“Lahdzah!” Abrar menghentikan langkah Habibul yang hendak mengganti baju, “Limaza asyummu raih sobun ekonomi min badanik?” ternyata Abrar mencium bau sabun ekonomi dari badan Habibul. Makanya ia mempertanyakannya.
Wajah Habibul seketika langsung memerah menahan malu. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Ma ‘indi nuqud akhor liasytaryias sobun,” ternyata Habibul terpaksa mandi menggunakan sabun ekonomi yang biasa digunakannya untuk mencuci pakaian. Ia tak memiliki uang untuk membeli sabun mandi.
“Masha Allah, Akh! Falimaza maa qulta ilayya?” seketika Abrar merasa sedih. Pengakuan jujur dari teman sekamar yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri seketika menyayat hatinya. Padahal jika Habibul mau jujur kepadanya tadi, maka ia akan membagi sabun mandinya dengan senang hati.
“La baksa bih. Fa ana faqad astahi an athluba ma’aka, ya Abrar!” Habibul memilih tabah dengan keterbatasan ekonomi yang dimiliki oleh keluarganya. Bahkan untuk memberinya jajan lebih untuk membeli sabun mandi keluarganya tak sanggup. Mencari sesuap nasi saja terasa sangat sulit bagi keluargnya. Karenanya ia lebih memilih menerima semua keterbatasan ini ketimbang meminta-minta kepada orang lain. Walaupun itu sahabatnya sendiri.
“Ya Allah, Habibul. Kam sanatan nahya ma’an fi hadzal ma’had? Nahnu ba’dhuna ba’dhan kamisili usratun qorib. Fa ‘adatan ana daiman athluba ma’aka kulla syain ma ‘indi. Falimadza anta al’an tastahi hakadza an’athluba ma’i?” Abrar memengang erat bahu Habibul. Meyakinkannya bahwa mereka satu sama lain seperti saudara sendiri. Jadi tak perlulah malu untuk meminta hal sepele seperti ini, “Fala yajuz an taqul hakadza limaratin ukhra. Afahamta anta?” kali ini ia sudah menatap mata Habibul tajam.
“Masha Allah, syukran akh liannaka turid an tusa’idini,” mata Habibul mulai berair. Keterbatasan ekonomi keluarganya secara tidak langsung turut menekan batinnya, “Na’am, insha Allah lan a’uda limatin ukhra,” Habibul memeluk Abrar erat. Ketulusan Abrar untuk membantu terpancar jelas dari raut wajahnya. Mungkin ia tak akan menemukan sahabat seperti ini di luar sana.
bersambung ...