Tidak seorang pun di dunia ini bisa hidup sendiri. Manusia selevel nabi sekalipun, membutuhkan orang lain untuk dapat membangun kehidupan. Konon lagi bila hanya seorang yang teramat kaya di dunia ini, ia butuh orang lain. Ia tidak bisa swakelola, walaupun itu atas tubuhnya sendiri.
Seseorang yang g sangat rasis di kampung halamannya,bila di perantauan ia harus membuang perilaku rasisnya di tempat orang. Ia harus bergaul dengan siapa saja, demi untuk mendapatkan satu hal, yaitu kehidupan. Seseorang yang anti terhadap agama lainpun akan berperilaku sebaliknya,bila ia berada di komunitas agama yang ia benci.
Tuhan tidak menciptakan manusia untuk bisa membangun kehidupan seorang diri. Karena a fitrahnya manusia adalah makhluk sosial. Bila tidak bersosial ia akan segera mendapatkan kesialan dan kemudian terpuruk dan ujungnya akan mati.
Lalu, kenapa manusia jutsru sering menciptakan prahara? Karena bila sudah merasa di atas angin, manusia memiliki kecenderungan ingin menguasai. Dari makhluk sosial menjadi makhluk pembawa siap bagi orang lain. Untuk itulah, maka dalam kehidupan sosial setiap individu harus mampu membangun diri memiliki "kesetaraan" dengan orang lain, walau itu tidak mudah. Tujuannya? Agar lahir keteraturan. Karena ketika ada kesetaraan, akan melahirkan saling menghormati.
Kita harus memiliki semangat kesetaraan itu mulai dari dalam hati. Seorang pemanjat kelapa sama bergunanya dengan seorang dokter. Seorang nelayan sama bergunanya dengan seorang jenderal. Bayangkan bila ada profesi yang tidak lagi digeluti oleh manusia, maka akan segara saja timbul ketimpangan. Bayangkan bila petani berhenti bekerja, maka uang miliknya Prabowo tidak akan berguna.