Beberapa pekan terakhir, seseorang nun jauh disana berkampanye untuk mendelete sebuah "media sosial non reward" dan join "media reward". Lalu orang-orang yang aktif di media berbayar tersebut ikut memberi dukungan dengan berbagai cara dan mengunakan tag yang diminta guna mendapat sebuah reward/$.
Aku sebagai salah seorang yang ikut merasa diuntungkan dengan bergabung ke "media reward" tersebut, juga turut serta melakukan hal yang sama dan ingin segera meninggalkan media yang katanya hanya menguntungkan pemiliknya saja. Lalu segera saja aku tulis diberanda; "Sepertinya saya akan segera meninggalkan media yang tak menguntungkan ini"
Kemudian masuklah sebuah komentar panjang dari salah seorang teman;
Ada platform media sosial yang anggotanya terdiri dari para penulis. Bermakna, kalau kita menulis di situ, itu artinya: kita menulis untuk penulis.
Yang namanya penulis, kalaupun kita tidak menulis untuk mereka, mereka tetap mencari tulisan-tulisan untuk dibaca buat menambah ilmu pengetahuan dan referensi.
Tetapi, di sini, orang baru akan membaca jika sebuah tulisan sudah nongol di berandanya. Lalu bayangkan, jika setiap hari, yang nongol di beranda kami adalah 'broeh-broeh putoeh'.
Maka, andai kelak Anda kembali ke sini dan melihat isi kepala kami hanya terdiri dari 'broeh-broeh putoeh', itu jangan salahkan kami. Karena, selama ini tulisan-tulisan yang mencerahkan sudah tidak ada lagi di sini; sudah dibawa pergi ke 'tempat' lain untuk dinikmati khusus sesama penulis.
Ibarat seorang tokoh agama yang menklaim media sosial penuh dengan tulisan-tulisan yang merusak iman umat, sedangkan dia sendiri yang punya pikiran-pikiran bagus tidak mau menulis di media sosial. Dia hanya mau menulis di media yang ada imbalan finansialnya. Padahal media yang memberi imbalan honor kepada kontributornya adalah media berbayar. Sedangkan kami hanya mau yang gratis-gratis.
Nah, jika yang gratis-gratis (dan mudah diakses) cuma berisi 'broeh-broeh putoeh', yach, itulah asupan kami; mau bagaimana lagi; atau, mau ke mana lagi kami. ;-)
Komentar itu aku ulang baca sampai beberapa kali. Sungguh, komentar itu membuatku terperangah, dan seakan mendobrak rasa idialisme yang selama ini ku anut; "reward bagi seorang penulis adalah ketika tulisannya dibaca". Aku baru menyadari bahwa idialisme ku ternyata masih pincang. Betapa tidak, mengaku tidak tidak peduli/tidak butuh dengan "$" namun nyatanya bertahan disitu juga karena "$".
Gara-gara aku merasa idialis, kemudian menuduh orang-orang yang bersikap lebih fleksibel maupun dinamis. Dan orang-orang yang mengunakan fasilitas untuk mendapat kurasi saya dicap sebagai aib sosial, dan bermental bengkok.
Padahal kalau mau jujur, menulis di media yang tak mendapatkan reward itu justru lebih banyak pembaca, dan lebih banyak memerlukan pencerahan. Lalu kenapa juga aku disini kalau bukan karena reward? Huuff ternyata aku masih naif.
Dan sepertinya, aku memang harus lebih banyak memahami orang lain, dan tidak sembarangan menilai orang berdasarkan ukuran diri.
#TulisdiSteemit #SebarkandiFacebook
Tetesan air saja mampu melubangi batu, bagaimana mungkin guyuran nasehat tak mampu melunakkan hatiku yang beku.
Created by: @munawar87/Munawar Iskandar
Sungguh indah, kita dipertemukan dan dipersatukan dalam komunitas yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Salam Kompak Komunitas Steemit Indonesia
Semoga Tali Silaturrahmi Ini Terajut Menjadi Sebuah Ikatan Persaudaraan Yang Saling Memberdayakan