Lelaki itu terlahir tidak sempurna. Masri namanya. Usianya sudah lebih 40 tahun. Meski Ia mengalami cacat fisik, baginya bukan halangan untuk terus bekerja demi keluarga. Tak pernah Ia mengeluh. Bahkan, saban hari ia tampak begitu bersemangat dan gigih. Lelaki ini sudah 20 tahun menjadi pedagang kaki lima.
Selama itu Ia menjadi pedagang jam sekaligus sebagai tukang jam yang siap menjual jasa untuk memperbaiki jam yang rusak. Ia tampak cekatan memperbaiki jam dengan sebelah tangannya. Iya, hanya sebelah tangan, karena tangan kanannya tidak utuh.
Tak terlihat peluh kelelahan maupun gurat kepedihan di wajahnya. Ia selalu tersenyum, bila ada yang bertanya tentang hidupnya. Ketekunannya sejauh ini selalu mampu memenuhi kebutuhan istri dan tiga putra-putrinya. Mereka menempati sebuah kontrakan seharga Rp5 juta per tahun.
Saya kagum pada lelaki ini. Ia tetap menjadi seorang ayah dan suami yang selalu bertanggung jawab pada keluarganya. Justru ada banyak laki-laki yang sempurna secara fisik, namun tak seperti Masri.
Masri telah memberi pelajaran penting bagi saya, bahwa kondisi fisik bukan alasan untuk mengukur seseorang.