Ayah Roni atau biasa disebut Pak Ringgo, kini tersenyum lepas setelah menutup telpon dari calon besannya. Ia sangat senang mendengar kabar baik dari Pak Ahmad. Keputusan Maryam mau menerima Roni merupakan sebuah anugrah baginya.
Pak Ringgo selalu memperhatikan dengan apik apa yang menjadi masa depan anaknya, Termasuk siapa yang pantas menjadi pendamping Roni.
Roni adalah anak yang agak sulit diatur. Maka dari itu, Pak Ringgo sangat meilih-milih, istri seperti apa yang bisa merubah kebiasaan buruk anaknya. Ia siap menjamin apapun yang menjadi kebutuhan fasilitas bagi istri Roni nanti. Memang, sebenarnya siapapun yang dicalonkan menjadi istri Roni, wanita itu adalah wanita yang sangat beruntung bila dilihat dari sudut pandang materi. Sang istri akan dininabobokan dengan harta yang melimpah.
Wanita itu akan menjadi tuan putri bak cinderella dengan gaun putih dan sepatu kacanya, karena seorang menantu sangat diharapkan di istana keluarga Roni. Kelurga Roni sudah merindukan dengan kehadiran seorang cucu, keramaian sebuah rumah dan suasana hangat sudah di nanti-nanti. Apalagi oleh ibunya.
Dalam suasana malam yang cukup hangat, Pak Ringgo sekeluarga tengah bersiap-siap untuk menunaikan makan malam seperti biasa. Dalam nuansa akrab, terjadi percakapan antara penghuni rumah.
"Papah punya kabar sangat gembira," cetusnya membuka pembicaraan.
Sang istri langsung menghentikan kunyahannya. "Apa nih, Pah?"
“Mah, sebentar lagi kita akan menikahkan anak kita, bagaimana menurut pendapat Mamah mengenai Maryam?”
“Mamah terserah Papah aja. Lagi pula, tidak ada yang diragukan lagi dari Maryam. Maryam terkenal baik. Sungguh beruntung pria yang mendapatkan istri seperti Maryam. Lagi pula, sangat sulit mendapatkan wanita seperti Maryam di zaman sekarang ini, Pah! Apalagi gadis Garut itu anggun. Liat aja Mamah.” Sang istri terkekeh, memberi pendapat dengan panjang lebar, mendukung rencana suaminya.
Istri Pak Ringgo bernama Bu Indah. Pun merupakan wanita yang berasal dari kota Garut. Karena kota asalnya sama dengan Maryam, Bu Indah jadi paling antusias bila membahas rencana pernikahan itu. Pak Ringgo mengangguk tertawa. Pemikiran sang istri memang sama seperti apa yang telah dipikirkannya.
“Bagaimana dengan kamu, Ron?” Pertanyaan terlempar pada Roni yang sedari tadi terdiam seribu bahasa dengan lahap menikmati menu makan malam.
“Oh iya ada apa, Pah?” Roni melongo, celingak-celinguk melihat tatapan kedua orang tuanya.
“Kamu dari tadi tidak memperhatikan kami bicara?” Pak Ringgo sedikit kesal.
“Kan ini lagi makan, Pah!” jawab Roni enteng.
“Ya sudah, bagaimana mengenai pernikahan kamu dengan Maryam, kamu mau ngasih pendapat?” Pak Ringgo sedikit mengalah seraya menarik nafas dalam-dalam.
“Oh pernikahan itu yah, Pah! Apa yakin Roni akan dinikahkan dengan gadis kampungan seperti dia?”
“Kok kamu bicara seperti itu, Roni?” timpal Bu Indah yang terlihat sedikit berang.
“Emangnya kenapa, Mah?”
“Kamu sepertinya tidak mengiginkan pernikahan ini, Roni?” sambung Pak Ringgo.
“Iya emang, Pah! Siapa sih yang mau dijodohkan dengan wanita kampungan itu? Liatnya juga males kaya nenek-nenek, Pah! Kalau mau menjodohkan harus sesuai dengan standar Roni dong, Pah!”
“Roni, jaga mulut kamu! Apa mata kamu tidak melihat dengan jelas kemarin bagaimana anggunnya Maryam?” Bu Indah mengeleng-gelengkan kepala, merasa heran dengan pemikiran Roni.
“Ah, kalian berdua memang aneh,” keluh Roni sekenanya.
“Kamu lancang, Roni! Papah sudah mencalonkan kamu dengan wanita yang terbaik untuk masa depan kamu. Pokoknya papah tidak akan memberikan kamu wewenang terhadap perusahaan seandainya kamu tidak mau menikah dengan Maryam, titik!”
“Loh ko gitu sih, Pah? Enggak adil ini, Pah!” Suara Roni meninggi.
“Terserah apa katamu. Seandainya kamu tidak mau, cari saja pekerjaan pada perusahaan orang lain, aku sudah tidak mau mengurusimu!” Pak Ringgo membentak.
Roni kini hanya mampu terdiam. Ia termenung seraya menundukan kepala, wajahnya pun memerah penuh dengan kebingungan.
“Ingat, Roni! pokoknya besok kamu harus memberikan jawabanya. Papah kasih waktu kamu satu malam untuk memikirkan kembali. Satu hal lagi! Kamu tidak akan mendapatkan wewenang di perusahaan dan semua fasilitas kamu akan Papah cabut, kalo kamu menolak dengan keputusan ini, kecuali kamu memang mau mengemis-ngemis di perusahaan orang lain.”
“Iya, Pah! Nanti dipikirkan lagi!” jawab Roni melemah.
Pak Ringgo beranjak dari meja makan meniggalkan istri dan anaknya. Rasa marah dan kesal masih menggebu di hatinya. Apabila rencana pernikahan ini dibatalkan, Pak Ringgo sungguh tidak rela.
Bu Indah ikut bernajak. Tapi, ia bergegas mendekati kursi Roni. Ia duduk tepat di sebelah anaknya. Mula-mula hanya bergeming seraya menatap anaknya yang masih menunduk kesal dan bingung.
“Roni, Mariyam itu wanita baik loh! Kamu akan merasa nyaman menjadi suaminya!” Bu Indah mencoba meyakinkan dan menenangkan perasaan anaknya.
“Tapi dia bukan tipe aku, Mah!” Lirih Roni, sesekali ia meremas tangannya di atas meja.
“Ingat Roni, jangan lihat dia dari luarnya atau cara bergaulnya atau cara berpakaiaannya. Lihat dia dengan hatimu, kamu akan sulit menemukan wanita seperti Maryam. Mamah jamin kamu tidak akan menyesal kelak!”
“Tapi apa kata temen-temen Roni nanti kalo mereka tau Roni menikah dengan wanita kampungan seperti dia!”
“Jangan dengarkan orang lain, Roni! Dengarkanlah kami yang selalu menyayangimu. Memangnya kalau ada apa-apa dengan kamu mereka akan selalu bantu kamu setiap saat apa?”
“Hmmm… Iyah sih, tapi ya udah, Mah! Nanti Roni pikirin dulu deh. Sekarang Roni mau ke kamar dulu, capek!”
“Ya sudah, istirahat dulu! Jangan terlalu malam tidurnya.”
“Baik, Mah…”
Roni meninggalkan meja makan. Ia didera rasa bingung. Kalau ia tidak menerima dengan rencana pernikahan itu, maka ia harus menerima ancaman dari ayahnya. Apalagi harus menjadi karyawan orang lain, ah itu sungguh tidak menyenangkan.
Roni memiliki tingkat gengsi yang sangat tinggi. Ia sudah banyak mengumbar kepada teman-temanya, bahwa ia akan memegang beberapa perusahaan apabila ia sudah lulus. Tapi nyatanya tidak semudah itu. Untuk bisa mewujudkannya Maryam lah yang menjadi syarat utamanya.
Suasana malam sunyi dalam gelap, Roni kembali merenung dalam tempat tidurnya. Ia terus memutar otak memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk menghempaskan kecemasannya.
Apakah harus terpaksa mengalah saja pada ayahnya. Apakah harus mencari cara lain agar pernikahan itu bisa dibatalakan. Ah semakin lama semakin membingungkan. Semalaman ia berpikir keras. Tak ada satu detik pun tanpa mempertimbangkan satu masalah dengan berbagai kemungkinan.
Ada satu hal yang paling memberatkan Roni. Yaitu, seorang wanita yang belum lama ini ia ikat dengan janji cinta. Semenjak pulang dari luar Negeri, pertemuan tidak disengaja dalam sebuah kafe, ia melihat seorang wanita tengah berkumpul bersama teman-temannya. Salah satu dari mereka, ada yang menarik perhatian Roni.
Wanita dengan busana cardigan membalut tubuh sensualnya, dianugrahi rambut panjang yang terurai, lurus, hitam, wajah berbentuk elips menawan dan berkulit putih membuat sepasang bola mata Roni tertuju pada satu titik itu.
Ia seakan menemukan satu bidadari yang lupa akan jalan pulang ke langit.
Wanita itu bernama Chika. Tanpa berlama-lama ia langsung mendekati Chika. Berbagai cara dilakukannya hingga mereka menjalin suatu hubungan. Orang tuanya belum mengetahui bahwa ia sudah mempunyai pacar dan Roni pun belum sempat bercerita kepada orang tuanya karena hubungan mereka masih sangat dini. Karena hal itu, kini ia dilanda kebingungan. Disamping merasa malu dijodohkan dengan wanita yang menurutnya gadis kampungan, ia juga berat apabila harus melepas gadis idaman dan pujaan hatinya.
Detik berpindah ke menit dan seterusnya. Waktu dilalui dengan beberapa draft kebingungan hingga ia lelah dan rasa kantuk pun menghinggap, memaksanya untuk berstirahat.