Manusia pada umumnya salah karena dia nggak bisa aneh…
Merasa asing kalau aneh. Bahkan takut menjadi aneh. Padahal, semestinya manusia harus aneh. Masa’ sih mau menjadi manusia pada umumnya?!
Contoh, waktu aku dan Azir kena scabies, orang merasa kami aneh. Sementara, menurut kami berdua, itu adalah prestasi, itu adalah keistimewaan. Bayangkan, penderita scabies di Indonesia itu cuma 5 juta dari 261 juta rakyat. Itu 1,915709%, Wahai Rakyat Indonesia....
Artinya, kami berdua tergolong manusia langka dan berprestasi. Bukankah dimana-mana, yang namanya orang berprestasi itu sedikit jumlahnya. Termasuk penderita scabies!
Sebetulnya aku tak punya alasan atau argumentasi khusus… Boleh, ‘kan… Kupikir tak semua hal harus punya alasan, ‘kan…
Kalian boleh juga tak sepakat. Itu terserah kalian. Kalau sepakat aku juga tak mampu memberi hadiah apapun. Bagiku, sepakat atau tidak, sama saja. Tak ada istimewanya samasekali. Kalau kalian mau membantah, otomatis kalian tak harus sepakat, ‘kan…
Kenapa sesuatu dipandang aneh hanya karena berbeda? Kenapa setiap yang aneh harus ditakuti? Kenapa, Khak Rhoma? Mengapa orang merasa aneh kalau berbeda? Mengapa orang takut kalau berbeda? Mengapa, Hayati?
Sepertinya di dunia sekarang ini, kebenaran bukan dipandang dari hakekat, tapi dari faktor mayoritas. Itu berbahaya karena setiap orang itu berbeda. Jadi setiap orang harus aneh. Semestinya tiap orang mesti merasa jadi manusia gagal kalau tak aneh.
Hidup aneh…!!!