Tauke atau kepala pekerja memiliki peukateun yang tak habis dibaca dalam waktu sekali duduk. Membaca perangai yang tersirat di balik seorang tauke (bos) sama halnya dengan membaca buku novel 300 halaman.
Bersama penampilan yang maskulin, rambut tersisir rapi, celana dan baju yang bermerek, jam tangan serta sepatu yang berkualitas Eropa, seorang tauke sangat dihargai oleh para pekerja.
Sebelum berbicara lebih jauh, Abu Thailand pernah membahas tentang dua golongan tauke pada perbincangan hangat di warkop Om Maheng, pertama Tauke Resmi (sejati), kriteria ini sangat disiplin dalam aturan bekerja. Beliau tidak sungkan-sungkan dalam memberhentikan para pekerja yang berbuat salah. Meskipun sudah hampir 25 tahun lebih mereka saling bekerja sama, tiba waktunya berhenti, harus dipecat.
Abu Thailand mengalami kesulitan dalam membaca peukateun Tauke Resmi. Peukateun yang terlihat hanyalah penampilan tauke yang selalu rapi dan bersih dengan setelan baju masuk ke dalam dipadu tali pinggang merek crocodile (buaya).
Golongan kedua yaitu tauke nonresmi (tauke tradisional). Nah pada kriteria ini, Abu Thailand menemukan rincian peukateun paling banyak dari yang diperlihatkan tauke nonresmi kepada para pekerja dan lingkungannya. Terkadang, kunci mobil sengaja dibiarkan nongol ke luar saku, agar para pekerja melihat jelas tipe mobil yang dikendarainya.
Menurut hipotesis Abu Thailand, penampilan tauke nonresmi tidak serapi tauke sejati. Mungkin latar belakang tentang bidang yang dikepalai oleh dua tauke tersebut berbeda-beda.
Tauke tradisional tidak begitu mempertajam penampilan. Kadang-kadang dengan sarung pun jadi. Tentang pendapatan? "Bek ragu keu peng yang na bak toke!" (jangan pernah ragu terhadap penghasilan tauke) Jawab Abu Thailand di hadapan jamaah warkop Om Maheng.
Di akhir pertemuan, seorang jamaah bertanya, "Abu, kiban cara andai nama gobnyan toke, tapi gobnyan sendiri kon toke?"
"Oh! Berarti bak gobnyan hana peukateun" Sanggah Abu. Jamaah mengangguk.