"Pucuk Jepang" begitulah kami masyarakat Gayo menyebutnya. Sayur favorit yang sangat disukai di kalangan kami masyarakat Gayo. Teman dari Malang menyebutnya "Siem", sedangkan teman dari Ngawi menyebutnya Jepan. Sayur favorit ini mempunyai sensasi yang luar biasa jika dinikmati dengan cecah (sambel mentah). Apalagi "cecah terong angur" (sambel mentah terong belanda).
Bagi anak rantau, sayur ini merupakan salah satu sayur yang dirindukan. Karena di daerah selain dataran tinggi tanoh Gayo jenis sayuran ini kurang diminati. Oleh karena itu, pucuk jepang sulit ditemukan di daerah perantauan. Saya juga sering merindukan sayur "pucuk jepang" ketika masih duduk di bangku kuliah. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk melepas rindu dengan sayur ini adalah dengan cara masak dan makan bersama di asrama Gayo IPPEMATANG Malang pada saat itu.
Pucuk jepang yang segar dipetik dari perkebunan di daerah Batu. Karena penduduk di sana kurang meminatinya, maka pemilik mengizinkannya untuk dipetik. "Pucuk jepang" pun dipetik, dimasak, dan dimakan dengan lahap sambil melepas rindu.
"Pucuk Jepang" juga mempunyai keistimewaan. Salah satunya adalah jika ada salah seorang dari kami yang tidak menggunakan bahasa daerah Gayo di lingkungan asrama disebut "lagu gere pernah mangan taruk". Artinya seolah-olah orang tersebut tidak pernah mencicipi nikmatnya sayur "pucuk jepang".
Sampai saat ini, sayur ini masih sangat diminati. Termasuk saya dan teman-teman mengajar. Sangking digemarinya sayur ini, salah satu teman kami bahkan menyebutnya sayur "PJ" alias PUCUK JEPANG.