Sudah lama saya ingin menulis soal seks lagi, tetapi ada yang lebih ingin saya tuliskan, tetapi kali ini saya tidak tahan lagi. Saya ingin sekali menulis tentang LGBT, yang sepertinya sangat ditakuti sekali. Padahal, menurut saya, tidak ada yang perlu berlebihan, karena jika kita berlebihan menyikapi justru tidak akan membuat simpati dan membawa kebaikan. Ada banyak cara yang lebih baik untuk menyikapi hal ini.
Sumber: cdn.asiancorrespondent.com
Riset mengenai perilaku seksual termasuk LGBT sudah saya lakukan di tahun 1997-2012. Saya bahkan pernah bekerja di toko baju Gay dan Lesbian di Australia untuk bisa mengenal lebih dekat dengan mereka. Saya ikut acara pesta dan berbagai kegiatan mereka, karena saya harus "nyemplung" kalau benar mau tahu, bukan hanya sok tahu dari kata orang saja. Dosen "Human Rights" saya pun seorang pria ketua LGBT se-Australia dan dia adalah pejuang hak asasi manusia yang sangat kondang di dunia ini. Saya pernah juga masuk dan melakukan riset di sebuah taman tempat mereka “berjualan” pada malam hari di Ibukota, sampai saya pernah ikut ditawar dikira saya perempuan jadi-jadian yang jualan pula. Ampun, deh! Yah, pengalaman lucu!
Berulang kali saya sudah menulis bahwa kita tidak bisa menghindari keberadaan mereka di dunia ini. Ada berbagai faktor yang membuat mereka demikian, dan tidak semuanya kemudian bisa bilang bahwa kita tidak memiliki peran atas merambahnya keberadaan mereka. Banyak di antara mereka yang memang terlahir tidak sempurna juga, sehingga sulit bagi mereka untuk menentukan sebenarnya apa jenis kelamin mereka. Pria berahim, memiliki jumlah hormon estrogen yang tinggi sehingga tidak memiliki rambut dan jakun, atau kebalikannya, perempuan yang memiliki vagina dan rahim tidak sempurna, berjakun dan memiliki hormon testosterone yang sangat tinggi. Saya anggap ini adalah sebagai ketidaknormalan yang barangkali mereka pun tidak menginginkannya. Bagi saya, itu adalah kodrat dan takdir, yang saya juga bingung siapa yang mau disalahkan.
Tak sedikit juga pria LGBT adalah korban dari pelecehan seksual, kenikmatan seks pertama yang mereka rasakan dan nikmati adalah dari sesama jenis.. Sayangnya, penanganan atas masalah ini tidak dilakukan dengan baik, sehingga kecenderungan untuk terus meningkat tidak bisa dihindari. Apalagi ditambah dengan kurangnya pendidikan seksual di masyarakat yang baik dan benar, cenderung hanya menyalahkan dan menganggap kotor masalah ini, sehingga sulit sekali penanganannya.
Begitu juga dengan perempuan, banyak kasus perempuan menjadi LGBT karena masalah faktor psikologis, terutama karena perilaku dari ayah kandung dan pria di sekitar mereka. Rasa kecewa yang mendalam akibat ayah yang tukang selingkuh dan memperlakukan perempuan tidak baik, membuat banyak sekali perempuan memilih menjadi LGBT karena takut diperlakukan tidak baik sama seperti bagaimana ayah dan para pria di sekitarnya memperlakukan perempuan.
Tentunya memang tidak semua demikian, peran dari media juga sangat mengerikan. Lihatlah bagaimana tontonan yang menampilkan para selebriti LGBT ada di mana-mana, sehingga memberikan kesan bahwa itu adalah normal, lumrah, dan bahkan keren. Untuk menjadi selebriti dan terkenal, serta berbeda, ya pada akhirnya dianggap peran LGBT adalah salah satunya. Yang bikin pusingnya, yang membuat mereka terus bisa tampil dan hebat kan penonton, jadi siapa yang harus disalahkan?!
Dari pengalaman dan riset yang saya lakukan, saya menyimpulkan bahwa komunitas LGBT ini memberikan tangan yang lebar bagi semua yang “ditolak dan tidak diterima” masyarakat, mereka yang dihina, dikucilkan, merasa takut, dan tidak percaya diri. Hal ini hendaknya kita pahami terlebih dahulu dan sadari dulu, sehingga kita jadi tahu persis apa yang harus dilakukan. Kita tidak bisa melulu menyalahkan iman dan menuduh orang lain tidak beriman lalu menjadi LGBT, tetapi harus diakui bahwa kita pun yang merasa beriman banyak sekali yang tidak bisa berperilaku sesuai dengan ajaran agama. Kita begitu mudah menghina, menuduh, dan mengucilkan orang lain, merasa lebih baik dan paling benar, tidak memberikan kesempatan kepada oran lain untuk diterima dengan baik di dalam masyarakat karena berbeda. Banyak korban pelecehan seksual yang bukannya dibantu diberikan semangat, malah dihina dan dikucilkan, kan ini gawat sekali!
Saya tidak membela mereka dan tidak juga bisa menyalahkan mereka begitu saja. Kasus per kasus hendaknya dipelajari dengan baik dan bijaksana. Kita harus bisa melihat keberadaan mereka saat ini karena juga faktor masalah sosial dan ekonomi, di mana ada banyak sekali kebimbangan dan keresahan yang membuat orang sulit untuk bisa tetap kuat, apalagi jika tidak dibantu oleh lingkungan sekitarnya. Budaya instant juga sangat berpengaruh, menjadi LGBT juga bisa menjadi jalan pintas untuk ngetop, kok! Mau berdebat soal agama pun sepertinya kurang bijaksana menurut saya, karena bisa dengan mudahnya semua diputarbalikkan mengingat banyaknya kesalahan dan perilaku buruk yang sudah dibuat oleh mereka yang justru sering berkoar soal agama. Ini sangat memprihatinkan, dan saya sangat menyangkan, karena membuat semakin sulit menangani masalah ini. Saya sendiri sudah sering menghadapi perdebatan ini, dan harus berpikir keras sekali.
Pada akhirnya saya kemudian berpikir, berapa persen sih, mereka itu? Sebenarnya tidak banyak, lantas mengapa kita harus takut dengan mereka?! Semakin kita takut dan berlebihan, banyak menulis, bercerita, lalu ada di mana-mana sampai sedemikian hebohnya, justru membuat mereka semakin tumbuh dan berkembang. Kenapa? Ya, itu bukti bahwa eksistensi mereka diakui dan menjadi nampak besar sehingga bisa memicu orang untuk masuk ke dalam komunitas mereka. Apalagi di sana siapapun bisa disambut dengan tangan terbuka tanpa ada yang terlalu sibuk menceramahi dan menuding segala macam. Mereka paling juga berantem soal rebutan pacar saja, kok! Pacar-pacarnya ini yang sebenarnya selama ini banyak “tersembunyi” dan justru berbahaya. Tak mungkin para waria ini laris dan bisa hidup “berjualan” bila tak ada pembelinya, kan?! Mereka pria-pria yang kebanyakan mengaku normal, beristri dan memiliki anak, banyak kok yang suka membeli mereka. Siapakah mereka?! Kenapa mereka tidak pernah diungkap dan dibantu agar tidak membawa penyakit kepada keluarga?!
Satu hal lagi yang biasa saya lakukan adalah dengan mengajak mereka untuk berkarya. Ada banyak murid dan teman-teman dari LGBT yang sangat luar biasa dalam berkarya. Tidak bisa saya kemudian menghina dan menghentikan mereka dalam berkarya, karena itu justru membantu mereka untuk bisa fokus melakukan sesuatu yang positif bagi semua. Menangkap dan memenjarakan mereka, lalu memberikan mereka segala petuah dan nasehat tidak bisa serta merta mengubah mereka. Kita bukan malaikat, semua perubahan hanya bisa terjadi karena diri mereka sendiri dan kehendak Allah. Yang terpenting adalah kita tahu bahwa mereka ada, tidak usah berlebihan dalam bersikap, dan sebisa mungkin belajar untuk mengerti bahwa kita adalah manusia yang bisa berbuat salah dan tidak lebih baik juga dari orang lain, sehingga kita selalu hati-hati dalam berbuat dan berbicara. Jangan sampai apa yang kita lakukan telah membuat orang lain menjadi LGBT. Bisa, nggak?!
Semoga berguna dan bermanfaat.
Bandung, 22 Januari 2018
Salam hangat selalu,
Mariska Lubis