, yang kebetulan pernah mengenyam pendidikan di berbagai negara, adalah kita mendapatkan kesempatan belajar dengan baik dan benar. Kalau di Indonesia, satu semester bisa ambil kuliah 5-7 mata kuliah itu biasa, cobain saja di luar negeri, 3 mata kuliah saja gempor! Apalagi jika benar-benar sekolah di tempat yang berkualitas dan bermutu, yang namanya baca dan menulis itu kewajiban yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tidak memiliki wawasan luas, sama artinya bunuh diri, dan tidak ada sangkut pautnya dengan koneksi, mau anak pejabat pun kalau malas sekolah dan tidak mau belajar, jangan harap bisa mendapatkan nilai baik dan lulus. Lagipula fasilitas praktek dan penelitiannya sangat menunjang, sehingga kita bisa melakukan banyak sekali eksperimen dan mendapatkan banyak pengalaman tanpa harus takut karena tidak mampu memiliki biaya. Semua disediakan dengan mudahnya dengan gratis, belum lagi buku di perpustakan yang sangat lengkap. Hedeh, di sini perpustakaan kampus sangat menyedihkan!
Belum lagi soal relasi, jujur saja saya mendapatkan banyak relasi yang terbina dari masa sekolah kebanyakan adalah ketika di luar negeri, terutama hubungan dengan orang luar. Ada banyak kawan sekolah yang sekarang menjadi diplomat dan pejabat tinggi di negara masing-masing, dan juga jadi pengusaha yang sukses. Enak kan, punya banyak teman di mana-mana. Inilah yang membuat saya mendukung anak saya sekolah di luar negeri, apalagi mengingat situasi pendidikan di negeri kita sedang sangat buruk. Saya tidak mau merusak anak saya karena masa depan itu harus lebih baik, dan saya selalu berdoa agar dia menjadi anak yang benar berguna bagi bangsa dan negaranya kelak. Semoga saja dikabulkan dan diridhoi Allah, ya!
Yah, ini sekedar tulisan yang semoga dibaca oleh pemerintah terutama mereka yang berkecimpung di bidang pendidikan. Kita sebaiknya malu hati karena merasa sudah sangat baik terhadap masa depan, tetapi ternyata di luar sana ada yang lebih baik lagi di dalam membantu anak-anak ini untuk memiliki masa depan lebih baik. Tak heran bila mereka menjadi negara yang maju karena pendidikan itu sangat dinomorsatukan dan anak benar diberikan kebebasan untuk berpikir dan belajar, bukan dimatikan pola pikir dan cara berpikirnya dengan dipaksa dan dijubeli hal-hal yang tidak perlu dan belum waktunya. Kasihan, bagaimana bisa bersaing dengan negara lain bila terus demikian? Bagaimana pula mereka bisa memiliki kepribadian yang kuat dan mandiri bila tidak pernah diberikan kesempatan menjadi diri mereka sendiri yang mampu untuk kreatif dan mandiri.
Semoga berguna dan bermanfaat.
Bandung, 28 April 2018
Salam hangat selalu,
Mariska Lubis