Saya beberapa kali ke Padangpanjang, Sumatera Barat, untuk sejumlah kegiatan. Suatu kali saya menjadi pemateri untuk workshop jurnalistik seni di Institute Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Kali lain menjadi pembicara peluncuran buku puisi. Pada saat lain lagi menjadi pembicara sebuah seminar pendidikan di Lubuk Alung, tak jauh dari Padangpanjang.
Foto: Wikipedia
Setiap ke Padangpanjang, saya selalu singgah di rumah Sulaiman Juned , sastrawan dan teaterawan asal Aceh, yang mengajar di ISI Padangpanjang. Setiap ke sana, saya tidak pernah menginap di hotel, tapi selalu menginap di rumah doktor teater lulusan ISI Solo itu. Bang Soel -- begitu kami biasa menyapa seniman yang rendah hati ini -- pasti marah kalau menginap di hotel.
Rumah Sulaiman Juned selalu ramai. Ada banyak seniman muda selalu di sana. Sebagian adalah mahasiswanya di ISI Padangpanjang dan sejumlah kampus di wilayah Sumatera Barat. Ia memang mengajar di sejumlah tempat, tak hanya di ISI. Mereka tampak bebas, seperti rumah mereka sendiri. Setiap waktu makan, Kak Titien, yang saya kenal sejak di Aceh, selalu masak seperti akan ada kenduri. Maklmum, "anak-anaknya" banyak.
Sulaiman Juned menganggap para seniman muda itu adalah anak-anaknya. Mereka tergabung dalam Komunitas Seni Kuflet yang didirikan Sulaiman bersama sejumlah seniman penting Sumatera Barat. Di situlah, ia berbagi ilmu keseniannya dengan sukarela dan sukacita, di samping di kampus. Mereka sering latihan di seputaran rumah.
Mereka latihan banyak cabang seni, sesuai minat masing-masing. Ada yang latihan didong, baca puisi, menulis puisi, hingga berteater. Suatu kali, saya sempat merekam mereka latihan didong -- yang dipadukan dengan kesenian Padang -- untuk dipentaskan di sebuah acara. Rekaman itu kemudian menjadi tugas film pendek ketika saya kuliah di Pascasarajana Institut Kesenian Jakarta.
Puisi berikut ini, dalam bahasa Indonesia berjudul Dari Didong Hingga Saluang, sebelumnya untuk kegiatan Pertemuan Penyair Asia Tenggara di Padanpanjang pada 3-5 Mei 2018. Puisi itu pun dimuat di buku antologi puisi penyair Asia Tenggara berjudul Eputaf Kota Hujan yang diterbitkan dalam rangka kegiatan tersebut. Tentu saja, puisi itu saya tujukan untuk Sulaiman Juned.
Versi bahasa Indonesai puisi ini juga pernah dimuat di sebuah media masinstream. Namun, kali ini saya menyajikannya dalam Bahasa Inggris. Mengapa? Pertama, agar pembaca nanti membaca puisi itu dalam Bahasa Indonesia di buku yang saya sebutkan. Kedua, karena pernah dimuat di media, takutnya nanti dikunjungi "Dik Chettah".
Sungguh, saya malu dikunjungi dia, haha. Maka itu, nikmati saja puisi ini dalam bahasa Inggris, semoga tidak terlalu kacau dan tetap bisa dinikmati.
FROM DIDONG TO SALUANG
along the way, you spread green forest,
the voice of the azan from the surau following the verse and praises
from diniyyah princess, light is blooming in darkness
lit from rumah gadang, in every corner,
together with bansi, saluang, tabuik drums, to serunai
we say a prayer, you say, to the One God
I stand behind your house, imagining:
poems like fireworks that explode in a mountain mist
replacing the chicken crows in the villages
that morning, I faced to Mount Tandikek:
see a fighting fighter with a naked toe
"I am a lava flame in a volcano," he said.
every afternoon, you unfurled the almanac and marked
one by one the numbers
this is a path of solitude, you say, only eternal in the dark
we had time to talk while playing the ball in the morning blind
about the coffee trees that grow in your hair
mengekalkan poem didong, pmtoh, until seudati
sometimes at the end of the night, you're
a hermit sings pepongoten whipping in bebesan
but sometimes it looks like seudati from kampung usi
such as the laron, the porch is always full of graffiti,
old newspapers, as well as clustered letters,
playing hide-and-seek and shivering in the window
"We are a winding road in Lubuak Aluang up to
Anai Valley and Batirai Stone Cave," you say.
"You are a nomads strong as mangrove."
in the villages, I always see didong and seudati
played in the accompaniment of bansi and saluang,
and you become my teungku called engku!
Depok, 2018