Sesungguhnya 5 Februari adalah salah satu hari penting di keluarga kami. Tapi saya baru ingat tanggal 5 Februari itu sehari kemudian yakni pada 6 Februari. Itu pun teringat tanpa sengaja saat mengingat-ingat tanggal berapa untuk keperluan kerjaan kantor. Begitu ingat sudah lewat sehari, segera saja rasa sedih sekaligus bersalah menyelinap.
Taman Cinta di Bengkulu | Foto: .
Saya tidak akan menyebutkan dulu mengapa 5 Februari itu menjadi salah satu hari penting. Bacalah tulisan ini hingga akhir jika ingin tahu. Sementara yang dapat saya katakan adalah jangan lupakan moment-moment penting dalam keluarga kita masing-masing. Sekilas itu sederhana tapi sungguh itu menjadi cara terbaik untuk memberi perhatian dan ketulusan kepada keluarga.
Tentu saja perhatian itu tidak perlu dengan cara berlebihan. Tak harus punya uang banyak baru bisa memberi perhatian. Tak perlu memberi benda-benda mahal. Bahkan kadang tak perlu dengan memberi benda-benda atau hadiah. Sebuah ucapan tulus sudah cukup -- baik yang disampaikan langsung maupun lewat pesan singkat SMS, massenger atau media sosial. Sama saja, sama nilainya. Terpenting tulus memberinya.
Bukan hanya kepada keluarga, juga kepada kawan-kawan baik. Ucapan bukan sebaris kalimat basa-basi. Selain sebagai bentuk perhatian ada kalanya ucapan adalah bentuk simpati dan dukungan. Terutama jika kawan-kawan kita itu sedang menghadapi kesulitan dan musibah. Ucapan dan kata-kata bernada positif akan menjadi penguat baginya. Akan menjadi obat dan pelecut agar ia menjadi lebih kuat dan bersemangat.
Lebih jauh, tanda simpati itu sekaligus akan lebih merekatkan hubungan pertemanan dan persahabatan. Jika dalam keluarga, itu akan lebih merekatkan dan memperkuat kasih sayang sesama keluarga. Jika kita lupa dengan momentum-momentum penting itu bukan saja membuat sedih anggota keluarga yang kita sayangi sekaligus membuat dia merasa tidak diperhatikan. Lebih jauh itu membuat anggota keluarga kita menjadi sedih.
Bukan cuma itu. Hal-hal sederhana lain juga patut kita perhatikan, misalnya mengantarkan anak kita ke depan pintu untuk sekolah. Atau membantunya menyusun buku-buku di tas agar rapi. Barusan, Edgina Aisha, anak saya yang masih kelas V SD, meminta saya mengeluarkan sepeda. Saya pun segera melakukannya meskipun saya tahu ia biasa mengeluarkan sendiri sepeda dari teras. Tapi itu adalah hal sederhana yang membuat dia merasa punya orang-orang yang menyayanginya. Itu adalah hal-hal sederhana dalam hidup kita tapi besar maknanya. Perhatian tak harus mahal. Tak harus mewah. Tak harus berkelas. Banyak hal sederhana bisa kita lakukan sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang. Itu berlaku tak hanya di keluarga, tapi juga dalam pergaulan dan berkehidupan.
Sebuah senyum atau sapa kepada seorang teman akan sangat membahagiakan. Tersenyumlah meskipun apa yang sedang kita hadapi tak sesuai dengan apa yang kita pikirkan, bahkan tidak sesuai dengan suasana hati kita. Tapi senyum itu adalah energi positif yang akan membuat semesta ikut menebarkan energi positifnya sehingga hidup menjadi lebih menyenangkan. Lebih mencerahkan. Lebih membahagiakan.
Sebaliknya, sikap cemberut, emosian, dan marah-marah akan membuat energi negatif menebar dan orang dan dunia pun akan memberi respon negatif pula. Kita akan kehilangan teman jika sering emosian dan marah-marah. Bahkan orang yang kita sayangi pun bisa menjauh jika kita terus memunculkan energi negatif, salah satunya sikap dan laku emosian dan marah-marah tadi. Tidak percaya? Coba ingat-ingat peristiwa yang pernah kita alami dan renungkan apa penyebabnya.
Tak jarang hal-hal sederhana itu bisa mengubah hidup kita. Bisa membuat kita menjadi lebih bahagia. Bisa membuat kita menjadi lebih banyak kawan. Membuat kita menjadi lebih nyaman dalam pergaulan. Banyak kawan dan sahabat tentu tak cuma bisa membuat kita makin bahagia juga bisa memudahkan urusan kita. Mereka bisa menjadi penolong kita jika suatu saat membutuhkan bantuan. Mereka bisa menjadi penguat ketika kita sedang sulit dan lemah. Menjadi pegangan untuk bangkit ketika kita sedang jatuh. Jadi jangan kecewakan siapa pun. Jangan bikin sedih siapa pun.
Semoga salah seorang anak saya, Rizki Seutia, yang berulang tahun ke-16 pada 5 Februari 2018 tidak merasa sedih. Sungguh, saya betul-betul tak ingat. Memang hari itu saya sedang berada di luar kota untuk sebuah urusan, tapi ketika tiba di rumah menjelang tengah malam ia masih makan mie instan sama kakaknya, . Celakanya kakaknya pun tak ingat adiknya ulang tahun hari itu. "Kakak baru ingat tadi sore," kata Fira tadi malam.
Begitu ingat pada 6 Februari sore, saya pun berniat pulang lebih awal. Bukan ingin memberi hadiah, apalagi hadiah mahal, tapi membawa makanan kecil dan memberi sepotong ucapan. Namun ketika saya sampai di rumah Rizki sudah lelap. Kakaknya lalu membangunkan dengan sedikit menggoda. "Rizki, bangun untuk sekolah. Mau sekolah gak," kata kakaknya sambil menggugah tubuhnya. Ketika dia membuka mata, lagu "Selamat ulang tahun" pun kami suarakan.