Seseorang bertanya, "Tuan, anda kok seringkali mengeluarkan pendapat yang membuat golongan tertentu menjadi tidak senang? Apa anda tidak khawatir yang menyukai tuan akan makin berkurang?"
"Lho, kenapa harus takut? Bukannya sudah pernah saya katakan, sebijaksana apapun kita, tetap saja tidak bisa membuat semua orang senang pada kita.
Jadi kalau saat ini tiba-tiba saja semua yang menyukai memilih sebaliknya, maka saya tidak pernah menjadikan itu masalah, saya tidak sedang bikin pencitraan, dan tidak sedang menggalang masa. Saya cuma mengutarakan pikiran, kamu juga boleh berpikir, dia juga boleh, kita semua boleh, malah kita wajib berpikir karena kita memang punya akal.
Akal pun perlu diakali agar pikiran semakin tumbuh menjadi sebuah gagasan cemerlang, tapi tidak perlu akal-akalan agar disebut berakal. Yang terpenting, jangan sekali-kali memaksa orang lain agar tunduk dengan pikiran kita!"
Konten berjudul; Omong Kosong Steemit dan Kekonyolan Para Kurator yang diposting rekan kita, memunculkan berbagai penilaian dari para Stemain, ada yang tidak setuju dengan memberikan penilaian; terlalu sentimentil, sangat kasar, dan menyinggung orang lain. Ada juga yang sependapat; luar biasa mantap, realistis, dan banyak pula.yang tak mau peduli.
Saya menilai, kebebasan gedankenexperiment dan kelihaian seorang
dalam menumpahkan seluruh isi pikirannya, patut diacungi jempol.
Tulisan seperti itu dapat dipastikan akan mendapatkan respon hangat dari banyak orang. Betapa tidak, setiap kalimat yang digores oleh bung , rasanya telah mewakili pikiran banyak orang, hanya saja teman kita yang satu ini terlampau sangat jujur yang apa adanya dan berani mengambil resiko.
Penulis langsung menyadari efek yang tidak baik dari mukkadimahnya yang agak sedikit kurang senonoh. Andai lekas diklarifikasi, bisa dibanyangkan, orang-orang tidak akan berani lagi menasehati atau berbagi ilmu dengan yang bersangkutan karena takut dianggap sebuah ocehan dan merasa diceramahi.
Netralitas Dalam menilai
Disini saya bukan bermaksud ingin menjawab ataupun mengklarifikasi isi postingannya , saya akan mengabaikan keseluruh isi, dan tidak mengomentari sesuatu yang menyangkut ranah pribadi. Karena, terus terang saja, saya belum mampu menyaingi maupun mengimbangi dialektika serta khazanah keilmuan yang dimiki oleh yang bersangkutan.
Saya hadir sebagai upaya menumbuhkan ruang-ruang dialogis, agar setiap retorika yang berkembang tidak terlewatkan begitu saja.
Memang benar, asumsi atau pendapat orang lain mestilah kita hargai, namun ketika sebuah pendapat individu tanpa ada dialog lebih lanjut, ditakutkan akan muncul menjadi sebuah kebenaran muthlak
Semua kita akan mengambil perannya masing-masing. Ada yang memilih menjadi pengkritik, menjadi pembela, penengah/netral, penasehat, pengamat, tampil bijak, tak mau peduli, dan ada yang cari aman(*Hana yang keunoe keudeh & hana meunoe meudeh).
Beranikah kita memvonis jika salah satu peran yang dipilih tersebut adalah sebuah kesalahan total yang tak ada sedikitpun ruang kebenaran baginya?
Pernahkah kita membaca spanduk yang bertuliskan "Tuhan Telah Dibunuh"? sontak saja orang-orang menganggap kalimat tersebut adalah kalimat sesat. Maukah kita bertanya apa yang dimaksud si penulis? Padahal yang dimaksud disana ialah, kebanyakan orang tidak lagi berharap pada tuhannya, mereka lebih banyak menyembah atasan, menuhankan uang dan kekuasaan dijadikan berhala.
Boleh-boleh saja kita berpegang prinsip atas dasar penilaian pribadi, itu memang bagus adanya, tapi jangan menempatkan prinsip yang bukan pada tempatnya. kalau menyangkut akidah, itu baru wajib prinsipil dan tidak ada tawar menawar. akan tetapi jika menyangkut perihal selain dari akidah, pintu diskusi terbuka lebar, dan masih bisa dirundingkan kebenerannya.
Keyakinan adalah salah satu pondasi kuat bagi seorang dalam berfikir, keyakinan juga menyederhanakan pikiran dan mempermudah seseorang dalam bertidak.
Dikala orang mengajak minum khamar, tanpa berfikir panjang kita dengan mudah dapat menolaknya, itu karena kita memiliki keyakinan kuat kalau yang memabukkan itu haram. Ya, keyakinan menyederhanakan proses berfikir.
Hal yang perlu diingat ialah, tugas setiap kita menyampaikan bahan mentah, namun, kebenaran secara autententik ada pada diri pribadi masing-masing yang berhak mengolahnya..
Pernah anda mengakatai orang gila? Saya sarankan untuk menghindari prilaku demikian, sebaiknya kita lebih memilih bersyukur karena kita masih waras. Orang gila sesungguhnya menjadi contoh bagi yang waras. Tuhan, tiap-tiap menciptakan yang waras juga dengan mudah menciptakan yang gila. Dalam diri orang gila, terdapat contoh akan kebesaran pencipta. Bagaimana seandainya contoh itu diletak pada diri kita, dan menjadi contoh buat orang lain? Entah bagaimana rasanya. Na'uzubillah
Yang ingin saya pertegas disini adalah, jangan terlalu gampang mengatai orang jika belum memahaminya secara utuh dan mendalam. Kita belumlah sampai pada kesimpulan, jika otak masih berfikir. karena sesunguhnya perbedaan itulah yang menjadi keseimbangan hidup.
sumber fotopixabay/
Mari Menghentikan Kebencian dan Menyebarkan Kebaikan
Konten terbaru yang diposting oleh kurator Indonesia disini, saya pikir telah menjawab berbagai perdebabatan selama ini muncul. Sudah sepatutnya seorang pemimpin sebuah komunitas untuk berlaku netral dan menyeru kepada kebaikan dan sesegera mungkin menghentikan kegaduhan maupun ujaran kebencian.
Bisa dibayangkan, andai tuduhan semua orang harus direspon satu persatu, tentu ini sangat tidak mungkin, malah akan membuat kita semakin latah. Sikap seperti ini sangat patut untuk dipertahankan oleh seorang kurator, guna menghadirkan keteduhan.
Sumber Rezeki
Sampai detik ini kita masih menyakini dan akan terus menyakini, bahwa rezeki itu pemberian Tuhan, bukan dari seorang kurator. Hanya saja, agama telah menggariskan kepada kita dimana sumber rezeki itu didapat, salah satunya adalah dengan bersilaturrahmi. Percaya?
Ketika ada orang yang merasa diperlakukan tidak adil, maka jalan keluarnya bukanlah dengan cara mengunjing atau menebar kebenciaan. Tapi apa juga? Ikhlas. Percaya tidak ikhlas itu mendatangkan rezeki?
Kala yang diharap tak sampai, lalu memilih jalan mengunjing, maka kepuasan gunjingan itulah yang menjadi rezeki. Ketika harap tidak sampai namun ikhlas menerimanya, insya Allah rezeki akan datang dari berbagai penjuru dari sesuatu yang tidak kita duga-duga, dan semesta akan bersabda untuk menolong kita. Yakin? Lagi-lagi, keyakinan menyedarhanakan pikiran serta tindakan.
Terakhir saya ingin pertegas, postingan ini bukan untuk membantah atau membenarkan isi postingan sahabat kita . Terima atas dielaktika cerdas
, dan terimakasih kepada kurator atas nasehat baiknya kepada kita semua
Menulis adalah sebuah keabadian, jika kepingin namanya abadi dan dikenang sepanjang jaman, maka menulislah. Lantas, datang pihak lain bertanya, "anda sebenarnya ingin menulis atau ingin ditulis"? Han abeh-abeh meunyo talayani asumsi negatifhehe
Selaku tong kosong, saya akan terus bersuara nyaring untuk menyikapi, mungkin dengan cara itu yang berisi datang menasehati
Sungguh Indah, ketika kita dipertemukan dan dipersatukan dalam komunitas yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Marilah saling bahu-membahu membantu menuju kesuksesan bersama, *peu saban lupoe*- *lam baten sama rata, ta gayoeh beusama.. hayooeehhhh*
Created By: 
Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat
Salam Kompak Komunitas Steemit Indonesia
Semoga Tali Silaturrahmi Ini Terajut Menjadi Sebuah Ikatan Persaudaraan Yang Saling Memberdayakan