Kata-kataku berjatuhan, berserak di antara kopi dan gula
aku pungut dan ku kumpulkan satu demi persatu
karena aku tahu kurang satu kata saja
kalimatku tak kan pernah menjadi sempurna
Kata-kataku membias
tersungkur dicerlangnya kopi panas
sayang aku tak lagi mampu lagi mengulas
setiap kata dalam pemahaman yang pas
Kata-kataku harus mudah di kunyah dan dicerna
Kata-kataku tak boleh menyakiti
Kata-kataku harus ku pilah-pilah
kata-kataku kalau salah pilih bisa melukai
kata-kataku harus disekat agar memikat
Kata-kataku bisa menimbulkan benci, amarah, permusuhan, cemburu dan kecewa.
Kata-kataku bisa menimbulkan rasa senang, mengikat persahabatan, rasa cinta, dan bahagia
Kata-kataku bisa mengantarkanku ke surga atau ke nereka
Kata-kataku bisa bisa manis, dan bisa pula sadis
Bukan aku tak mau berkata-kata, tapi karena aku telah dibatasi untuk berbicara
Oleh siapa? Oleh si naluri dan si nurani.
Mereka berdua memintaku agar berhenti berkata-kata untuk sementara.
Ya.. Untuk sementara, dan bukan untuk selamanya.