"Apa kau tulis itu, Yong!" sergah seorang kawan pada pukul empat pagi.
Kala itu, beberapa tahun lalu, saya dan dia dan satu kawan lagi, dan seorang lagi yang tak dikenal sedang begadang menyelesaikan sebuah edisi tabloid untuk propaganda politik. Kalau di barat sana yang bahasanya kerap kalian Google Translate-kan, mungkin istilahnya Ghost Writer. Mungkin ya. Nah, kalau di-Indonesia-kan bisa berarti penulis hantu tanpa tanda kutip. Kenapa ada kata hantu di sana? Karena nama penulisnya tak disebutkan di tulisan tersebut, cukup dibayar saja honornya. Lagi pula, apalah arti sebuah nama, cukup di KTP elektronik (yang dikorupsi itu) saja, kan?
Penulis hantu lazim dalam dunia tulis menulis. Ada banyak film barat yang mengisahkan tentang itu. Tontonlah siapa tahu menginspirasi Anda menjadi penulis hantu. Jika tenar, Anda akan bergentayangan di mana-mana.
Yong yang disebutkan di atas tentu bukan nama saya. Tapi ucapan itu memang tertuju kepada saya. Soalnya, yang bicara cuma kami berdua. Yong kependekan dari Buyong. Ini panggilan akrab.
Ucapaan bersifat celaan di atas tadi bukan bertujuan memarahi. Itu hanya pengingat bahwa betapa banyak typo dalam tulisan saya. Kenapa banyak typo? Ada banyak orang selain saya pernah mengalaminya. Inilah kondisi ketika mengejar tenggat alias deadline. Begadang semalam, menyelesaikan tulisan demi tulisan agar bisa dikirim ke Medan (baca: percetakan) paginya membuat waktu begitu ketat.
Seperti tak sempat mengatur nafas, jari bergerak dari satu tulisan ke tulisan lain. Membaca dari awal, menyisir kalimat demi kalimat lalu terkadang menggerutu kenapa yang punya tulisan menulisnya bisa hancur begitu. Ketika sebuah tulisan nggak lengkap, dan di tengah malam buta narasumber tak bisa dihubungi satu pun, jalan terbaik adalah mengecek ke Google. Hanya untuk mengecek fakta, misalnya, sejak kapan si A yang politisi itu bergabung ke partai B.
Ketika fakta dirasa cukup, tulisan itu kemudian dipoles dan dilihat secara bergantian oleh teman yang lain. Polesan ini kadangkala baik kadang juga tak enak dibaca. Lalu sesudahnya tulisan dilempar ke komputer layout.
Lambat laun, ketika jarum jam sudah bergerak melewati angka dua, proses memperbaiki naskah mulai menemukan malapetaka. Typo-typo berjejer. Anda tertulis Ana, Mereka terketik Merek dan Amerika jadi Anerika. Macam-macam. Kopi, kratingdaeng bahkan cemilan ala surga yang lain tak mampu membendung typo-typo itu. Sementara satu sisi, tubuh kian lelah dan ingin cepat-cepat merangkak ke kasur.
Saat jarum jam bertengger ke angka empat, rasa itu kian menjadi. Namun, teriakan dari teman tadi yang disusul lemparan kotak korek api ke atas meja, membuat saya mampu terjaga hingga pagi. "Kerja yang benar, jangan tidur. Dasar penulis hantu!"
Lalu, bagaimana caranya menulis ketika mengalami kondisi seperti itu?
Pertama, perhatikan jenis camilan. Cari makanan yang bergizi dan sehat. Jika sering begadang dan makannya indomie kaldu, sesekali ganti ke bubur kacang hijau. Indomie tak akan membuat tubuh Anda bertahan sepanjang malam. Bagi yang tak terbiasa memamah indomie (saya sukanya yang kaldu) lebih baik jangan mencoba.
Kedua, perhatikan jenis teman atau kawan kerja. Carilah yang suka mengobrol tapi serius bekerja. Jangan pilih yang pendiam. Bisa jadi ketika Anda bekerja dia diam-diam tertidur di meja. Jangan juga dengan teman yang bicaranya tak bisa direm. Ujung-ujungnya malah ngobrol bukan kerja.
Ketiga, pilih AC atau kipas angin. Begadang di dalam ruangan yang berAC atau kipas angin sama-sama tak ada enaknya. Kedua benda ini tak mampu membuat Anda cepat kaya tapi membuat dehidrasi saat pagi. Cara terbaik, sesekali matikan.
Keempat, saat AC dan kipas angin dimatikan, pergilah ke luar ruangan dan tataplah langit dinihari. Sejenak Anda akan mendapatkan pencerahan darinya. Bisa inspirasi atau penyesalan kenapa Anda tega begadang untuk menyelesaikan pekerjaan itu.
Kelima, sering-sering membasuh muka dan sesekali melihat kondisi muka apakah kuyunya sudah maksimal atau belum? Jika sudah, yakinkan diri dalam hati bahwa Anda tidak akan menua sebelum waktunya.
Keenam, jika tak sanggup lagi menjalani pekerjaan seperti itu, berhentilah. Carilah pekerjaan lain seperti menulis di Steemit. Anda tak perlu begadang atau bedakwa-dakwi dengan pemilik tabloid itu karena honor belum dicairkan.