Sebuah tradisi yang masih terpelihara dengan baik dalam pesta perkawinan di Aceh adalah melengkapi bawaan pengantin pria (linto) dengan serangkai sirih. Harganya memang tak seberapa, tapi bawaan sirih ini sangat penting dan bernilai sakral dalam tradisi pengantinan.
Dalam beberapa kasus, pernah terjadi rombongan pengantin pria (linto) alpa membawa sirih dalam antaran, akhirnya terpaksa pulang lagi untuk melengkapi. Pasalnya, pihak pengantin perempuan (dara baroe) enggan menerima rombongan tersebut.
Persoalan mahar dan aneka bawaan lainnya boleh saja lengkap selengkap-lengkapnya, tapi bila sirih tak disertakan di dalamnya, maka semua antaran tersebut menjadi apkir alias tertolak. Begitulah tradisi atau adat istiadat yang telah terpelihara sejak dahulu kala.
Proses merangkai Sirih di rumah linto biasanya dilakukan pada malam hari sebelum acara antar pengantin. Umumnya dilakukan oleh kaum ibu para tetua kampung, tapi ada juga oleh kaum bapak atau Teungku. Tentu saja tidak dilakukan dengan asal-asalan, akan tetapi turut melewati sejumlah SOP untuk memungut kebaikan dan keberkahan.