Selamat malam sahabat esteemian. Semoga anda semua dalam keadaan sehat selalu.
Terimakasih telah berkunjung ke blog saya, malam ini kita akan mendiskusikan tentang atitute kita terhadap lingkungan masyarakat. Sesuai dengan judul diatas "Jangan Menilai Sebuah Buku Dari Sampulnya".
Sahabat sekalian, manusia ini di ciptakan oleh tuhan sebagai makhluk yang lebih sempurna diantara makhluk lain, yaitu makhluk yang di bekali dengan nafsu dan fikiran. Manusia juga diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Dengan keragaman itu diharapkan manusia akan saling mengenal, menghargai kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan berinteraksi secara harmonis untuk tercipta kerja sama yang dapat menciptakan kehidupan yang bermanfaat manusia yang satu dengan lainnya. Dengan demikian akan hadir kepermukaan manusia-manusia yang sebaik-baiknya.
Sahabat steemian, yang menjadi tantangan kita dalam menjalin interaksi dalam kehidupan ini adalah dimana sulitnya mengenali sifat dan watak dari orang-orang yang terlibat dalam interaksi itu. Kita sering salah memprediksi tentang sifat dan watak seseorang dalam hubungan singkat, sifat dan watak aslinya baru akan muncul dan akan kita kenali setelah hubungan interaksi yang lumayan lama.
Seseorang yang bersifat dan berwatak baik akan menunjukkan sikapnya yang baik. Juga seseorang yang bersifat buruk dapat menunjukkan dirinya sebagai orang baik, namun hanya sementara waktu.
Lalu bagaimana menemukan watak asli dari seseorang dalam hubungan sosial anda?
Sebagaimana kata bijak pada judul diatas, "Jangan Menilai Sebuah Buku Dari Sampulnya". Kata-kata Itu saya pikir dapat menjadi suatu warning untuk tidak mengambil keputusan yang cepat tentang seseorang. Kita tidak diharapkan memilih-milih teman, sebab dikhawatirkan akan salah pilih, namun kita boleh menjauhi teman yang tidak ber akhlak baik.
Lebih lanjut, untuk menemukan watak asli dari seseorang itu tidak akan didapat dari suatu interaksi singkat, tapi butuh waktu dan proses untuk menemukan penampakan sifat aslinya.
Sifat yang tampak pada pandangan pertama sering kali sebagai pencitraan. Maling dapat saja mencitrakan diri sebagai orang mulia, namun ia akan berubah kembali jadi maling ketika ada kesempatan.
Demikian sahabat sedikit sharing dari saya malam ini, semoga ada manfaatnya.
Salam hangat selalu,