(Almanak Penyair dan Buku Puisi yang Dilounching di Malaysia, 2017)
Sebagai seorang penulis menghasilkan tulisan adalah suatu kbahagiaan yang tak bisa saya sembunyikan. Tiap saya baca buku dan membaca nama penulisnya hati saya selalu berucap bilakah namaku bisa tertera?
Sewaktu bergabung di Sanggar Sastra Al-Amien (SSA) yang hanya memiliki satu unit komputer, saya kerap memandang teman seangkatan yang menulis di komputer dengan bimbingan seorang guru.
Jika belum bisa mengetik 10 jari maka jangan mengetik di komputer, itulah yang saya ingat, sepintas terlihat sangat arogan namun setelah direnungi saya sadar ucapan guru adalah untuk mendisiplinkan murid agar bisa terampil.
Buku sastra di lemari sanggar samgat bervariatif, ada yang memilih membaca saja tanpa menulis. Ada yang memilih menulis dengan memanfaatkan imajinasi yang dimiliki dan ada pula yang memilih membaca lalu menulis, semua saya pahami sebagai perjalanan proses krtif.
Saya bertemu cerpen Lukisan Kaligrafi Gus Mus, saya bertemu dengan Majalah Sastra Horison dengan berbagai edisi.
Belajar bersama komunitas tentu sangat berbeda suasananya dengan belajar sendiri. Di Sanggar kami dibiasakan melahirkan karya dan membedah karya, layaknya seorang penulis dan kritikus handal. Layaknya Chairil Anwar dan HB Jassin.
Tiap saya baca asip karya generasi terdahulu sanggar, kerap saya dibikin takjub sesekali geleng-geleng kepala. Berada di Sanggar Sastra Al-Amien dari 2002-2010 dari sekian ribu puisi yang dimasukkan dalam Antologi Puisi Akar Jejak hanya puisi pendek dan itupun tak sampai tujuh.
Saya pikir sangat ketat tim tersebut menyeleksi karya. Saya kerap mengadakan pertarungan dengan puisi. Terkadang puisi lebih dulu berlari meninggalkan saya dan kadang pula kami berjalan beriringan.
Misal Agustus 2011, saat pertama saya baca puisi di Japan Foundation Jakarta, antara saya an puisi lebih dahulu saya hadir ke Japan Foundation.
Mendapat kesempatan tampil baca puisi di pertengahan, di mana banyak penyair mengerahkan teknik membacanya, saya seakan kehilangan ide cara membaca dan saya putuskan langsung membacakan puisi saya secara sontan di atas panggung.
Puisi tersebut tak saya tulis. Apa yang berdesakan dan minta segera diucapkan itulah yang saya kenalkan. Peristiwa ini terjadi di Kraton Pratanu sewaktu Festival Puisi Bangkalan II.
Akhirnya sesibuk apapun menjadi penulis, kebahagiaan semakin akrab dan menetap ketika istri adalah lukisan cinta yang menggembirakan. Bertualang bersama istri adalah debar karunia yang paling anggun.
Madura, 11 Juli 2018