Puluhan anak muda berkumpul di Container Kopi di Jalan Merdeka Timur, Kota Lhokseumawe. Mayoritas diisi kaum mileneal, sebagian kecil kaum tua turut bergabung. Mereka mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan Forum Aceh Menulis (FAME) Chapter Lhokseumawe. Kali ini mengangkat tema yang sedang hangat diperbincangkan di jagat digital yaitu Steemit.
Foto dari Kang Lukman
Sembari menyeduh kopi, menikmati kue mereka berdiskusi ringan tentang platform steemit.com. Media sosial ini memberikan reward pada para penggunanya dalam bentuk mata uang digital (cryptocurrency).
Setidaknya, saat ini dua jenis mata uang digital yaitu steem dollar dan steem bekerjasama dengan platform yang didirikan oleh Ned Scott dan Dan Larimer, 15 Maret 2016 silam. Dengan bendera Steemit Inc berkantor pusat di Virginia, Amerika Serikat itu, paltform ini menawarkan pengguna untuk meraup uang digital.
Platform ini sejenis blog, namun penggunanya dikenal dengan sebutan stemians. Ayi Jufridar, salah seorang stemians senior di Lhokseumawe yang menjadi pembicara dalam pelatihan itu menyebutkan, konsep utama steemit sama dengan media sosial lainnya.
“Jika facebook menggunakan like sebagai tanda suka, steemit menyebut upvote sebagai tanda suka. Bedanya upvote bernilai uang digital, sedangkan like facebook tak bernilai apa pun,” sebut Ayi, Minggu (21/1/2018).
Dia menyebutkan, platform ini pun semakin beragam, mulai dari teks, foto, video hingga animasi. Seluruh kreativitas pengguna ditampung dalam media sosial itu. “Bayangkan satu postingan konten bisa mendapatkan 10 Steem Dollar (SBD). Satu SBD harganya tergantung harga pasar mata uang digital itu, cenderung lebih mahal dibanding dollar Amerika (USD),” terang Ayi.
Konsep sejenis sebelumnya dikembangkan oleh google adsense. Namun, steemit menawarkan kemudahan. “Semakin teman di steemit, potensi mendapatkan reward semakin besar. Karena teman tentu menyukai postingan temannya sendiri,” sebut Ayi.
Kurator Steemit Indonesia, Aiqa Brago, menyebutkan pengguna media sosial ini di Indonesia terus bertambah. Saat ini, jumlah pengguna steemit di Indonesia mencapai 3.000 orang. Sedangkan tagar Indonesia termasuk paling hits di jagat digital. “Tagar Indonesia itu setingkat di bawah Spanyol. Itu selalu masuk lima besar,” sebut Aiqa. Dari jumlah itu, kata Aiqa, Aceh tercatat sebagai provinsi terbesar pengguna steemit.
Foto dari Kang Zainal Bakri
Sementara itu, stemians lainnya, Popon menyebutkan uang digital itu digunakannya untuk membiayai penelitian skripsinya di Universitas Malikussaleh, Aceh Utara. “Lumayan buat penelitian. Buat wawancara, kumpulkan buku-buku dan lainnya,” katanya.
Soal nominal rupiah yang diperoleh di steemit sangat beragam. Zainal Bakri, menyebutkan sebagian stemians bahkan bisa mendulang Rp 20 juta per bulan. “Ada juga yang hanya ratusan ribu. Tergantung, seberapa aktif, seberapa banyak teman yang meng-upvote postingan,” sebutnya.
Kini, uang digital semakin menggoda. Para milenal bermodal duduk di warung kopi, dengan jaring internet gratis, namun bisa menghasilkan uang digital yang ditukarkan dalam rupiah. “Ini salah satu sisi positif dari perkembangan teknologi,” pungkas Zainal.