Atmosfer pagi datang begitu merayu lembut. Matahari terbit membuncah memberikan setetes energi untuk burung-burung kembali berterbangan mencari secercah makanan.
Pagi ini seakan terasa sedikit hangat. Serupa sore hari. Tapi daun tak terlihat layu, ia masih saja tetap tegar walaupun embun telah enyah dari pangkuanya. Masih tetap dalam suasana hening daerah pedalaman di kota Garut.
Maryam, seorang gadis desa itu kerap kali merasakan suasana seperti itu. Ia amat menyukai akan kampung halamanya sendiri. Walaupun jarang keluar rumah, tapi suasana yang tergambar di luar, dapat terlihat dengan jelas dari jendela kamar tempat dimana ia selalu bertadabur.
Rumah Maryam terletak berdekatan dengan kawasan pegunungan. Di bawahnya menghampar pesawahan luas nan elok. Itulah yang selalu menjadi topik perhatianya. Kalimat takbir, tahmid, tahlil sering kali ia lantunkan ketika melihat keidahan-keindahan itu.
“Subhanallah, betapa indahnya ciptaanMu ya Allah. Allahuakbar, betapa besarnya kekuasaanMu ini ya rabb. Alhamdulillah, terima kasih aku masih bisa merasakan keindahanMu ini ya Maha Pemberi Nikmat. Lailahaillallah, sungguh tidak ada satu pun yang patut di sembah kecuali engkau ya rabbal’alamin.”
Suasana hening masih tetap tidak berubah di kediaman Pak Ahmad, ayah Maryam. Sang ayah tengah mondar-mandir di teras seraya melihat susana sawah yang terletak di samping rumah. Sesekali ia menyesap sebatang rokok keretek.
Fuhhh… asap rokok menari-nari bersama angina lembut, berbaur menjadi satu.
Beberapa saat kemudia, datang seorang pemuda dengan peci dan sarung yang dikenakan rapih lengkap dengan kemeja khas orang dewasa.
“Assalamualaikum, pak!” seru pemuda itu.
“Waalaikum salam, Nak Soleh. Ada apa yah?” tanya pak Ahmad tersenyum menyambutnya.
“Maaf, mengganggu, Pak!” Pemuda itu lekas membolak-balik beberapa kertas, “ini ada undangan dari ketua ikatan remaja madrasah untuk Teh Maryam!” Pemuda itu mendekat sambil memberikan sehelai undangan kecil.
Pak Ahmad mengernyitkan dahi, alisnya terangkat sebelah. Bingung. “Acara apa ini, Nak?” tambah pak Ahmad memastikan.
“Ini, Pak, kami akan mengadakan rapat mengenai program remaja madrasah dan Teh Maryam dimohon hadir, beliau kan pernah menjadi wakil ketua ikatan remaja madrasah dan aktif.”
“Oh begitu yah, kirain apa, nanti saya sampaikan!"
“Terima kasih, kalau begitu saya pamit dulu, salam untuk Teh Maryam.”
“Loh, Tidak mau mapir dulu, Nak Soleh?”
“Terima kasih, Pak! Saya harus mengantarkan undangan dulu.”
Setelah pamit, pemuda itu bergegas pergi meninggalkan rumah Maryam. karena masih banyak undangan yang harus disebar, ia terpaksa tidak bertemu langsung dengan Maryam.
Pak Ahmad masuk ke dalam rumah sambil membolak balik kertas. “Bu, Mariyam dimana yah?
“Di kamarnya, Pak!”
“Maryam…” Pak Ahmad memanggil Maryam seraya mengetuk pintu.
Wanita yang kini tengah mengenakan jilbab berwarna biru muda itu langsung keluar membuka pintu.“Iya, Ayah.”
“Ini ada undangan dari remaja madrasah. Katanya ada rapat nanti malam.” surat itu disodorkan pak Ahmad.
Maryam kembali masuk setelah undangan itu berpindah tangan dan kembali melakukan aktifitasnya. Selain shalat, membaca al-Qur’an dan hal yang lainnya, Maryam juga suka membaca. Buku bacaan umum dan ilmu pengetahuan agama tak pernah ia tinggalkan. Walaupun Maryam terlihat kampungan dalam berpakaian dan seperti orang yang kuno mode, tapi Maryam merupakan wanita yang tidak ingin ketinggalan dalam masalah pengetahuan.
***
Azan magrib pun berkumandang. Matahari semakin merunduk terjun bebas lenyap dari pandangan. Lampu-lampu malam jalanan mulai berpendar. Bulan kini menampakkan dirinya bersama bintang.
Ayam kampung kini mulai rabun pandanganya, bebek-bebek yang tengah berenang berlari mulai menepi, tapi kelalawar berkuasa siap meluncur menelusuri ruang dunia mencari makanan yang sudah tidak sabar ingin disantapnya.
Suasana di kampung halaman Maryam sepertinya mulai ramai. Beberapa anak kecil, remaja, pemuda dan pemudi berbondong-bondong menuju suatu mesjid kecil khas dengan pagar bambu tersusun rapi.
Maryam kini ikut serta bersama masyarakat yang sama menerima undangan dari ketua ikatan remaja madrasah.
“Hai! Maryam, kemana aja jarang keluar?” Tiba-tiba seorang gadis menepuk pundak Maryam dari belakang.
“Hai, Rin, apa kabar? Aku ada aja di rumah.” Jawabnya seraya melempar senyum. Rini adalah teman sebaya Maryam yang kini masih menduduki bangku kuliah di salah satu universitas terkemuka di Bandung.
“Alhamdulillah. Kok di rumah aja? Main dong ke rumah aku!”
“kamu aja yang main ke rumah aku, Rin.” timpal Maryam dengan nada memaksa.
“Iya deh ntar aku main ke rumah kamu!” Rini mengalah.
Sesampainya di masjid mereka melaksanakan shalat Magrib berjamaah. Barisan pria cukup dipenuhi oleh beberapa orang tua, pemuda, remaja dan anak-anak. Begitupun terlihat sama di balik tirai penghalang, wanita berbaris dengan rapih.
Setelah shalat berjamaah di mesjid selesai, anak-anak kecil yang masih bersuara lembut bergegas ramai-ramai menuju suatu madrasah yang tempatnya berdekatan dengan mesjid. Mereka mengaji kepada salah satu ustad muda yang biasa mengajar di kampung khusus mengajar anak-anak kecil.
“Rabbi auji’ni anasquroni matakalati…” Suara bergemuruh anak-anak melantunkan doa terdengar jelas menghangatkan suasana.
Di sisi lain, para remaja serta tamu undangan berkumpul untuk megadakan rapat yang telah direncanakan itu di mesjid.
Rapat dimulai oleh pembawa acara. Semua mengikuti rapat dengan khidmat. Setelah pembukaan, pembawa acara memberikan kesempatan kepada tamu undangan untuk memberikan sambutan.
Sambutan pertama di sampaikan oleh ustadz sesepuh di kampung, lalu di lanjutkan oleh ketua RW, setelah itu diberi kesempatan kepada Hasan perwakilan dari tamu undangan.
Hasan adalah pemuda yang terpandang baik. Ia jebolan dari pondok pesantren di Jawa Timur. Belum lama ini ia baru pulang dari pesantren. Kalau di sekolah formal mungkin bisa di sebut lulus. Tetapi di pesantren mungkin lebih di kenal dengan rangkad. Itu istilah dari pesantren kontemporer. Tapi ada juga pesantren yang mengadakan standar kelulusan. Hasan adalah putra dari ustad sesepuh.
Setelah Hasan yang memberikan sambutan perwakilan dari tamu undangan wanita adalah Maryam. Maryam dulu sangat aktif di madrasah kampung sukamanah. Tapi setelah ia menyelesaikan pendidikan menengah atas, ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Karena teman-teman sebayanya sudah banyak yang keluar kota. Ada yang bekerja, kuliah dan juga menikah, sehingga Maryam sudah tidak ada lagi teman sebaya yang aktif di madrasah.
Setelah semua selesai memberikan sambutan, ketua ikatan remaja madrasah memaparkan tujuan diadakanya rapat yakni akan diadakanya program meningkatkan minat baca dengan diadakanya perpustakaan di madrasah Kampung Sukamanah.
Setelah itu, rapat dilanjutkan dengan pembahasan program serta sesi pendapat. Yang pertama diberikan kesempatan berpendapat adalah ustad sesepuh. Ia berpendapat bahwa pengadaan perpustakaan sangat baik bahkan insyaallah akan disambut hangat oleh warga kampung. Mengenai keperluan yang dibutuhkan, bisa diadakan gotong royong untuk menyiapkan dana ataupun pengumpulam buku-buku baru dan bekas dari yang mau menyumbang.
Setelah ustad sesepuh, banyak sekali yang mendukung serta menyetujui diadakannya perpustakaan di madrasah. Apalagi pak RW yang sedikit antusias ingin secepatnya untuk merealisasikannya.
Rapat berlangsung cukup singkat karena program yang diajukan oleh para remaja terbilang sangat baik dan mampu memberikan kontribusi penuh terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berpenididkan di Kampung Sukamanah.
Tanpa ada kendala semua setuju akan semua pendapat. Program siap direalisasikan minggu depan dengan langkah awal merapikan ruang sudut madrasah yang kosong. Setelah itu mengisi rak-rak tempat penyimpanan buku, serta mencari sumbangan buku dari warga kampung serta orang-orang terdekat. Setelah itu, ustad sesepuh memimpin do’a dilanjutakan penutupan oleh pembawa acara.
Adzan Isya dikumandangkan. Para peserta rapat bersiap-siap untuk melaksanakan berjamaah shalat isya.
“Silahkan, San. Kamu di depan,” perintah usatad sesepuh kepada Hasan sedikit memaksa. Hasan kaget dan menolak karena merasa tidak enak apabila menjadi imam ayahnya sendiri yang menjadi ustad sesepuh di kampung sudah sejak lama.
“Ayah percaya, San. Silahkan,” Beliau hanya ingin Hasan lebih berani dan sekaligus memberi pengalaman untuk menerapakan ilmunya yang telah lama ia pelajari di pondok pesantren. Hasan pun terpaksa maju ke depan memenuhi permintaan ayahnya.
Setelah selesai shalat Isya, Maryam, wanita paling akhir keluar dari mesjid sampai-sampai Rini menunggu di luar sudah sedikit pegal. Setelah selesai, Maryam merapikan mukena lalu bergegas keluar mesjid dengan sedikit terkejut. “Eh, Rin…kamu nungguin yah!!!” Mariyam melongo
“Iya lah, kan aku takut kamu pulang sendirian,” ucap Rini dengan nada Khawatir.
“Emmm, makasih udah mau nungguin, padahal duluan aja.” Mariyam melempar senyum seraya mengambil sandal yang hendak dipakainya.
Akhirnya mereka segera melangkah keluar dari halaman mesjid. Maryam dan Rini berjalan sambil bercakap-cakap sedikit meluapkan rasa rindu. Rini adalah teman Maryam sejak kelas satu SMA. Rini sebenarnya berasal dari Majalengka. Karena ayahnya dipindahtugaskan ke Garut, jadi ia terpaksa ikut bersama ayahnya untuk melanjutkan sekolah di Garut.
“A Hasan hebat yah suaranya bagus, bacaan Al Qur’anya juga mantap, apalagi pas tadi rapat dia banyak ngasih masukan yang bagus.” decak Rini merasa kagum.
“Ia sih, maklum dia kan orang berilmu,” komentar Maryam singkat.
“Kayanya kamu cocok sama dia deh!” Rini sedikit menggoda Maryam.
“A Hasan itu anak ustad, pinter, rajin, cakep, dia nggak akan mencari wanita seperti aku. Dia lebih pantas bersanding dengan wanita yang berilmu luas dan sama keluaran pesantren juga kali, itu baru cocok buat A Hasan!” Maryam sedikit memasang air muka hambar masih melangkah mengitari jalanan yang hanya disinari lampu kecil di beberapa samping jalan. Tapi langkahnya hampa.
“Ah, nggak gitu juga! Kalo seandainya dia maunya sama kamu, gimana? Katanya dulu waktu kelas 3 SMP, temen-temen bilang kamu pernah disurati A Hasan.” Rini kembali mengingatkan Maryam.
“Itu kan dulu, Rin! Sekarang udah beda, dulu hanya sekedar cinta monyet. Dia sekarang sudah banyak menemukan wanita yang lebih berkualitas di luaran sana. Udah ah jangan ngomongin itu!” Maryam makin cemberut.
“Emmm, iya deh sorry, hehe” Rini mengalah sambil menyenggol pelan tubuh Maryam, “senyum dong. Kok cemberut gituatuh.”
“Eh gimana kuliah kamu, Rin?” Maryam mengalihkan pembicaraan.
“Oh, Alhamdulillah, Sebentar lagi kelar kok.”
“Wah, hebat yah! semoga sukses, Rin!”
“Amiinn… iya makasih, Maryam!"
Pecakapan panjang membuat perjalanan terasa singkat. Rumah Maryam kini telah di depan mata. Mereka terpisah karena rumah Maryam cukup dekat dari arah mesjid, tetapi rumah Rini agak sedikit lebih jauh beberapa meter dari rumah Maryam.
“Rin, aku duluan yah.” Pamitnya sambil membuka pintu pagar dan berbalik,” jangan lupa kalo ada waktu main ke rumah!”
“Ok, siip. Pasti,” jawab Rini seraya melempar senyum.