Selamat Pagi sahabat
Hi saya Nuni sekarang umur 57 tahun. Setelah memutuskan bercerai, rasanya campur aduk antara bahagia dan sedih. Bahagianya rasa was2 setiap hari sudah berakhir. Saya sempat merasa depresi hampir satu tahun sampai akhirya kita berpisah. Part Sedihnya saya merasakan saya gagal mempertahankan perkawinan ini. Waktu itu kakaknya datang dan mengusulkan kita berpisah atau cerai secara hukum islam. Mungkin ini jawaban dari Allah yang setiap hari saya panjatkan. Akhirnya kita berkomitmen kita berpisah dengan menjaga rulesnya tdan masih satu rumah demi anak . Ternyata beliau tidak bisa berkomitmen seperti itu, dengan berjalan nya waktu. Akhirnya dengan berat hati saya minta beliau keluar dari rumah.
Mulailah saat itu perjalanan ku sebagai ibu single mother dimulai. Bayangkan saya dengan 3 anak yang masih kecil- kecil mulai hidup baru. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk menghidupi ketiga anakku. Saya tidak bekerja. Pada waktu itu ada tetangga minta tolong antar jemput anaknya ke sekolah. Dibayangkan saat itu sudah membawa 3 anak dengan sepada motor ditambah satu lagi menjadi 4 anak sekali jalan pergi dan pulang kesekolah.
Mungkin hanya beberapa bulan mantan suami memberikan uang untuk anak-anak dengan nominal sangatlah kecil sekali. Dan Waktu itu saya harus membayar melanjutkan kredit motor, tagihan listrik, telepon dan air dan hidup sehari-hari. Bayangkan saya harus membayarkan itu semua dengan hati pilu saking sedikitnya uang di tangan. Beruntung saya dibantu mama saya yang sudah pensiunan janda dan kakak-kakak. Tapi hal ini hanya temporary, mreka mmpunyai hidup sendiri dengan keluarga. Jatuh bangun dengan hidupku saat itu sampai suatu saat ai PAM ku disegel karena belum bayar. Dan aku harus membayar kredit sepeda motor. Menangislah aku sejadi-jadinya. Tuhan aku harus bagaimana?? Ternyata Tuhan selalu meberikan jalan.
Kasihan anak-anakku harus hidup sengsara denganku. Setiap pagi kadang makan bubur ayam masing masing setengah mangkok. Aku berusaha untuk menyenangkan anak-anak. Pergi jalan-jalan di mall untuk melihat dan beli dua nasi goreng dan es teh. Melihat anakku bahagia saat itu membuatku hati sedih.
Suatu hari saat aku kesulitan keuangan dan pada saat itu aku minta bantuan sepupuku. Saat itu perjalanan hidupku berubah lagi. Suami sepupuku selain membantu keuangan saat itu, di menawarkan pekerjaan untukku. Waktu itu mereka sempat mengajakku untuk datang ke Jambi untuk medapatkan pekerjaan. Hatiku galau saat itu belum siap untuk berpisah dengan anak-anak ku. Aku minta pulang dulu untuk memikirkan semua.
Pulanglah aku kembali dengan rutinitasku. Tapi aku tidak mau seperti ini. Hdup dalam kekurangan dan belas kasihan dari sekitarku. Suatu saat suami sepupu menelponku lagi. Da begitu gigih untuk mebantu dan meyakinkanku . Ini ksempatan terakhirku katanya. Ada yang akan bantu kerja di oil company di Jambi. Dengan usiaku saat itu 39 tahun apakah ada yang mau nerima aku kerja?
mulai saat itu aku berpikir dan berbicara dengan anak-anak ku. Siapkan mental pada saat itu dan mulai packing isi rumah, aku gak tahu tiba-tiba saja ide itu
Berjalan seperti ada yang menjalankan. Aku putuskan untuk memberi kabar Suami sepupuku. Aku mau dan siap untuk bekerja. Tunggu sampai anak- anak terima raport dan sambil aku bebenah dan packing barang darirumah kecilku. Dimulai mencari sekolah untuk anakku, dan membawa barang-barang sedikit demi sedikit kerumah ibuku.
Saat nya sudah tiba, mantap ataupun tidak aku harus pergi. Ini untuk masa depanku dan anakku. Aku harus kuat jauh dari anak2ku. Akhirnya keberangkatan sudah ditentukan. Aku pergi ke Jambi untuk mengapai mimpi anak-anak ku.
Aku bekerja di sebuah perusahaan oil company di Jambi. Bekerja sebagai clerk Dan mayoritas pegawainya adalah laki-laki . Berjalanya waktu Alhamdulillah hidupku mulai membaik. Setiap 3 bulan pulang untuk anak-anak dan ibukku